Senin, 22 Juni 2026, pukul : 01:22 WIB
Surabaya
--°C

“Isuk Dele Sore Tempe”, Ternyata Tak Mudah Diwujudkan    

Bambang Budiarto

Catatan Ekonomi Bambang Budiarto

KEMPALAN: Tidak berbeda dengan manusia, begitulah ‘barang’ yang juga dilahirkan berbeda-beda. Ada yang baik ada yang buruk, ada yang sangat dibutuhkan ada  pula yang diabaikan dalam kesehariannya. Manusia mempunyai perilaku, barang juga demikian. Di antara kita  manusia ada yang begitu sensitif terhadap ucapan, mudah tersinggung gampang marah dan emosi, barang juga tak jauh beda.

Manusia sensitif terhadap kata-kata, sensitifnya barang adalah terhadap perubahan harga, yang dalam bahasa anak kuliahan disebut elastisitas. Setiap barang mempunyai elastisitas, memiliki sensitifitas yang berbeda-beda terhadap perubahan harga.

Ada yang karena perubahan harga sedikit saja, langsung diikuti perubahan atas jumlah barang yang diminta begitu besar. Sebaliknya, ada juga barang yang meskipun terdapat perubahan harga cukup besar tapi perubahan atas jumlah barang yang diminta dalam masyarakat ternyata kecil-kecil saja. Jika ditelaah lebih lanjut, terdapat lima jenis elastisitas permintaan barang yang berbeda.

Air memiliki nilai guna cukup tinggi namun harganya rendah, sementara intan sejatinya nilai gunanya rendah ternyata justru lebih terhormat memiliki harga tinggi.

Memasuki tahun 2022 kepada kita ditunjukkan fakta betapa elastisitas setiap barang memang berbeda-beda. LPG non subsidi, rokok, minyak goreng, dan kedele, adalah barang-barang yang cukup menyita perhatian publik karena pergerakan harganya. LPG non subsidi, sangat dibutuhkan dan dikonsumsi cukup tinggi oleh masyarakat, namun kenaikan harganya tidak membuat perubahan yang cukup signifikan.

BACA JUGA  Jepang Naikkan Biaya Visa hingga Lima Kali Lipat Mulai Juli 2026

Rokok, barang yang selalu dikuyo-kuyo dan selalu diusahakan untuk dijauhi, diberi label membahayakan dan merugikan masyarakat, dipasangi cukai tinggi. Faktanya, dari waktu ke waktu tetap menunjukkan eksistensinya. Tidak ada oligopoli produk ini berkeluh kesah biaya produksi. Keberadaan cukai pembebanannya memang digeser ke konsumen akhir, namun belum pernah ada demo konsumen akhir (baca: perokok) atas tingginya harga rokok. Semua tetap berjalan seperti apa adanya, normal.

Sementara minyak goreng adalah yang paling meriah di awal 2022. Dimulai ide meniadakan minyak goreng curah, isu minyak goreng hilang di pasaran, isu penimbunan, sampai penetapan HET, seluruhnya terjadi seiring harga minyak goreng yang terus berfluktuasi.

Yang terkini tentu saja kedele. Dengan bahasa kecukupan hasil produksi tak sebanding dengan kebutuhan, pemenuhan ekspor, tata niaga, dan lain-lain, jadilah kedele  yang biasanya Rp 9.000,00 naik kelas di kisaran Rp 11.500,00.

Menjeritlah pengrajin tahu juga tempe dan lainnya yang berbahan kedele, di-amini oleh petani, maka diproklamirkanlah ‘3 hari mogok nasional’. Berhenti berproses produksi. Sejatinya keberanian mogok ini perlu dikaji. Tempe memang disukai masyarakat di hampir seluruh lapisan masyarakat, namun harus diingat bahwa tempe mempunyai banyak substitusi.

Harus disadari juga bahwa tempe adalah barang inferior. Barang yang hanya akan sangat dibutuhkan pada saat orang pendapatannya rendah, lambat laun ditinggalkan ketika pendapatan orang tersebut tinggi. Artinya, masyarakat sebenarnya juga siap meninggalkan barang-barang inferior, termasuk tempe. Dengan situasi yang demikian, tentu yang kembali lebih bersedih adalah pengrain tempe.

BACA JUGA  Sengit Layaknya PON, Kecamatan Sidoarjo Juara Umum Akuatik PORKAB 2026

Tak mudah menjadi kedele tidak gampang berpredikat tempe. “isuk dele sore tempe” adalah peribahasa Jawa yang menggambarkan inkonsistensi seseorang dalam berperilaku, namun dalam arti yang sesungguhnya ternyata sulit diwujudkan membuat tempe dalam waktu sehari, isuk sampek sore.

Meskipun LIPI sejak 10 tahun lalu telah merilis alat yang mampu membuat tempe dalam 4 jam, faktanya masyarakat masih lebih percaya dan lebih memilih berproduksi secara tradisional. Membuat tempe dengan fermentasi di kisaran 40 jam masih menjadi pilihan, tetap lebih dipercaya kualitas konsumsinya.

Inilah istimewanya tempe, barang inferior yang mampu “duduk” sejajar dengan barang superior lain di hotel dan resto kelas atas. Isuk dele sore tempe memang  sulit dilakukan, pun seperti itulah stabilitas harganya yang juga tak mudah diwujudkan.

Pertanyaannya sekarang adalah, jika bukan dengan mogok nasional produksi tempe, dengan cara apa lagi untuk dapat menekan harga kedelai ini? Salam. (Bambang Budiarto – Dosen Ubaya, Pengamat Ekonomi ISEI Surabaya, Redaktur Tamu Kempalan.com)

Editor: Freddy Mutiara

 

 

 

 

 

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.