”Mas Abdur siap, ya?”
”Siap apa? Peluncuran majalah?”
”Bukan. Ketemu Ayah…”
”Kayaknya kamu deh yang tak siap… Nanya terus,” kataku.
”Kalau saya minta Mas Abdur melamar saya ke Ayah siap juga kan?”
”Harus saat ketemu nanti ya?”
BACA JUGA: Siapa Membunuh Putri (18)
”Tuh, kan nggak siap.”
Saya siap melamarmu, Inayah. Tapi yang saya tak tahu apakah saya siap hidup bersamamu setelah lamaran dan pernikahan yang pasti akan kita tentukan kapan. Apa rencanamu? Apakah saya bisa menyesuaikannya? Kita harus bicara lebih dahulu. Saya belum punya apa-apa. Rumah yang akan saya cicil itu belum selesai dibangun. Paling tidak saya harus menunggu sampai rumah itu selesai.
Mungkin Inayah melihat dan memahami kecemasan saya. Dia tak bertanya lagi soal rencana melamar itu. Dia hari itu mengajak saya melihat rumah yang dijual. Iklannya ada di Dinamika Kota. Rumah tipe 70, dengan tiga kamar di kawasan perumahan yang sudah jadi.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi