“Bener Bang. Nyambung pos security. Jadi, security liat kejadian ini.”
Spontan maling membentak penghuni, memerintahkan masuk kamar: “Masuk… masuk…” Penghuni menurut. Lantas para maling kabur. Laptop tetap digondol.
Kompol Diana: “Ciri-ciri pelaku sudah ada. Kami tinggal mengejar mereka.”
Untung, tidak terjadi kekerasan. Maling sudah merogoh sesuatu (diduga senjata) dari balik jaket. Maling mengkalkulasi. Mungkin, maling tidak merasa terancam oleh penghuni. Sehingga dirasa tidak perlu melukai korban.
Kejadian macam ini terpikirkan mayoritas masyarakat kota. Terbayangkan, kalau-kalau hal itu terjadi. Bukti, mayoritas rumah di kota berpagar besi. Tinggi. Digembok. Masih dilapisi pintu rumah, dikunci pula.
Para maling juga mikir. Mereka masuk rumah, sudah siap merampok. Kalau bisa, cuma nyolong. Tapi seandainya kepergok, siap habis-habisan. Mereka pasti bersenjata. Sebab, mereka paham risiko bisa mati di tangan penghuni. Atau dihakimi massa.
Contoh, Selasa, 13 Juni 2013 pukul 09.00 di perumahan elit Karawaci, Tangerang. Tepatnya di Perumahan Bugel Indah, Karawaci. Di sebuah rumah yang pagi itu dihuni Sugiarti (55) dan puterinya, Italia Chandra Kirana Putri (22). Kepala rumah tangga bekerja.
Rumah mewah itu berpagar besi tinggi. Digembok. Tapi dibobol empat perampok. Masuk ke halaman. Membongkar kunci motor di situ. Saat itulah Sugiarti keluar rumah, kaget.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi