Sabtu, 9 Mei 2026, pukul : 17:12 WIB
Surabaya
--°C

Buya

Sepulang dari Chicago pada 1980-an, Pak Amien lebih dikenal sebagai intelektual yang kritis yang tidak takut menyuarakan pandangan-pandangannya yang berseberangan dengan rezim. Di samping menulis beberapa buku, Amien juga menerjemahkan karya-karya Ali Syariati, seperti lain ‘’Islam and Man’’ yang diterjemahkannya menjadi ‘’Tugas Cendekiawan Muslim’’. Dari pilihan topik dan tokoh yang diidolakan sudah terlihat bahwa Amien terinspirasi oleh gagasan dan gerakan tokoh intelektual yang mengobarkan revolusi Iran ini.

Buya Syafii lebih terinspirasi oleh pemikiran Fazlur Rahman, intelektual Pakistan yang menjadi suhu pemikiran pembaruan Islam yang lebih liberal. Sama dengan Cak Nur, Buya sangat terpengaruh oleh pemikiran Fazlur Rahman. Buya banyak memperkenalkan gagasan Fazlur Rahman. Puluhan buku yang ditulis Buya hampir selalu mengutip pemikiran Fazlur Rahman.

Buya Syafii juga banyak terpengaruh dengan pemikiran Muhammad Iqbal, ulama, intelektual, dan pujangga dari Pakistan. Iqbal memperkenalkan rekonstruksi pemikiran Islam dengan mengadopsi sumber-sumber intelektual Barat. Pemikiran Iqbal juga sangat sufistik, dan hal itu memengaruhi Buya yang sering mengutip Jalaluddin Rumi. Tidak heran jika Buya lebih memilih jalan progresif yang damai.

BACA JUGA: Tiga Dimensi Anies

Amien Rais lebih dekat dengan pemikiran M. Natsir dan lebih konsisten menempuh jalan politik yang dirintis Natsir melalui Masjumi. Cak Nur dijuluki sebagai Natsir Muda, tetapi pemikiran Cak Nur  mengenai penerapan syariah Islam berbeda dengan Natsir ‘’Tua’’. Amien lebih konsisten dengan pemikiran Natsir muda maupun Natsir Tua. Di mata Amien Natsir merupakan  pemimpin umat yang berhasil mengombinasikan intelektualisme dan keulamaan dengan seimbang.

Buya Syafii mengidolakan Bung Hatta. Dua-duanya sama-sama urang awak dari ranah Minangkabau. Di mata Buya Syafii, Hatta ialah sosok yang memiliki wawasan keindonesiaan dan berintegritas sebagai muslim. Bagi Buya Syafii, Bung Hatta merupakan seorang tokoh nasionalis religius yang inklusif.

Perbedaan itu tidak menghilangkan respek di antara dua pendekar itu. Bagi Buya Syafii, Amien punya jasa besar dalam hidupnya. Ia bisa kuliah di Chicago karena rekomendasi Amien. Peran Pak Amien besar ketika mendorong Buya menjadi Ketua Umum Muhammadiyah. Amien memilih turun ke jalan untuk melawan rezim Soeharto sampai akhirnya lahirlah reformasi 1998 yang ditandai dengan kejatuhan Soeharto.

Rezim Soeharo yang sentralistik sedang berada pada puncaknya ketika dua cendekia muslim ini mulai menggarap agenda reformasi pada dekade 1990-an. Pasca-Tanwir Muhammadiyah di Semarang pada 1998, Amien memilih ijtihad politik dengan menggulirkan gagasan suksesi dan reformasi total.

Isu-isu sensitif kekuasaan Soeharto yang digulirkan Amien memperoleh respon luas dari kelompok muslim yang kemudian meluas ke kalangan mahasiswa dan kelas menengah perkotaan secara umum. Gerakan civil society memperoleh momentumnya dan Amien menjadi salah satu ujung tombak yang penting.

Buya Syafii lebih konsisten dalam menjaga nafas Muhammadiyah sebagai kelompok sipil yang aktif mendorong pembaruan Islam. Pak Amien pernah meminta Buya untuk jadi ketua partai yang direncanakan akan segera dibentuk, Buya menolak tawaran itu. Buya merasa tidak cocok terjun ke dunia politik praktis.

Buya lebih memilih jalan pemikiran intelektual yang lebih sunyi. Di bawah kepemimpinan Buya Syafii, Muhammadiyah bergerak cepat dalam perubahan politik global, bukan cuma di Asia Tenggara, Muhammadiyah bergerak ke arah internasionalisasi Islam.

Buya sabar menempuh jalan sepi untuk mengampanyekan gagasan “Islam Keindonesiaan” sampai akhir hayatnya. (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.