Minggu, 19 April 2026, pukul : 20:21 WIB
Surabaya
--°C

Bandara Internasional Dhoho Kediri, Mosok Tho?

Bambang Budiarto

Catatan Ekonomi Bambang Budiarto

KEMPALAN: Kediri, betul-betul nama dengan sejuta cerita. Tak pernah habis kata untuk mengungkapkan segalanya tentang Kediri, dan tak kan pernah habis tinta mengisahkan keberadaannya. Kediri pernah melegenda sebagai sebuah kerajaan, sebuah negara besar. Dia pun pernah menjadi kerajaan bawahan, menjadi karesidenan, menjadi kota, juga ada wilayah kabupaten.

Perjalanannya sudah begitu panjang, dimulai dari perpecahan Kahuripan (Jenggala) pada 1042 M menjadi dua; Jenggala dan Panjalu (Kediri) sampai akhirnya setelah ratusan tahun dapat disatukan kembali oleh Prabu Jayabaya di 1135 M dengan semboyan Panjalu Jayati, Kediri Menang.

Kemenangan yang lebih dipahami sebagai sebuah penguasaan wilayah yang tentu saja membanggakan bagi manajemen kerajaan. Waktu terus berlalu dan pada 1222 M keruntuhan Kediri akhirnya tiba di masa pemerintahan Kertajaya yang harus terengah-engah tak berdaya di tangan Ken Arok, founder Singasari.

Jayakatwang yang coba merebut membangun kembali Kediri sebagai bentuk tanggung jawab terhadap leluhurnya untuk tetap kokoh berdirinya Kediri ternyata juga tak kuasa. Hanya satu tahun dan setelahnya Kediri tinggal cerita.

Ribuan tahun lamanya, mulai masa kejayaan Singasari kemudian bergeser ke Majapahit, Demak, Pajang, Mataram sampai masa pemerintahan Hindia Belanda, semuanya tidak mampu menciptakan kenangan indah bagi Kediri. Baru setelah memasuki masa kemerdekaan di 1958, cerita Kediri seolah hidup kembali dengan berdirinya Pabrik Rokok Gudang Garam (GG).

Menapak dengan pasti dan tak dapat diingkari, pabrik rokok ini telah menopang ekonomi masyarakat Kediri dan sekitarnya. Kota dan kabupaten Kediri mendapat eksternalitas positif dari eksistensi GG. Publikasi terkini data pangsa pasar penjualan rokok nasional di 2021  sebanyak 296,2 miliar batang yang berarti naik 7,2% dari tahun sebelumnya  276,3 miliar batang. Dari nilai tersebut 27,5% nya adalah milik GG, capaian teratas ada di 32,5%. Cukai rokok secara nasional diprediksi mampu sampai di angka 274,89 triliun di 2022 setelah adanya kenaikan cukai hasil tembakau 12%. Tahun sebelumnya 188,8. Dari angka ini dapat dibayangkan betapa besar sumbangan GG bagi pendapatan nasional, memahami hal ini sudah barang tentu Kediri termasuk yang menikmati jerih payah dan prestasi GG.

Begitulah, jika sebelumnya Kediri berjaya dengan kekuasaan wilayahnya, sekarang lewat keberadaan GG, Kediri dapat menikmati kejayaan ekonomi. Terkini, tentu saja melalui anak usaha PT Suryo Dhoho Investama, GG membangun Bandara Internasional Dhoho Kediri. Sesuatu yang tidak terbayangkan sebelumnya di masyarakat. Mosok tho?

Bandara yang tercatat sebagai bandara pertama yang dibangun dengan anggaran non-APBN, tidak membebani finansial pemerintah. Diharapkan akhir 2023 sudah beroperasi termasuk untuk keberangkatan haji dan umroh. Tidak kurang dari Rp10 triliun digelontorkan untuk terwujudnya mimpi besar ini.

Dengan runway 3.300 meter dan luas landasan 45 meter, luas lahannya mencapai 371 hektare. Sementara 18.000 meter adalah luas terminalnya dan diprediksi satu tahun mampu menampung 1,5 juta penumpang. Terlalu besar harapan yang disandarkan masyarakat Kediri terhadap bandara ini, sehingga beragam infrastruktur dibangun pun dipersiapkan untuk tidak sekadar terwujudnya bandara ini menjadi output namun juga mampu menjadi outcome.

Bayang-bayang “menakutkan” sebenarnya juga ada seiring dengan mati suri-nya beberapa bandara yang sudah dibangun dengan APBN. Release beberapa media, minimal ada empat bandara yang saat ini terengah-engah operasionalnya: JB Soedirman–Purbalingga, Ngloram–Blora, Wiriadinata–Tasikmalaya, Kertajati–Majalengka.

Pembangunan bandara ini tidak dilandasi suramnya industri rokok dan memang perusahaan tetap mematok target profit atas keberadaan bandara ini. Mencermati situasi yang demikian sudah barang tentu langkah-langkah strategis sudah pasti dipersiapkan untuk sampai pada capaian-capaian tersebut. Atas pertanyaan pertama, mosok tho ? Mungkin sudah terjawab bahwa Kediri sebentar lagi akan memiliki bandara. Pertanyaan kedua juga sama, mosok tho? Masak iya bandara (output) ini akan mampu menjadi outcome? Strategi apa untuk sampai pada terwujudnya outcome tersebut. Salam.

(Bambang Budiarto, Pengamat ISEI Surabaya, Dosen Universitas Surabaya, Redaktur Tamu Kempalan.com)

Editor: Freddy Mutiara

                  

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.