Menpora Milenial dan Gimik Politik

waktu baca 4 menit
Dito Ariotedjo menandatangani berita acara sebagai Menpora disaksikan Presiden Joko Widodo.

KEMPALAN: Dito Ariotedjo mencatat sejarah baru di Indonesia sebagai menteri paling muda ketika dilantik menjadi menteri pemuda dan olahraga, Senin (3/4). Dito yang berusia 32 tahun menggantikan Zainudin Amali yang berusia 61 tahun.

Dito lahir pada 25 September 1990 dan sudah terjun ke dunia politik pada usia 26 tahun dengan bergabung partai Golkar. Dito menjadi ketua AMPI (Angkatan Muda Pembaruan Indonesia) yang menjadi salah satu onderbouw Golkar paling bergengsi di masa Orde Baru.

Dibanding semua menteri yang sekarang ada di Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo, Dito menteri yang paling muda dan bisa memecahkan rekor MURI (Museum Rekor Indonesia). Dalam usianya yang kepala 3 Dito bisa disebut sebagai menteri milenial satu-satunya di kabinet. Rekor sebelumnya dipegang oleh menteri pendidikan dan kebudayaan Nadiem Makarim yang sekarang berusia 38 tahun.

Tetapi, di lingkungan negara-negara ASEAN Indonesia masih kalah oleh Malaysia yang mempunyai menteri olahraga lebih muda dari Dito. Dialah Syed Saddiq bin Syed Abdul Rahman yang lahir pada 6 Desember 1992. Saddiq sudah dua tahun menjadi menteri olahraga. Ia dilantik pada usia 28 tahun, empat tahun lebih muda dari Dito ketika dilantik. Saddiq memulai karir politiknya dengan mendirikan Partai Pribumi Bersatu Malaysia, bersama Mahathir Mohamad, politisi senior yang pantas menjadi kakek buyutnya. Saddiq terpilih menjadi anggota DPR Malaysia alam usia 26 tahun.

Kemunculan Dito di kabinet Jokowi menghidupkan kembali keinginan Jokowi untuk melibatkan anak-anak muda dalam pemerintahan. Di awal masa kepresidenan periode kedua Jokowi merekrut sejumlah anak muda sebagai penasihatnya. Proyek eksperimental ini tidak banyak membuahkan hasil, karena beberapa staf kepresidenan dari kalangan milenial mengundurkan diri. Yang tersisa sekarang tidak pernah lagi terdengar kiprahnya.

Sederet sosok anak muda menjadi bagian dari wajah pemerintahan Presiden Joko Widodo. Mereka ditempatkan pada jabatan-jabatan strategis, mulai dari menteri hingga staf khusus. Selain Nadiem Makarim ada Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Wamenparekraf) Angela Tanoesoedibjo.

Jokowi mengangkat lima staf khusus presiden milenial yaitu Putri Tanjung, Ayu Kartika Dewi, Angkie Yudistia, Billy Mambrasar, dan Aminuddin Ma’ruf. Awalnya , presiden menunjuk 7 stafsus milenial pada awal pemerintahan periode kedua.

Dua stafsus kemudian mengundurkan diri. Mereka adalah Adamas Belva Syah Devara dan Andi Taufan Garuda Putra. Adamas Belva yang merupakan pendiri startup Ruangguru mundur dari lingkaran Istana pada 21 April 2020. Ia pamit usai terjadi polemik penunjukan Skill Academy by Ruangguru sebagai mitra Kartu Prakerja. Kala itu, banyak pihak mendesak Belva mundur demi menghindari konflik kepentingan antara perusahaannya dengan posisinya di pemerintahan.

Tak lama, Andi Taufan juga mengundurkan diri karena tersandung polemik konflik kepentingan. Polemik itu muncul setelah ia menyurati para camat untuk menitipkan perusahaannya, PT Amarta Fintech, dalam program penanggulangan pandemi Covid-19.

Setelah surat itu bocor ke publik, Andi meminta maaf dan mengaku telah menarik surat itu dan menyatakan mundur. Sekarang tersisa lima stafsus milenial. Memasuki tahun terakhir pemerintahan Jokowi peran kelimanya makin sayup nyaris tak terdengar.

Penunjukan selebritas milenial Maudy Ayunda sebagai juru bicara pemerintah dalam Koferensi G20 di Bali 2022 juga menuai banyak kecaman. Ia dianggap tidak cukup mempunyai kemampuan yang mumpuni untuk menghandle even internasional sekelas G20, yang diliput oleh media-media internasional secara luas.

Sebagai representasi wajah Indonesia di dunia internasional, pengalaman dan kapabilitas selebritas serta penyanyi berusia 27 tahun itu dipertanyakan. Kendati penunjukan Maudy terbilang masuk akal untuk menjangkau anak muda, namun, Indonesia butuh sosok yang lebih representatif. Dalam kasus ini, penggunaan anak muda lebih banyak sebagai gimik ketimbang sebagai fungsi strategis.

Penunjukan dan penempatan milenial dalam pemerintahan kurang efektif, karena anak-anak muda itu tidak bisa bebas berekspresi karena hierarki dan birokrasi yang ketat. Anak-anak muda tidak bisa bebas berkreasi sehingga cenderung tunduk terhadap binaan para elite birokrat dari generasi X dan baby boomers.

Dalam posisi itu, para milenial hanya sekadar menjadi etalase untuk menampung aspirasi untuk mengikuti tren transisi demografi yang sering disuarakan oleh pemerintah. Seandainya anak muda itu ditempatkan pada bisnis BUMN berbasis startup, mungkin bisa lebih efektif karena karakter milnenial yang melek teknologi.

Pengangkatan sejumlah sosok milenial di sekitar Jokowi kelihatan sekadar gimik untuk menggaet dukungan anak muda. Kalau serius membina kader-kader masa depan, anak-anak muda itu harus diperkenalkan kepada lingkungan politik yang beradab dan bervisi sesuai dengan aspirasi milenial.

Penunjukan Dito bisa menjadi test case bagi keseriusan Jokowi untuk melibatkan anak-anak muda menjadi kader pemimpin yang berkualitas. Kementerian Pemuda dan Olahraga yang dipegang Dito bukan posisi strategis, dan bisa disebut sebagai posisi pinggiran. Tetapi, Dito bisa menjadikan posisinya itu punya peran strategis, kalau dia memahami peran anak muda dan peran olahraga dalam membangun karakter bangsa.

Satu pesan untuk Menteri Dito, supaya menurunkan berat badannya. Bukan bermaksud body shaming, tetapi dari foto yang beredar saat pelantikan terlihat Dito oversized. Beratnya terlihat lebih dari 100 kilogram, dan masuk kelas super-heavy weight dalam olahraga tinju. Sebagai menteri pemuda dan olahraga tampilan Dito bisa membawa aura kurang positif bagi anak-anak muda milenial.

Sebelum mengolahragakan masyarakat sebaiknya Menteri Dito mengolahragakan dirinya sendiri. ()

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *