Doktrin Goebbels Jadi Model
Argentum ad nausem, atau populer biasa disebut sebagai Big Lie (kebohongan besar), itu teknik ramuan Joseph Goebbels. Sebagai menteri Propaganda Nazi, Goebbels sukses menjual propaganda kebohongan. Goebbels bisa disebut sebagai Bapak Kebohongan.
Teknik yang dipakai adalah menyebarkan berita bohong, terutama melalui media massa (cetak), semasif dan sesering mungkin. Hingga pada akhirnya kebohongan itu dianggap sebagai sebuah kebenaran.
Ajaran paling populernya sampai sekarang dipakai para penyebar berita-berita hoax. Goebbels jadi model menipu nalar publik.
“Kebohongan yang dikampanyekan secara terus-menerus dan sistematis akan berubah menjadi (seolah-olah) kebenaran.”
Itulah doktrin Goebbels.
Maka pola yang digunakan dalam penyebaran hoax para buzzer dalam menggebuk Anies Baswedan, tentang intoleran dan diskriminatif, sama dengan yang diajarkan Goebbels. Hajar terus meski dengan berita tanpa data. Pemberitaan hoax yang terus dicekokkan, jika tanpa kounter narasi, lambat laun menjadikan masyarakat mempercayai.
Pola ndablek yang dimainkan. Jangan berharap pada penyebar hoax mampu membuktikan tuduhan intoleran dan diskriminatif. Mustahil mereka bisa buktikan, karena memang tidak ada bukti yang bisa diberikan. Namun memproduk ujaran yang kebenarannya nol, itu akan terus dilakukan.
Mereka memang di- setting untuk hanya memberitakan berita yang tidak sebenarnya. Menggunakan komunikasi searah. Tidak timbal balik dengan memberi pertanggungjawaban atas apa yang disampaikan.
Pada era media sosial seperti sekarang ini, tentu penyebaran berita hoax secara masif dan terus-menerus pastilah akan lebih dahsyat, ketimbang di era Goebbels dulu. Era Goebbels hanya mengandalkan media cetak, yang efektivitasnya pastilah tidak sedahsyat saat ini. Di mana berita bisa dibuat tiap detik, tidak harus menunggu sehari.
Anies Baswedan diserang isu-isu hoax, itu tampaknya akan terus dilakukan saban waktu. Tinggal bagaimana menangkis berita-berita hoax secara masif dan terus-menerus bisa dilakukan. Agar berita hoax yang diproduksi tidak dengan mudah melenggang masuk di benak publik, yang menganggap sebagai kebenaran.
Perang opini dua kubu ini akan diuji. Seberapa efektif hoax disebar, dan seberapa kuat hoax ditangkal agar publik tidak mempercayai berita bohong itu begitu saja. Wallahu a’lam. (*)
Editor: Muhammad Tanreha

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi