
Catatan: Hambali Rasidi, kontributor kempalan
KEMPALAN-Cak Nico meninggal dunia. Rabu siang itu (16/2/2022). Di sejumlah Grup WhatsApp IKA PMII, berisi ucapan duka atas meninggalnya Cak Nico.
Saya tak bisa mengurai panjang di Grup-Grup WhatsApp IKA-PMII. Pingin merangkai kata-kata indah untuk mengenang kebaikan Cak Nico. Seketika wajahnya membayangi pandangan.
Beberapa jam setelah itu. Saya mohon ijin untuk menulis apa yang saya alami. Apa yang saya saksikan selama ‘nyantri’ ke Cak Nico sebagai kader PMII yang baru tinggal di Surabaya.
Baru setahun ada di Surabaya. Beberapa bulan selesai ikut pelatihan kader dasar (PKD). Saya bisa diterima berkumpul dengan senior-senior yang aktif di pengurus Koorcab Jatim.
Tentu bukan karena saya memiliki keunggulan. Tapi atas kebaikan Cak Nico-yang mula-mula menganggap- siapa saja yang usianya lebih muda, ia panggil alek (adik,red). Termasuk saya.
Panggilan alek kepada saya yang menyulut imaji orang Madura sebagai pengakuan jika masih satu keluarga. Bersaudara. Meski Cak Nico kelahiran Puger, Jember. Tapi ia mengaku kakek buyutnya asli Sumenep.
Sebagai anak urban. Anak pulau-di seberang Pulau Madura. Saya merasa menemukan dunia baru. Bisa berkumpul dengan para aktivis PMII yang memiliki kedekatan dengan para petinggi Jawa Timur. Seperti, Kapolda Jatim. Pangdam V Brawijaya. Termasuk Gubernur Jawa Timur, waktu itu Basofi Sudirman.
Cak Nico menjabat Ketua Umum PKC PMII Jatim. Saya baru semester tiga. Cak Nico sering ngajak saya untuk sekedar menemaninya. Ikut menyaksikan apa yang dilakukan para aktivis PMII Jawa Timur terhadap bangsa dan negara.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi