Ini bukan kali pertama HBS mendapat ancaman kekerasan. Sebelumnya dia mendapat ancaman dari beberapa orang yang memakai kostum loreng yang secara eksplisit menyuarakan ancaman terhadap HBS yang dianggap menyinggung pimpinan dan institusi TNI (Tentara Nasional Indonesia)
HBS mempunyai gaya orasi yang berapi-api. Gaya pidatonya ketika berceramah keras dan sering tajam. Hal yang sama dilakukan oleh pendakwah asal Jawa Timur Sugi Nur Rahardja yang lebih dikenal sebagai Gus Nur. Dua pendakwah itu punya gaya ceramah yang mirip karena sama-sama tajam dan bertenaga.
HBS yang berasal dari Sulawesi berbicara dengan intonasi tinggi dengan dialek Sulawesi campuran Betawi. Gus Nur yang asli Jawa Timur sangat kental dengan dialek Jawa Timur yang medok. Dalam berbagai unggahannya Gus Nur sering memakai istilah-istilah yang sering dianggap sebagai umpatan.
Dalam perspektif budaya, gaya bicara masyarakat Sulawesi dan Jawa Timur bisa dikategorikan sebagai ‘’low context culture’’ atau budaya konteks rendah. Budaya ini ditandai dengan cara berkomunikias yang lebih langsung dan tidak berbelit-belit.
Dalam masyarakat yang berbudaya konteks rendah percakapan dilakukan secara lebih egaliter dan akrab tanpa ada strata atau tingkatan sosial. Karena itu percakapannya sering terdengar kasar dan terkadang diselipi dengan ungkapan-ungkapan yang terasa sebagai makian. Tetapi, dalam tata pergaulan masyarakat konteks rendah makian itu justru dianggap sebagai ungkapan keakraban dan kedekatan.
Sebaliknya, masyarakat berbudaya konteks tinggi banyak mempergunakan bahasa simbolis dalam berkomunikasi. Selain itu bahasa yang dipakai juga mempunyai strata untuk membedakan status sosial dengan banyak jenjang dan tingkatan.
Dalam Bahasa Jawa ada bahasa ‘’ngoko, kromo, dan kromo inggil’’. Ngoko dipakai untuk berkomunikasi dengan seseorang yang sederajat, kromo dipakai untuk berbicara kepada orang yang lebih tua atau lebih tinggi derajatnya, dan kromo inggil adalah bahasa halus tertinggi yang dipakai di kalangan elite sosial Jawa.
HBS dan Gus Nur memakai gaya komunikasi konteks rendah dalam ceramah-ceramahnya, karena itu ceramahnya sering terdengar keras dengan idiom-idiom yang terasa sebagai caci-maki. Karena itu pula gaya komunikasi konteks rendah ini lebih berpotensi terjaring oleh pasal ujaran kebencian seperti yang dialami oleh Gus Nur.
Hal yang sama dilakukan oleh HBS. Dalam salah satu ceramahnya yang viral dia mengancam akan menghabisi orang-orang yang dianggap berkhianat terhadap Habib Rizieq Shihab. Pernyataan HBS ini menjadi viral di media sosial dan menuai kontroversi dari berbagai kalangan. Menghabisi dikonotasikan sebagai membunuh, meskipun sebenarnya tidak selalu demkian.
HBS juga menuai kontroversi ketika berbicara mengenai KSAD Jenderal Dudung Abdurrachman. Dalam ceramah itu BHS menyindir Jenderal Dudung yang disebutnya sebagai jenderal baliho yang menurunkan baliho Habib Rizieq. HBS mempertanyakan Jenderal Dudung yang tidak datang ke Lumajang untuk membantu korban letusan Gunung Semeru.
Ceramah itu beredar luas menjadi viral dan mendapat reaksi dari banyak kalangan, termasuk dari beberapa orang yang memaki seragam loreng. Jenderal Dudung diketahui sudah berkunjung ke Lumajang dan menyerahkan bantuan kepada korban Gunung Semeru. Rupanya, ceramah HBS dilakuan sebelum kunjungan Dudung ke Semeru.
HBS mendapat ancaman verbal dari orang berpakaian loreng. Dengan suara lantang pria itu menyatakan akan mencari HBS karena dianggap sudah menghujat Jenderal Dudung dan menyinggung institusi TNI.
Dalam video itu pria berseragam loreng terlihat memegang sebuah kayu dan terlihat sangat provokatif. Ia mengingatkan HBS supaya tidak memprovokasi masyarakat dengan menghina TNI. Pria loreng itu menumpahkan kemarahannya dan mengancam akan mencari HBS.
HBS menjadi langganan laporan ujaran kebencian. Kali ini Polda Jawa Barat menerima laporan ujaran kebencian yang diduga dilakukan HBS dalam sebuah ceramahnya di wilayah Jawa Barat. Belum jelas apa materi ujaran kebencian itu. HBS yang sudah didatangi anggota Polda Jawa Barat mengakui bahwa ia melakukan ujaran kebencian. Tetapi, ujaran kebencian itu ditujukan kepada mereka yang melakukan kezaliman, kejahatan, dan kemungkaran.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi