SIDOARJO-KEMPALAN: Paguyuban Pelaku Logistik Indonesia (PPLI) mengakui naiknya harga BBM ternyata tidak berdampak serius bagi pelaku usaha logistik. Padahal usaha jasa palayanan antar ambil ini sangat berkaitan dengan BBM.
Justru yang mereka keluhkan adalah pasokan BBM yang tidak lancar. Di beberapa wilayah di Kalimantan, Sumatera dan Pupua kerap terjadi keterlambatan pengiriman sehingga berpengaruh terhadap bisnis jasa ambil dan antar ini.
“Kami tidak mempersoalkan kenaikan harga BBM. Tapi kami berharap pasokannya yang lancar dan merata di semua wilayah,” ujar Dedi Haris, Minggu (9/10/2022).
Dicontohkan di Kalimantan, beberapa kali pelaku usaha logistik sempat mengeluh karena pasokan solar terlambat. Kondisi itu jelas sangat merugikan pelaku logistik.
Hal serupa juga terjadi di beberapa daerah di Sumatera, Kalimantan. Sulawesi dll.
“Sampai ada fenomena jualan BBM eceran menggunakan jeriken dan sebagainya itu. Ini yang harusnya diatasi,” harapnya saat ditemui usai acara Universary ke-2 PPLI yang digelar di Sidoarjo.

ketika terjadi kenaikan harga BBM para pelaku usaha di sektor ini bisa menaikkan harga antara 10 persen sampai 30 persen tinggal berapa jaraknya. Tapi saat pasokan BBM terlambat, tentu sangat berpengaruh.
“Pandemi kemarin juga bisnis di sektor ini ikut terdampak. Meski tetap jalan, karena logistik adalah kebutuhan, tapi tetap saja banyak perusahaan yang mengalami penurunan cukup signifikan,” lanjut Dedi tersebut.
Setelah pandemi, para pelaku usaha logistik kelas UMKM itu mulai bergeliat. Mereka berharap iklim usaha bisa terus merangkak naik dan merambah semua daerah.(Ambari Taufiq)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi