Balon Putih

waktu baca 16 menit
Politikus Partai Republik Marjorie Taylor Greene membawa balon putih ke sidang DPR untuk menyindir lambatnya pemerintah AS menembak balon udara milik Tiongkok yang terang di willayah udara AS. (FOTO: TWITTER @kadiagoba)

KEMPALAN: KALAU pun ada yang membawa balon itu bukan untuk merayakan HUT ke-6 (atau ke-5?) Disway hari ini. Yang membawa balon itu Marjorie Taylor Greene. Warna putih. Dibawa masuk ke gedung DPR Amerika Serikat. Dia pegang tali balon besar itu. Balonnya sendiri menjulang di atas kepalanyi.

Semua anggota DPR dan Senat memenuhi ruang sidang kemarin: mendengarkan pidato tahunan State of Union. Marjorie ingin mengejek Presiden Joe Biden dengan balonnyi itu. Biden dianggap lambat mengambil keputusan menembak balon Tiongkok itu.

Balon itu akhirnya memang ditembak jatuh. Dua pesawat tempur AS yang menembaknya dari ketinggian 55.000 kaki. Serpihan balon itu jatuh ke laut dekat pantai selatan Carolina.

“Bukan lambat ambil putusan. Tunggu dulu sampai balon itu bergeser ke timur. Sampai posisinya di atas laut”. Begitulah keterangan dari pemerintah Biden. “Kalau ditembak saat masih di atas daratan, khawatir membahayakan penduduk,” tambahnya.

Reruntuhan balon itu diambil dari laut. Yang mengambil armada kapal angkatan laut Amerika. Belum ada penjelasan apa saja yang ditemukan di laut dangkal itu. Yang diperlihatkan baru lapisan luar balon warna putih. Dari situ bisa disimpulkan bahwa ukuran tinggi balon tersebut sampai 60 meter.

Kementerian pertahanan Amerika lantas membuat sambungan komunikasi dengan partnernya di Tiongkok. Yang dihubungi tidak mau mengangkat telepon. Tiongkok memang marah kenapa balon itu ditembak jatuh. Tiongkok sudah menjelaskan balon itu berstatus sipil. Untuk ilmu pengetahuan. Khususnya untuk menyelidiki cuaca.

Tiongkok pun mengungkit kejadian tahun 2019. Yakni ketika pesawat pengintai Amerika terbang di atas wilayah Tiongkok. Tertangkap basah. Tiongkok tidak menembak jatuh pesawat tersebut.

Yang dilakukan Tiongkok saat itu: mengirim beberapa pesawat tempur untuk mengapit pesawat pengintai Amerika itu. Lalu memintanya mendarat.

Amerika minta agar pesawat itu dikembalikan. Tiongkok masih belum melepaskannya. Harusnya, kata Tiongkok, Amerika tidak menembak balon itu. Tapi tekanan politik di dalam negeri Amerika luar biasa. “Kalau saja presidennya Donald Trump, balon itu langsung ditembak,” ujar Greene.

Rupanya Greene kurang cermat. Di masa pemerintahan Trump diketahui ada tiga balon Tiongkok melintasi Amerika. Tidak ada yang ditembak jatuh. Begitulah media Amerika memberitakan berkali-kali.

Saya pun menghubungi Sahabat Disway yang ahli pesawat terbang dan balon udara. Ia tinggal di Alabama, Amerika Serikat. Ia beberapa kali datang ke Indonesia. Termasuk ke rumah saya.

Ia bercerita kini perusahaan pesawat terbang terkemuka, Airbus, juga memproduksi balon.

Anda sudah tahu: Airbus juga punya industri pertahanan dan militer. Yang memproduksi balon udara adalah Airbus yang di bidang pertahanan dan militer.

Pesawat balon udara punya banyak kelebihan dibanding pesawat militer. Tentu ada juga kelemahannya. Ia pun menyarankan agar Indonesia juga mulai melirik balon. Beda dengan pesawat balon bisa tinggal menetap di suatu lokasi. Sampai pun bertahun-tahun. Ini sangat tepat untuk menjaga laut Indonesia yang begitu luas.

Mengapa balon Tiongkok itu bisa terbang sampai melintasi Amerika? “Banyak hal yang bisa menjadi penyebab. Bisa karena ada masalah di autopilot, engine, dan electrical,” katanya. “Bisa juga sensor location-nya error,” tambahnya.

Ia mengatakan teknologi balon Tiongkok sudah sangat maju. Di Airbus masih menggunakan bahan bakar fosil. Tiongkok sudah pakai solar cell. “Airbus baru akan memulai dengan solar cell,” katanya.

“Di Airbus kini sedang dalam masa peralihan untuk meninggalkan energy fosil ke energi hidrogen. Tujuannya untuk mengurangi CO2,” ujar sahabat Disway itu.

“Langka berikutnya baru menuju ke solar cell. Khususnya di proyek LTA (Lighter Than Air) yang relatif lebih kecil kebutuhan energinya,” katanya.

Energi yang didapat dari solar cell sama dengan energi yang dipasok dari baterai. Yakni berupa listrik untuk menggerakkan motor seperti di Tesla.

Setidaknya, Amerika kini dapat info itu: teknologi balon Tiongkok sudah menggunakan solar cell. Itu berarti berat balon tersebut sudah sangat minimal. Amerika juga mengetahui bahwa balon tersebut ternyata diluncurkan dari pulau Hainan. Dari sinilah Amerika menduga bahwa balon tersebut ”balon militer yang diberi baju sipil”. Hainan adalah pangkalan angkatan laut Tiongkok yang terbesar.

Di bidang balon pun Tiongkok sudah di barisan paling depan. (*)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan*
Edisi 8 Februari 2023: Abad Banser

bagus aryo sutikno
Andai benar kemarin SDA kedatangan 1juta warga nahdliyin maka kira2 ada 1jt liter urin yg terbuang. Kalau pakai truk tangki 5000L butuh 200 unit truk tangki. Atau 50 unit truk tangki tapi over. rate 4x. Ndak kelihatan tho truk tangki wira-wiri membuang sampah urinoir. SO YOU KNOW dimana urin itu dibuang. Tapi saya positif thinking. Mungkin kali ini urinnya seharum mawar semerbak melati. Dan inilah peradaban yg sedang dibangun. #peace

Ulil Abshor
Salah tgl check in. Spt jutaan warga NU lain, sy jg ingin tabarukan dg datang lgsg ke acara di stadion Delta. 4 hr sblm hari H hunting hotel yg dkt venue. Buka 3 aplikasi sekaligus, 2 app full dan yg 1 msh ada kamar. Alhmdllh jarak hotel hny 500m dari stadion. Sebuah hotel di kompleks sebuah mall. Tgl 6 jam 11.45 kereta sy brgkt dari kediri. Nyampe kts, krn kepala kereta hrs di oper, sy pergunakan buat cek kamar yg sudah sy order. LOH! Sy salah tgl. Check in di hotel tsb tgl 5. Ya Alloh piye iki. Trlanjur ajak bpk yg sudah sepuh. Nyari2 hotel dkt stadion smw full. Klpun ada, hny tersisa re**orz. Itupun hrgny melambung ngeri. Makin panik. Akhirny keyword sy ubah jd sidoarjo. Dan dpt hotel lmyn nyaman. Lokasi strategis tepat di pintu keluar terminal Bungur. Saat buka jendela kamar, pemandangan bus2 berbagai jurusan sedang antri keluar. Senang saja lihat bus2 dan calon penumpang. Jam 00.30 kami brgkt ke stadion delta dg memesan ojek online motor. Ga berani pesan mobil krn sblmny ada himbauan jgn pake mobil. Bnyk jln d tutup. Kl bawa mobil jd kurang lincah. Perjalanan lancar dari hotel. Sampai akhirny mendekati venue kendaraan mulai menumpuk. Tp utk motor msh bisa meliuk2 jalan. Perjuangan motor ojek sy akhirny terhenti di sebuah POM bensin. Kami dh ga mgkn lg naik motor. Mas driverny sambat nyari jln balik. Sy dan bpk turun di situ. Jalan mengikuti org2 melewati bus2 dan kendaraan lain yg berhenti. Sepanjang jln sy lihat bnyk yg kekuar dari bus dan menikmati makanan dan minuman.

Kz It is
NU online tampilannya bagus. Aplikasi kumplit. Semua wirid sepertinya ada beserta text terjemah. Begitu juga Maulid, dan Al-Quran. Bahkan Dalail Khairot, Maroko. Kecuali hidzib magribi dan jaljalut hehe. Tidak heran kalau Maroko pada Piala Dunia beberapa waktu lalu namanya bersinur. Menginstal aplikasi lain tentu ada ketakutan tersendiri. Terutama kalau-kalau hurufnya di ganti. Terjemahannya di ganti. Siapa yang tau. Kedepan sepertinya perlu ada pengelompokan untuk bab wirid ini. Misalnya, bab wirid untuk banser, dst. Tapi yang paling menarik dari aplikasi NU online pas tak install adanya foto guru sekumpul. Padahal sudah rencana tak unistall setelah coba tak install, tapi nggk jadi.

Amat K.
Samvah-samvah sudah dibersihkan oleh pasukan semut. Jumlah mereka ribuan. Beres. Sekarang, lanjutkan lagi fikih peradaban.

thamrindahlan
Liputan Abah gagal sepanggung dengan Habib Syech menjadi catatan harian paling mengenaskan. Ratusan ribu bahkan jutaan umat mendambakan ingin selalu hadir di Acara Salam dan Shalawat Rasulullah Nabi Muhammad SAW dipimpin Habib Syech. Perihal Banser jadi lupa apa kepanjangannya. Semoga Bapak Erick Thohir mampu mendudukan sesuatu pada tempat duduk yang pantas dan bermanfaat bagi kemaslahatan Nahdiyin dan Rakyat Indonesia Raya. Salamsalaman.

Leong putu
Sebagai sebuah negara, Indonesia termasuk negara (sok) kaya. Membangun apa pun (pasti) jadi. Asal telah disetujui “wakil” rakyat. Uangnya ada. Banyak contohnya, mulai dari Bandara baru, jalan Tol baru, stadion baru, jalur kereta cepat baru sampai IKN baru. Yang memperihatinkan adalah pemeliharaan. Bagaimana kita menghargai apa yang telah ada, merawatnya, menjaga agar berfungsi maksimal dalam jangka waktu yg diharapkan. Banyak contoh sarana dan prasarana yang dibangun (terlihat) begitu megahnya, namun belum hitungan tahun sudah tampak lusuh. Tak terawat. Satu contoh : JPO. Setelah acara di Sidoarjo ini, saya teringat kembali akan hal tsb. Bagaimana taman kota yang dibuat indah, disiram tiap pagi. Hancur dalam satu hari, karena terinjak ( bukan diinjak) oknum yang banyak. Sedih, geram dan marah jadi satu. Untung Bupati Sidoarjo bukan Bu Risma. Kalau beliau yang jadi bupatinya saya takut membayangkan, Microphone di.panggung utama akan direbutnyi seraya berteriak :” Jiancuuuuuk tanduran ku ojo diidek-idek cuuuuk”. —–Tamat—- … #efek berbalas komen dg Om Budi utomo. Jadi ketularan duarius.

Rihlatul Ulfa
Kasian Abah melihat komentar2 dari para komentator pagi ini, 70 persen isinya ‘ngeledek Abah’ hahaha. ada yg bilang tabungan udh banyak, harusnya pake taxi drone, ada yg bilang makanya lihat maps dulu, biar tahu jalan yg mau dilalui lancar atau macet, ada yg ngeledek Abah kurang ide padahal banyak uangnya. wkwkwk hiburan komentar2 seperti itu yg juga membuat saya turut menertawai Abah.

Lagarenze 1301
Wkwkwk…. Saya jadi kepikiran, kok undangan VVIP lainnya bisa hadir di lokasi tepat waktu? Bahkan, begitu banyak nahdliyin yang bukan tamu VVIP juga bisa hadir. Mungkin karena mereka lebih “niat”…. (ampuuun, Pak Dis)

Kg Adna
Penulis Disway: “Besok, genap lima tahun saya menulis di Disway. Setiap hari. Tanpa absen satu hari pun.” —Baru lima tahun Bah…yang dua periode (sepuluh tahun) banyak. Bahkan kalau gairah dan staminanya tinggi, masih berminat untuk lanjut hingga tahun ke-15 lho Bah… Penulis Disway : Pun ketika saya di pedalaman Amerika. Atau Tiongkok. Atau India. Atau Pakistan. Atau pun ketika sedang dirawat di rumah sakit akibat Covid-19. —itu semua bukan tempat terlarang (haram) untuk menulis. Kurang ciamik buat Abah kalau hanya untuk menunjukkan kehebatan Abah sebagai penulis. Penulis Disway : Anda pun sudah hafal gaya tulisan saya. Mungkin anda sudah bosan. Atau terganggu. Atau ketagihan. —emmm…yah. cukup mengerti tapi tidak sampai hafal. Kalau terganggu kayaknya enggak. Beberapa orang yang dirugikan oleh tulisan Abah mungkin ada yaitu orang-orang yang namanya disebut dalam tulisan. Tapi buat para komentator dan para cucuk lampah, pengikut, penjilat dll rasanya Abah tidak pernah mengganggu. Penulis Disway : Mulailah muncul komentar-komentar yang isinya seperti masakan Thailand: pedas, kecut, renyah, gurih, hambar jadi satu. —Rasa seperti itu mewarnai tulisan Abah dari dulu. Penulis Disway : Dan yang paling menghibur ini : banyak komentar yang lucunya m3mbuat saya tertawa sendiri. Pun dengan penumpang sebelah saat di dalam pesawat. —yang lucu buat Abah, juga lucu buat saya dan yang lain. Sepertinya.

Pryadi Satriana
Saya ‘tawakal’ (baca: saya ‘berserah diri sepenuhnya kepada Allah’) … Apa boleh buat (baca: saya ‘nggrundhel’). ‘Tawakal’ bisa dipakai dg ‘Apa boleh buat’? Yang pakai bergelar ‘Prof. Dr.’? Sudah diberi undangan VVIP – ndhak ‘diundang online’ pakai diundi – ndhak keliatan batang hidungnya di acara, ndhak tau arti VVIP, ‘sangat sangat dipentingkan oleh yg mengundang’? ‘Tawakal’ di-‘glethakno’ di jalan tol oleh ‘Yang Di Atas’? Cuma bisa bilang ‘Apa boleh buat’? Bisa nulis CHDI 5 th tanpa jeda ndhak bisa menghadiri undangan? Merasa orang penting? Karena disebut ‘Raja Media’? Mantan menteri BUMN? Bergelar Prof. Dr.? Sering menguji ujian doktor? Sampai pun ‘cerita’ di CHDI? Sering memberi kuliah umum di banyak perguruan tinggi? Pun diceritakan di CHDI? Apa ‘kejadian’ ini semacam ‘pengingat’? Bahwa MERASA JADI ORANG PENTING bisa ‘menyepelekan orang lain’/’saran orang lain’/’acara orang lain’ tanpa menyadarinya? Apa hikmah kejadian ini? Hanya Pak Dahlan Iskan yang tahu. Salam. Rahayu.

Kg Adna
EDISI 5 TAHUN Penulis Disway : Suasana sarasehan para “Perusuh” Disway dengan Dahlan Iskan di kampung Agrinek, Cikeusik, Pandeglang, Banten, 31 Desember 2022. -Raka Denny for Disway- berarti pembaca Disway sudah pada tingkat tidak layak didikte. —Anak TK pun sebenarnya jangan diajari dengan cara didikte. Penulis Disway : Terutama oleh opini saya. Berarti Anda dengan latar belakang seperti itu adalah orang-orang yang berpikir sangat independen. Berarti sudah waktunya saya merenungkan suara-suara di komentar Disway. Terutama suara ini: berikanlah wadah ekspresi bagi pembaca. Diwadahi hanya di kolom komentar tidak lagi memadai. Saya serius sekali memperhatikan suara itu. —suara-suara yang minta wadah ekspresi adalah suara-suara biasa. Karena hak berekspresi adalah hak siapa saja. Penulis Disway : Maka mulai terbitan 9 Februari ini, akan ada rubrik baru di Disway: ekspresi pembaca. —Yang serius di sini: apakah Abah akan menyelinap lalu kabur di balik munculnya rubrik opini ini, dengan berhenti menulis rutin setiap hari?

Leong putu
Dengan pakaian seperti itu, pak Bos DI terlihat keren. Akan lebih keren lagi kalau di jari tangan kanan memakai cincin akik sebesar setengah bola bekel warna merah. Jari tangan kanan memakai cincin akik setengah bola bekel warna hijau. Pergelangan tangan memakai gelang kayu hitam yang melilit seperti ular itu. Lebih sip kalau sekalian membawa tongkat model pegangan payung (melengkung) …. #edisi nasehat.

Kg Adna
EDISI 5 TAHUN Penulis Disway : Suasana sarasehan para “Perusuh” Disway dengan Dahlan Iskan di kampung Agrinek, Cikeusik, Pandeglang, Banten, 31 Desember 2022. -Raka Denny for Disway- berarti pembaca Disway sudah pada tingkat tidak layak didikte. —Anak TK pun sebenarnya jangan diajari dengan cara didikte. Penulis Disway : Terutama oleh opini saya. Berarti Anda dengan latar belakang seperti itu adalah orang-orang yang berpikir sangat independen. Berarti sudah waktunya saya merenungkan suara-suara di komentar Disway. Terutama suara ini: berikanlah wadah ekspresi bagi pembaca. Diwadahi hanya di kolom komentar tidak lagi memadai. Saya serius sekali memperhatikan suara itu. —suara-suara yang minta wadah ekspresi adalah suara-suara biasa. Karena hak berekspresi adalah hak siapa saja. Penulis Disway : Maka mulai terbitan 9 Februari ini, akan ada rubrik baru di Disway: ekspresi pembaca. —Yang serius di sini: apakah Abah akan menyelinap lalu kabur di balik munculnya rubrik opini ini, dengan berhenti menulis rutin setiap hari?

Liam Then
Ngarangnya on the spot, karena memang sudah sering jadi pikiran dari dulu, jadi enak saja, apa adanya kepikiran tinggal di ketik. Makanya banyak yang salah. Hahaha. Pertama A Peng pusing. Kok terakhir malah bilang sudah riset satu tahun. Semoga di maklumi, saya bukan penulis, kuliah pun D3 tak tamat. Cuma saya memang dari kecil suka membaca.Apa saja saya baca. Levelnya ketagihan membacanya sudah sampai level begini, di Taiwan dulu waktu jadi TKI karena semua bacaan huruf china, begitu ketemu koran berbahasa Inggris disana, senangnya minta ampun, walau bahasa inggris pas-pasan.Akibatnya penguasaan pasif makin bagus.

ALI FAUZI
Pada acara peringatan Satu Abad NU di Sidoarjo, Selasa (7/2), tampak betul kekuatan slogan “mati urip nderek kyai” yang cukup kental di kalangan santri. Semoga yang hadir, termasuk yang terjebak di jalanan di luar Stadion Sidoarjo, mendapatkam berkah –seperti yang mereka harapkan melalui slogan tersebut.

imau compo
Pagi-pagi mau komentar. Boro-boro komentar, lagi enak-enak baca CHDI tetiba aplikasinya nutup, seperti tekan tombol back. Berkali-kali. Jadi ingat Bli Leong Putu, aplikasinya seperti laki-laki salah minum jamu, pengin strong keseduh daun putri malu. Dengar kokok ayam saja langsung mati. Perusuh sejatinya punya DNA complain, tapi ingat partisi yg coba dibangun Pak DI yg bernama camp akhir tahun. Tidak ingin proyek ini gagal dalam melunakkan hati perusuh. Malahan perusuhnya dibuatkan WAG. Hasrat complain juga pudar ingat nasib Kang Riki Gana yg konon hanya bisa baca. Ya sudah…CHDI bebas berekspresi, bebas delivery.

yea aina
Insyaa Allah besok 9 Februari 2023, ultah Disway ke 5. Hari ini tulisan CHD masih terkait harlah NU ke 100. Kalau NU mewacanakan fikih peradaban, maka CHD Disway membuka rubrik baru: Perusway. Lebih muda kalah umur, tak mau kalah inovasi. #isikomenkosong

Johannes Kitono
Apeng 78 T. Chd 06/08/2022 dengan judul Rp.7,88 T menghimbau Apeng alias Surya Darmadi pemilik Darma Group untuk segera pulang ke Indonesia.Gegara alih fungsi hutan 37.000 ha jadi lahan Sawit di Indragiri Hilir dituduh merugikan negara sebesar Rp.78,8 T. Apeng ternyata pulang dan bersama kuasa hukum langsung lapor ke Kejagung. Dan JPU mungkin nyontek CHD dan menuntut Apeng dengan pidana seumur hidup dan tambah denda 73,9 T. Dengan alasan terjadi kerugian negara karena sudah 40 tahun hutan dijadi lahan sawit. Ironisnya, justru komoditi sawit yang sudah menciptakan lapangan kerja dan devisa dituduh merugikan negara.Gubernur yang terima uang admin Rp.3 mily dihukum 1 tahun penjara dan Bupati juga kena 10 th dan denda Rp.1 mily. Apeng tentu kecewa dan marah dituduh Mega Koruptor dan melakukan pencucian uang.Pengusaha shio Naga itu justru berani kembali dari Taiwan dengan harapan bisa mencari solusi atas masalahnya.Konon, pelanggaran yang dilakukan adalah tidak bayar Dana Reboisasi dan PSHD. Pola kemitraan inti plasma ikut dijadikan tuduhan. Pada hal waktu itu ( 2014 ) belum ada kewajiban.Dan UU kan tidak bisa berlaku surut. Biarpun sangat kecewa Apeng masih sempat kasih kiat bgmn elunaskan utang negara.” Tangkap saja100 pengusaha, cari kesalahannya dan kasih hukuman denda 75 T. Langsung lunas hutang negara Rp 7.300 T. “, kesal Apeng yang didampingi Juniver Girsang, kuasa hukumnya.Kalau itu terjadi devisa bertambah dan Kejagung jadi DC terbesar didunia.Malu or bangga.

Udin Salemo

#everyday_berpantun Di Malaysia ada cerita Pak Man Telo/ Seorang master ponzi di zamannya/ Hari ini terasa adem di Gorontalo Matahari tak seganas biasanya Kalau tuan pergi ke Solok/ Jangan lupa membeli beras/ Jika tuan suka mengolok/ Tunggulah pembalasan yang keras/ Kelapa puan berpuluh-puluh/ Mau dibawa ke Surabaya/ Kalau gajian lewat tanggal sepuluh/ Namanya tuan menyiksa saya/ #derita_orang_gajian

Leong putu
Memang orang tua yang ngaku banyak salah namun tabungannya gak sedikit itu selalu begitu. Mau terdampar, tersesat, Hp ilang, obat ketinggalan sampai terjebak macet pun kelakuannya tetap sama. Santai, pamer dan juga setengah ngece. Mungkin dalam hatinya Ia berkata :”sak sara – sara urip ku, tas sik pancet penak Pry…wkwkwk”. (Ketawanya pun pakai wkwkwk…) …. #edisikompor #kompormbleduk

Liáng – βιολί ζήτα
Comment-nya Mbah Pry koq melebar terlalu jauh ya. Diksi yang dipakai Abah DI wajar koq. Abah DI menuliskan “SAYA tawakal di tengah jalan tol.” Tawakal karena no way out, tidak ada pilihan lain, ya sudah menerima dan menjalani apa yang sedang terjadi, whatever will be will be. Disambung dengan “Apa boleh buat.” lebih merefleksikan penyesalan Abah DI sendiri, seolah-olah Abah DI menyalahkan diri sendiri “kenapa tidak diantisipasi kemungkinan macet parah seperti ini dan berangkat lebih awal atau bahkan sudah berada dan menginap di Sidoarjo sehari sebelumnya”. Tidak ada seorangpun yang sempurna, hal yang dialami Abah DI, kita semua pernah mengalaminya juga. Akan lebih bijaksana ketika kita mengkritisi kejadian tertentu yang dialami orang lain tanpa harus mengaitkan dengan hal-hal lain yang tidak ada hubungannya secara langsung. “ngono yo ngono… ojo ngono, Mbah Pry” Sehat selalu Mbah Pry. Terimakasih.

Kg Adna
EDISI 5 TAHUN Penulis Disway : Sampai-sampai saya sering terpikir: akan saya coba Disway terbit tanpa tulisan saya. Atau hanya berisi judul saja, tanpa isi. Pasti tidak ada yang terasa hilang. Toh banyak pembaca yang memulai membaca Disway dari komentarnya dulu. Ini penghinaan yang jujur sebenarnya. Tapi kalau faktanya begitu maka saya tidak bisa mengenakan pasal penghinaan. Penghinaan yang benar adalah kebenaran. Maka pasal yang harus dikenakan bukanlah pasal penghinaan tapi pasal introspeksi. —kata terakhir adalah kunci: in… tro.. spek.. si.. Apakah perlu masuk periode lima tahun kedua CHD, kalau hasilnya ya hanya seperti ini? Hanya menjadi media penghiburan beberapa detik dalam sehari. Tidak bisa menyelesaikan masalah perusahaan energi yang menguras energi… Penulis Disway : Dari pertemuan “Perusuh” Disway di Agrinex, Banten Selatan, tutup tahun lalu saya pun sadar: level pembaca Disway ternyata begitu tingginya. Tanpa pertemuan itu sebenarnya sudah bisa diketahui: dari membaca kualitas komentar di Disway. Pertemuan Agrinex hanyalah konfirmasi belaka. —Sangat sulit menemukan komentar tidak lucu dalam media online dan medsos apapun di negeri anakonda kita. Rakyat Indonesia memang jago-jago. Yang tidak jago konon pejabatnya saja. Kecuali pas Abah jadi pejabat.

*) Dari komentar pembaca http://disway.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *