Senin, 1 Juni 2026, pukul : 18:21 WIB
Surabaya
--°C

Lady of Heaven

Di Mesir, ulama Al-Azhar mengeluarkan fatwa yang mengharamkan film ini ditonton. Dewan Penasihat Al-Azhar menjelaskan keteguhan posisi Al-Azhar dalam melarang segala bentuk media yang berusaha menampilkan Nabi Muhammad, seluruh nabi, dan seluruh keluarga para nabi secara visual.

Dalam salah satu segmen, film ini menampilkan narasi yang berisi suara Nabi Muhammad saw. Hal ini dianggap bertentangan dengan pendapat Sunni yang tidak memperbolehkan penggambaran Nabi Muhammad secara visual dan audio-visual. Penggambaran Nabi Muhammad dengan versi kartun oleh Majalah Chalie Hebdo Prancis, telah memantik demontrasi dan kekerasan yang berakibat pembunuhan terhadap pengelola majalah.

BACA JUGA: Khilafatul Muslimin

Sebelumnya, beberapa film yang menggambarkan nabi-nabi terdahulu juga dilarang. Lembaga Sensor Mesir pernah melarang film The Passion of the Christ yang disutradarai oleh Mel Gibson untuk tayang layar lebar pada 2004. Begitu juga dengan film Noah dan The Exodus: Gods and Kings yang rilis pada 2014. Film-film itu dilarang edar karena menggambarkan visual para nabi.
Secara resmi The Lady of Heaven dilarang beredar di bioskop dan produsernya telah menarik dari peredaran. Meski demikian film itu diperkirakan akan tetap beredar dalam edisi internet dan akan ditonton oleh banyak orang yang penasaran oleh ceritanya. Untuk mencegah bias sejarah ada yang mengusulkan dibuat forum dialog untuk meluruskan fakta sejarah Islam supaya tidak terjadi pembelokan.

BACA JUGA  Sidoarjo Berburu Talenta E-Sports: Cetak Generasi Emas Menuju Panggung Regional dan Nasional

Kalau film ini bisa beredar di Indonesia kontroversinya hampir dipastikan akan sangat luas. Akhir-akhir ini perselisihan Sunni vs Syiah di Indonesia makin tajam dengan munculnya konten-konten pro dan anti-Syiah di media sosial.

Kelompok Syiah yang minoritas kemudian merapat ke PDIP (Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan) untuk mencari perlindungan politik. Hal ini membuat sekalangan Islam Sunni Indonesia menganggap PDIP dan sayap sekular-liberal di partai itu melindungi kelompok Syiah.
Polarisasi Sunni-Syiah di Indonesia telah menjadi bagian dari polarisasi kelompok religius vs kelompok nasionalis sekuler yang sering disebut sebagai kadrun vs cebong. Pada tahun politik seperti sekarang isu ‘’The Lady of Heaven’’ bisa menjadi pemicu kontroversi yang keras antar-kalangan yang beda kubu. (*)

BACA JUGA  Sidoarjo Raih WTP 13 Kali Beruntun: Bukti Ketatnuya Tata Kelola di Tengah Pusaran Badai OTT Jawa Timur

Editr: DAD

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.