Kamis, 18 Juni 2026, pukul : 14:21 WIB
Surabaya
--°C

Negeri Kepruk Kendil

Ibarat manusia, bangsa Indonesia masih kanak-kanak. Kebebasan yang ada di tangan anak kecil bisa sangat berbahaya. Bisa melukai dan menghancurkan apa saja yang ada di dekatnya. Kebebasan yang dimiliki bangsa ini bisa produktif kalau dikelola dengan benar. Tetapi bisa sangat destruktif kalau berada di tangan yang salah.

Kita menjadi gamang terhadap identitas kita sendiri. Bangsa ini cenderung makin tipis toleransinya dalam berbagai hal. Yang mayoritas merasa curiga karena masa lalunya yang kelabu dan teraniaya. Di zaman Orde Baru, sistem politik represif menjadikan kelompok Islam yang mayoritas menjadi sasaran kecurigaan. Karena itu kemudian kelompok ini dimarjinalisasi supaya tidak bisa menjadi besar dan kuat. Karena potensinya yang sangat besar, kelompok Islam bisa menjadi kekuatan yang dahsyat yang bisa mengalahkan apa saja. Karena itu kemudian ada upaya untuk menjadikannya kerdil.

BACA JUGA: Cucu Bung Karno

Begitu kebebasan muncul melalui Reformasi, apa yang terpendam lama itu seolah meluap menjadi amarah. Seolah ada dendam terhadap masa lalu. Maka berbagai gerakan muncul untuk menjadikan Islam sebagai kekuatan politik. Salah satunya dengan mengembalikan Pancasila kepada versi Piagam Jakarta 1 Juni 1945. Perdebatan Pancasila versi 1 Juni versus versi 18 Agustus yang menghilangkan ‘’tujuh kata’’, sampai sekarang masih tetap menjadi tarik-menarik yang ribut.

BACA JUGA  Mundur Selangkah, Maju Seribu Langkah

Di sisi lain, ada kelompok minoritas yang ingin menerapkan hak-haknya secara mutlak tanpa menyadari bahwa toleransi dan tenggang rasa sangat penting di tengah kondisi bangsa yang rapuh ini. Ada segelintir orang yang sengaja mempergunakan kekuatannya untuk kepentingan sendiri. Kelompok ini menguasai resource ekonomi yang membentuk oligarki. Lalu oligarki ekonomi itu berkembang menjadi oligarki politik.

Risikonya adalah bangsa ini terbelah dalam polarisasi dua kubu, kadrun vs cebong. Persaingannya menjadi pertempuran kekuasaan, power game, yang berusaha saling menyingkirkan. Permainan menjadi mengerikan, zero sum game, winner takes all, pemenang akan meringkus semua, dan yang kalah akan dihabisi.

Power play antara kekuatan nasionalis versus kekuatan religius seolah tidak ada titik temu. Padahal Pancasila seharusnya bisa menjadi kalimatun sawa’ atau common denominator yang mempertemukan semua kekuatan itu. Indonesia bukan negara agama, tapi bukan negara sekuler. Pancasila menawarkan formula yang kompromistis. Sila pertama yang religius, “Ketuhanan Yang Mahaesa”, menjadi payung bagi empat sila lainnya yang bersifat sekular.

Tantangan yang menghadang di depan terlalu besar untuk bisa dihadapi dengan pendekatan zero sum game. Kondisi geopolitik internasional tidak menentu. Masa terburuk pagebluk Covid-19 sudah berhasil kita lewati, tetapi ancamannya tidak sepenuhnya hilang. Butuh waktu panjang untuk melakukan recovery ekonomi yang macet selama dua tahun akibat pandemi.

BACA JUGA  Catatkan 71 Pukulan, Aji Pradana Menangi Series 3 Metro Golf League 2026

Ketika dunia tengah berjuang memulihkan diri, pecah perang Rusia vs Ukraina yang membuat ekonomi dunia babak belur. Krisis energi, krisis pangan, dan krisis keuangan menjadi momok yang menakutkan bagi negara manapun. Perang yang sampai sekarang belum ada tanda-tanda akan berhenti akan memakan korban. Banyak negara LIC, low income countries, yang akan ambruk menjadi failed states, negara gagal.

Kondisi politik di dalam negeri menjelang suksesi 2024 semakin hiruk pikuk. Polarisasi dua kubu belum ada tanda-tanda akan berakhir. Bahkan, naga-naganya, polarisasi lama dalam pilpres 2019 akan berulang lagi.

Seperti dalam permainan kepruk kendil, mata tertutup tidak tahu arah. Ketika kita tengah bingung mencari arah, teriakan dan tekanan dari luar terasa semakin membingungkan. Seperti anak kecil yang bermain kepruk kendil, kita makin bingung ketika orang-orang di sekitar kita berteriak-teriak. Ada yang menertawakan, ada yang memberi arahan yang salah, dan banyak yang mencaci-maki.

Mudah-mudahan, rakyat masih cukup punya kesabaran menghadapi semua ketidakpastian masa depan ini. Kalau mereka kehilangan kesabaran, mereka bisa menjadi anak kecil pemegang pentungan yang marah.

Dan, ketika sasaran ada di depan mata, pyaarr…hancurlah kendil kebangsaan kita, dan kita terancam menjadi negara gagal. (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.