CHERNIHIV-KEMPALAN: Total sembilan orang pekerja dari Indonesia yang bekerja di pabrik plastik Chernihiv terjebak di tengah Operasi Militer Rusia di Ukraina sejak 24 Februari silam.
Dalam ceritanya, Iskandar yang berumur 46 tahun yang bekerja sebagai quality control di pabrik plastik mengatakan bahwa ia hanya memiliki 10% kemungkinan untuk hidup.
Ia bertahan di sebuah bunker—bersama dengan 9 orang Indonesia lainnya dan 2 orang Nepal.
Anaknya yang bernama Aris juga ikut terjebak dalam bunker tersebut.
Iskandar mengatakan bahwa ia awalnya tidak tahu apa-apa, namun ketika ia sedang melihat video ketika Putin melancarkan Operasi Militer—tidak lama kemudian sudah mulai terjadi bombardir di sekitar pabrik tersebut.
“Kami semua panik dan merasa tertekan. Muka kita sudah pucat. Bahkan saya saja sudah tidak bisa tersenyum lagi. Bos kami menyuruh untuk mematikan semua mesin dan kami disana mendengarkan suara roket yang berterbangan” ucapnya.
“Suara bom makin keras tiap harinya, namun sepertinya kita masih punya nasib baik. Mungkin belum waktunya kita semua meninggal” ucap tambahnya.
Ia bersama dengan yang lainnya selamat setelah KBRI di Kyiv menyadari ada WNI yang masih terjebak—dan berupaya untuk menyelamatkan mereka.
Mereka mendapatkan telpon dari KBRI di Kyiv yang isinya intinya adalah mereka harus siap-siap untuk melakukan evakuasi.
Pada akhirnya, tanggal 17 Maret—tiga minggu setelah Operasi Militer dimulai, Iskandar bersama dengan yang lain berhasil kabur dari Chernihiv ke Kyiv dengan menggunakan bus sewaan KBRI di Kyiv.
Dari Kyiv, mereka berjalan terus ke Lviv hingga tiba di Warsawa.
Setelah itu, dari Warsawa—ia naik pesawat ke Jakarta melalui Doha.
Iskandar mengucapkan terima kasih banyak kepada semua pihak yang terlibat untuk menyelamatkan dirinya dan lainnya serta mengucapkan maaf kepada siapapun yang dengan sengaja tidak ingin ikut melainkan membantu melawan Rusia.
(Muhamad Nurilham, Aljazeera)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi