KEMPALAN: Yusuf Bagarib namanya. Semalam kami berjumpa kembali. Berpelukan di depan flat tempat dia dan keluarga tinggal, di kawasan Bedok, Singapura.
Kami teringat kejadian di Changi Airport tahun 2002. Saat itu saya dalam perjalanan pulang dari penelitian lapangan di NTB, Kaltim dan Jatim, akan pulang menuju Chicago untuk menuntaskan disertasi.
Saat check-in di Singapura, Yusuf, petugas itu melihat tiket dan bertanya kenapa tanggal perjalanan yang tertera di tiket terlambat beberapa bulan dengan tanggal hari itu.
Tiket saya diperpanjang beberapa kali, karena visa tak kunjung keluar. Rencana di Indonesia 5 minggu, berubah jadi 5 bulan. Tiket harusnya hangus, tapi karena visa belum keluar, maskapai mau memperpanjang masa berlaku beberapa kali.
BACA JUGA: Besok, Relawan Jarnas ABW Deklarasi Dukung Anies Baswedan di Pegunungan Krucil Probolinggo Jatim
Di counter check-in, kami berbincang sambil Yusuf mengetik di komputernya. Dia terkejut saat mendengar kepulangan saya tertunda beberapa bulan. Dia tanya di mana keluarga. Saya jelaskan bahwa istri kuliah master sambil mengurus anak-anak di Amerika. Sementara saya di Jakarta tidak bisa kembali.
Tak lama kemudian dia berikan boarding pass, sambil pesan jangan duduk jauh-jauh, barangkali ada perlu mudah dipanggil. Saya duduk sekitar gate, menunggu boarding.
Saat boarding, nama saya dipanggil dan diminta menuju counter di gate. Saya pikir, wah! alamat akan ada masalah lagi. Saya bergegas ke counter, Yusuf ada di sana. Dia meminta boarding pass. Ternyata Yusuf langsung sobek boarding pass itu. Saya kaget tapi menahan diri.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi