SURABAYA-KEMPALAN: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga mengundang Martin van Bruinessen dari Universitas Utrecht, Belanda untuk membahas tentang dinamika Islam di Indonesia.
“Hubungan pusat dan periferi selalu berhubungan dengan kekuasaan, pusat kekuasaan sementara periferi dianggap berbudaya lebih rendah,” ujar Martin pada kuliah tamu bertajuk Dynamics of Islam in Indonesia: The Central-Peripheral’s Perspective pada Senin (13/6).
Ia memulai kuliah tamunya dengan menjelaskan bobot demografi umat Islam di dunia, yang terbesar ada di Nigeria (Afrika) dan Indonesia (Asia Tenggara). Baginya, Islam berkaitan dengan perdagangan dalam hubungannya dengan Jalur Sutra.
Martin menyampaikan bahwa baru pada abad ke-13, pribumi Indonesia masuk Islam. Menurutnya, orang Islam asli (yang bukan darah campuran) lebih berhasil menyebarkan Islam. Adapun, penyebaran Islam yang berhasil adalah yang mampu berbaur dengan budaya setempat, salah satunya melalui tasawuf. “Memberikan sesuatu yang lebih mudah diterima oleh pribumi Indonesia,” jelasnya berkaitan dengan tasawuf.
Penyebaran Islam dilakukan oleh pribumi sendiri yang mana sejumlah ulama yang disebutkan Martin lahir di negara yang ada di Indonesia dan disuruh berangkat ke Mekkah untuk belajar.
Selanjutnya, diuraikan juga bagaimana nasib kerajaan Islam sampai dengan kedatangan Belanda yang menaklukan atau menghancurkan kerajaan Islam yang ada di Nusantara. Setelah itu, dikisahkan perkembangan pesantren dan perserikatan. “Dari kerajaan ke pesantren, dari pesantren ke perserikatan,” tuturnya berkaitan dengan dinamika pergeseran antar generasi Islam di Indonesia, terutama para Haji yang berangkat ke Tanah Suci dan kembali ke Nusantara.
“Setiap generasi yang kembali dari Tanah Suci selalu berkonflik dengan otoritas yang sudah, ada usaha mengubah praktik-praktik yang sudah ada, dianggap bid’ah, takhayul, dan churofat atas nama Islam yang lebih asli dan ototitatif,” jelasnya berkaitan dengan purifikasi Islam di Indonesia sehingga muncul anggapan ada proses arabisasi.
Menurut Martin, kelompok yang menolak budaya Indonesia adalah kelompok Salafi, tapi pesantrennya ada kurikulum Indonesianya. “Mereka yang mengirimkan anaknya untuk bersekolah ke Pesantren Salafi adalah kelas menengah,” tutur akademisi asal Belanda ini.
Namun penolakan budaya ini perlahan melunak dan menciptakan arabisasi ditambah dengan unsur budaya Indonesia. Proses Islamisasi dan Arabisasi awal ini didorong oleh habib-habib dari Hadramaut, namun sekarang justru keturunan mereka jugalah yang menolak Arabisasi Salafi.
Berkembangnya satu budaya…

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi