Menu

Mode Gelap

Kempalpagi · 22 Nov 2021 09:13 WIB ·

Cyber Army ala MUI


					Ilustrasi Cyber Army MUI. Perbesar

Ilustrasi Cyber Army MUI.

KEMPALAN: Isu cyber army ramai lagi setelah Majelis Ulama Indonesia (MUI) DKI berencana membentuk tim siber untuk meng-counter berita-berita negatif terhadap pemda DKI Jakarta. Rencana ini memicu pro dan kontra karena dianggap sebagai upaya melindungi Gubernur Anies Baswedan dari serangan para buzzer.

Cyber army atau pasukan siber menjadi bagian dari lanskap politik yang tidak terpisahkan dalam dinamika politik Indonesia. Perang politik siber mencapai pada perhelatan pilgub DKI 2017 yang mempertemukan Anies Baswedan versus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, yang kemudian dimenangkan oleh Anies.

Banyak kalangan menganggap kemenangan Anies banyak dibantu oleh kekuatan pasukan siber yang digalang oleh para relawan. Perang siber di dunia maya ketika itu lebih heboh dibanding perang politik di dunia nyata. Polarisasi pro dan kontra antara pendukung Anies vs pendukung Ahok memunculkan terminologi kampret dan cebong, yang menjadi kosa kata politik paling populer di Indonesia sampai sekarang.

Isu penistaan agama menjadi perdebatan sentral dalam perang siber itu. Para pembela Anies menyebut dirinya sebagai ‘’Muslim Cyber Army’’ (MCA) yang sangat gencar dan militan dalam menyuarakan serangan terhadap Ahok. Para pembela Ahok–yang disebut sebagai kelompok pendengung atau buzzer–tidak kalah militan dalam menyerang Anies dan membela Ahok.

Polarisasi dua kelompok ini menganga lebar dan terus berlanjut sampai pilpres 2019, yang mempertemukan Prabowo-Sandi dengan Jokowi-Ma’ruf Amin. Kali ini kampret vs cebong bermetamorfosa menjadi pasukan baru dengan cara perang lama. Perang siber siber lokal di arena pilgub DKI berkembang menjadi perang nasional dalam pilpres 2019.

Kali ini kelompok buzzer pendukung Jokowi berhasil membalas dendam dan bisa memenangkan jagonya. Skor berubah menjadi 1-1. Polarisasi bukannya reda tapi malah makin melebar. Upaya Prabowo melakukan rekonsiliasi dengan Jokowi bukannya menyatukan tapi malah memperlebar gap.

Perang siber tidak pernah mereda. Dua kelompok itu sama-sama tidak bisa move on dari kekalahan yang dialami. Pertandingan lanjutan akan berlangung rubber set pada pilpres 2024 mendatang. Dua kekuatan tentara siber ini sudah melakukan pemanasan sepanjang tahun dan sudah sama-sama siap maju dalam palagan besar pada 2024.

Anies Baswedan punya potensi besar untuk maju ke palagan besar itu. Genderang perang sudah ditabuh meskipun perang masih tiga tahun lagi. Pembela Anies dan pembenci Anies sudah terlibat dalam banyak pertempuran siber setiap hari.

Isu pembentukan tim siber oleh MUI DKI itu makin memanaskan persaingan antara kedua kubu. Perang siber pada 2024 diperkirakan akan lebih besar dibanding dua perang sebelumnya. Isu perang digital akan menjadi masalah krusial dalam perhelatan demokrasi 2024.

Penggunaan teknologi internet dan platform media sosial sekarang ini bisa menimbulkan masalah serius bagi tatanan demokrasi sebuah negara bila salah dalam penggunaannya. Namun di sisi lain, media sosial juga bisa memiliki dampak positif jika digunakan secara produktif.

Perang siber, atau dalam terminologi teknologi komunikasi disebut sebagai ‘’propaganda komputasional’’, telah menjadi sebuah fenomena global. Propaganda yang membenarkan muslihat, manipulasi, dan penyebaran kebencian itu telah terjadi di berbagai negara, termasuk di Indonesia.

Penggunaan internet yang sudah meluas di kalangan masyarakat Indonesia akan membuat tarung propaganda itu semakin masif. Semua sisi kehidupan masyarakat Indonesia sekarang sudah dimasuki oleh teknologi informasi dan menghasilkan fenomena ‘’the internet of things’’. Internet sudah menjadi hajat hidup yang meliputi semua kebutuhan masyarakat.

Penggunaan internet of things yang begitu masif sebenarnya belum bisa dimaksimalkan seluruhnya oleh masyarakat. Pengetahuan masyarakat terhadap fungsi internet masih pada taraf kulit luar dari keseluruhan operasional internet. Mayoritas pengguna internet hanya memakai layanan umum seperti browsing dan berkomunikasi, hanya beberapa persen saja yang bisa mengakses deep web, dan lebih sedikit lagi yang bisa mengakses dan memanfaatkan dark web.

Pada dua ranah…

Artikel ini telah dibaca 39 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

Sugali

4 Desember 2021 - 09:17 WIB

Reuni

3 Desember 2021 - 09:37 WIB

Dudung

2 Desember 2021 - 09:20 WIB

Ballon d’Or

1 Desember 2021 - 09:14 WIB

Mimpi

30 November 2021 - 09:56 WIB

Mati Ketawa ala Fadli Zon

29 November 2021 - 09:57 WIB

Trending di Kempalpagi