Bayangan kondisi buruk itu sekarang muncul lagi di kalangan masyarakat Rusia akibat konflik dengan Ukraina. Ketegangan dengan negara yang pernah menjadi bagian dari Uni Soviet itu sudah berlangsung sejak ambruknya sistem komunis Soviet dan negara-negara kecil itu memerdekakan diri.
Rusia selalu ingin menegaskan dominasinya terhadap Ukraina. Tetapi, Ukraina tetap mempertahankan kemerdekaannya dengan gigih. Rusia geram, tapi dipaksa untuk bersabar. Perang akan selalu memakan biaya mahal, dan salah hitung dalam perang akan berakibat fatal.
BACA JUGA: Invasi Ukraina dari Lensa Netizen Ukraina dan Russia
Peperangan militer memperebutkan wilayah yang saling berbatasan langsung adalah bagian dari sejarah panjang geopolitik internasional. Di masa perang dingin Amerika dan Uni Soviet saling gertak dan tidak pernah terlibat perang secara langsung.
Uni Soviet bisa menembakkan rudal langsung ke Finlandia yang berbatasan langsung. Finlandia yang dilindungi oleh Amerika karena menjadi bagian dari NATO (Pakta Pertahanan Atlantik Utara) selalu merasa terancam oleh Uni Soviet, karena letak wilayahnya yang berbatasan langsung.
Kendati demikian selama perang dingin hampir setengah abad tidak pernah insiden serangan langsung dari Uni Soviet ke Finlandia. Hal yang sama terjadi antara China dan Taiwan yang hanya dipisahkan oleh selat kecil. China bisa menyerang Taiwan setiap saat. Taiwan juga selalu merasa terancam oleh serangan China
Tetapi, sejak Taiwan memisahkan diri dari daratan China pada 1949 sampai sekarang tidak pernah terjadi perang terbuka. Konflik kecil seringkali terjadi, tetapi belum pernah terjadi sekalipun perang terbuka.
BACA JUGA: Banteng vs Celeng
China tentu berhitung karena Taiwan mendapat perlindungan penuh dari Amerika. Setiap saat China menyerang Taiwan, Amerika pasti siap sedia untuk membela. Karena sama-sama tahu kekuatan masing-masing maka konflik terbuka tidak pernah terjadi. Kedua belah pihak sama-sama melakukan deterrence, tindakan menahan diri.
Faktor deterrence ini menjadi salah satu rem yang pakem untuk menghindari perang. Rasa takut terhadap lawan menjadi faktor deterrence yang sangat penting. Kendati demikian, ada faktor deterrence lain yang lebih penting untuk menghindari perang, yaitu faktor keinginan untuk maju dan modern.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi