ANKARA-KEMPALAN: Kepolisian Turki melemparkan gas air mata dan peluru karet ke ribuan lebih pendemo pada Kamis (25/11). Sekitar lebih dari seribu pendemo, yang mayoritasnya perempuan memenuhi jalanan utama di Istanbul dalam hari perayaan International Day for Elimination of Violence against Women (Terj: Hari Internasional Penghapusan Kekerasan kepada Perempuan).
Demo besar-besaran yang berhasil memobilisasi massa secara nasional tersebut terjadi karena adanya upaya untuk mendesak pemerintah Turki untuk kembali bergabung dalam Istanbul Convention yang merupakan perjanjian internasional untuk melindungi perempuan diseluruh dunia.
Sesuai dengan namanya yaitu Istanbul Convention, Turki merupakan negara yang pertama kali menandatangi perjanjian tersebut. Namun, Turki juga menjadi negara pertama yang keluar dari perjanjian tersebut.
Erdogan mengatakan bahwa perjanjian tersebut telah disusupi dengan kelompok yang mencoba menormalisasikan homoseksual.
Perempuan yang ada di Turki telah melakukan demonstrasi besar-besaran selama dua kali dalam tahun ini.
Yang pertama dilakukan pada bulan Maret ketika Erdogan mengumumkan rencana keluar dari perjanjian tersebut.
Yang kedua dilakukan pada bulan Juli ketika Turki memang benar-benar keluar dari perjanjian tersebut.
Erdogan mengatakan bahwa hukum dan peraturan yang ada di Turki pada saat ini sudah mampu untuk melindungi perempuan yang ada sehingga tidak perlu lagi bergabung dalam perjanjian internasional.
Pada tahun 2021 saja, melansir dari Aljazeera, terdapat 285 perempuan yang terbunuh di Turki.
“Angka tersebut bukan hanya sebagai statistik saja, hal ini sudah menjadi bagian dari kemanusiaan. Kami harus menanggapi permasalahan tersebut secepat mungkin. Kami tidak memberi toleransi bagi siapapun yang membunuh perempuan di Turki” ucap Suleyman Soylu yang merupakan aktivis dari We Will Stop Femicide.
(Aljazeera, Muhamad Nurilham)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi