Sabtu, 18 April 2026, pukul : 15:15 WIB
Surabaya
--°C

Dudung

Kasus semacam ini pernah menimbulkan kontroversi ramai pada 2005. Seorang mantan petinju bernama Yusman Roy mendirikan Pondok I’tikaf Ngaji Lelaku di Malang. Salah satu ajaran yang diamalkan adalah melakukan shalat dengan memakai Bahasa Indonesia.

Ajaran Yusman Roy ini mendapatkan reaksi keras dari para ulama termasuk dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Malang. Yusman dilaporkan ke polisi dan kemudian dibawa ke pengadilan. Hakim memutuskan Yusman terbukti melakukan pelecehan agama dan menjatuhkan vonis dua tahun penjara.

Selesai menjalani hukuman Yusman balik lagi mengasuh pondoknya. Dia juga tetap menjalankan ritual shalat berbahasa Indonesia. Menurut Yusman, semua yang dia amalkan ada dalilnya dalam Alquran. Menurut Yusman, dirinya bukan orang Arab dan Allah memahami semua bahasa. Karena itu itu Yusman tetap menjalankan ritual shalat berbahasa Indonesia.

Almarhum Gus Dur pernah menyampaikan pendapat yang dianggap nyeleneh ketika mengusulkan mengganti ‘’Assalamu alaikum’’ dengan ‘’selamat pagi’’. Menurut Gus Dur, dua ungkapan salam itu mempunyai esensi yang sama, dan kerena itu ‘’selamat pagi’’ bisa dijadikan pengganti ‘’Assalamu alaikum’’.

Pernyataan itu menjadi kontroversi nasional. Bahkan kalangan NU sendiri tidak sepenuhnya bisa menerima pemikiran Gus Dur itu. Pada Muktamar NU di Pensatren Krapyak, Yogyakarta, 1989, Gus Dur ‘’diadili’’ dan diminta mempertanggungjawabkan pendapatnya.

Gus Dur, seperti biasa, dengan santai mengatakan, banyak orang Indonesia yang tidak fasih mengucapkan Bahasa Arab, atau bisa mengucapkan tetapi tidak paham maknanya. Banyak orang di pedesaan yang hanya mengerti ‘’sugeng enjing’’ atau ‘’punten’’ ketika menyapa orang. Banyak orang yang hanya bisa mengucapkan ‘’selamat pagi’’ dan kesulitan mengucapkan ‘’Assalamu alaikum’’ secara benar.

Gus Dur terkenal dengan ungkapannya ‘’gitu saja kok repot’’. Penjelasan Gus Dur yang sederhana membuat peserta muktamar tersenyum. Tetapi, kontroversi di kalangan intelektual Islam masih tetap panas. Assalamu alaikum adalah ajaran Islam yang mengandung doa, sementara ‘’selamat pagi’’ adalah ungkapan budaya, karena itu tidak bisa menggantikan salam yang menjadi ajaran agama.

Gagasan pribumisasi Islam ala Gus Dur ini menjadi wacana yang kontroversial sampai sekarang. belakangan muncul wacana Islam Nusantara yang mirip dengan pribumisasi Islam ala Gus Dur. Gagasan Islam Nusantara memisahkan unsur budaya Arab dengan ajaran inti Islam. Yang harus diadopsi adalah ajaran Islam, bukan budaya Arabnya.

Konsep Islam Nusantara ditolak oleh banyak kalangan karena dianggap sebagai bagian dari agenda politik untuk proyek deradikalisasi Islam. Islam Nusantara ditolak karena dianggap mempromosikan ‘’Jawanisasi Islam’’ yang mengerdilkan Islam menjadi lokal dan tidak sesuai dengan prinsip Islam yang ‘’rahmatan lil alamin’’.

Kampanye Islam Nusantara mulai jarang terdengar, dan sekarang muncul kampanye moderasi beragama yang disponsori oleh Kementerian Agama di bawah Yaqut Choliel Qoumas. Sama dengan gerakan Islam Nusantara, gerakan moderasi beragama juga menimbulkan kontroversi di kalangan umat, karena dianggap tidak sesuai dengan prinsip penerapan Islam yang kaffah, yang total dan holistik.

Ungkapan Dudung mengenai doa Bahasa Indonesia bisa dilihat sebagai bagian dari gerakan kampanye moderasi beragama. Demikian pula ketika beberapa waktu yang lalu Dudung menyebut bahwa semua agama benar di mata Tuhan.

Manuver terbaru ini menunjukkan bahwa Dudung adalah jenderal yang piawai dalam memainkan isu-isu politik. Sangat mungkin, Jenderal Dudung punya target politik pribadi dengan manuver-manuver ini. (*)

Editor: Reza Maulana Hikam

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.