Siapa Membunuh Putri (6)

waktu baca 7 menit
Foto: Ilustrasi/ istockphoto.com/Prostock-Studio

Ajakan Bang Jon

KEMPALAN: BANG Jon menolak bertemu sehabis rapat itu. Ia bilang besok pagi saja. Saya lihat wajah putihnya – putih khas orang Manado yang rada mirip Tionghoa itu, juga sempit bukaan matanya itu – tak lagi memerah seperti di tengah rapat redaksi tadi. Saya agak tenang melihatnya. ”Besok di Kedai Purnama, ya. Tahu kan?”

Aku langsung tancap gas di ruang redaksi. Dua redaktur yang membantu tak perlu diragukan kerjanya. Stok berita cukup. Bayangan headline halaman depan dan semua halaman dalam sudah ada juga. Saya masih ada waktu mengetik beritaku sendiri. Lalu menyunting hasil wawancara wartawan kami dengan pejabat di Otoritas Pengembangan Kawasan Perdagangan Bebas. Atau OPKPB . Orang di kota ini bisa menyebut OP saja. Metro Kriminal, seperti media lain, juga biasa menyebut dengan ringkasan OP saja. Soal investasi besar, Maestrochip Corp. yang akan menyerap sepuluh ribu pekerja. Angka yang luar biasa besar.

Saat aku mengedit berita itu, Bang Eel tiba di kantor. Dia langsung bertanya padaku. ”Dur, ada berita dari OP soal investasi Maestrochip Corp?”

BACA JUGA: Siapa Membunuh Putri (5)

“Ini sedang saya edit, Bang.”

Bang Eel, menggeser dudukku, mengambil alih komputer yang kupakai mengedit, mengecek judul, membaca lead, dan dengan cepat men-scroll layar sampai ke akhir berita.

”Oke, ini nanti di halaman depan, ya,” katanya.

”Cocok, Bang? Kita koran kriminal lo? Apa gak aneh?”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *