Swedia adalah negara kerajaan penganut sistem monarki konstitusional. Raja menjadi kepala negara dan perdana menteri menjadi kepala pemerintahan yang menjalankan roda kekuasaan rutin. Swedia menerapkan sistem Westminster ala Inggirs. Perdana menteri dipilih dari anggota parlemen dengan kursi mayoritas, baik mayoritas tunggal maupun mayoritas karena koalisi.
Dalam kasus Andersson, Partai Hijau atau Green Party, yang mendukung koalisinya, mundur hanya beberapa jam setelah Andersson dilantik. Keputusan itu diambil Partai Hijau usai parlemen Swedia menolak rancangan anggaran yang diajukan oleh koalisi dua partai tersebut.
Meskipun telah mengundurkan diri, Andersson–yang berasal dari Partai Sosial Demokrat yang dominan di Swedia–berharap bisa kembali ditunjuk sebagai perdana menteri dari pemerintahan partai tunggal. Andersson mengambil jabatan perdana menteri dari Stefan Lovfen, yang juga menjabat sebagai ketua Partai Sosial Demokrat.
Prospek Andersson untuk diangkat kembali cukup besar, karena partai-partai lain menyatakan dukungannya. Partai Hijau menjanjikan dukungan baru terhadap Andersson, sedangkan Partai Tengah (Centre Party), menyatakan abstain. Dalam praktiknya, abstain sama dengan mendukung pencalonan perdana menteri.
Swedia adalah negara paling makmur dan paling aman di dunia. Sama dengan negara-negara tetangganya di wilayah Skandinavia seperti Denmark, Norwegia, Finlandia, dan Islandia, Swedia menerapkan sistem pemerintahan monarki-konstitusional dengan sistem ekonomi sosialis yang sangat berpihak kepada kesejahteraan masyarakat.
Lanskap politik di negara-negara Skandinivia dikuasai oleh kelompok sosialis kiri dan tengah. Partai Sosial Demokrat yang berhaluan sosialis kiri menjadi partai paling dominan di Swedia. Selain itu ada juga partai yang beraliran tengah yang moderat, dan ada juga partai beraliran kiri yang lebih radikal seperti Green Party atau partai hijau. Partai ini banyak didukung oleh aktivis lingkungan yang biasanya berideologi kiri.
Model politik negara-negara Skandinavia ini sama dengan Jerman yang juga didominasi oleh Partai Sosial Demokrat. Di negara-negara Skandinavia, partai-partai liberal kiri dan partai konservatif kanan—seperti Partai Republik dan Partai Demokrat di Amerika—tidak mendapat dukungan rakyat.
Amerika Serikat dan Swedia adalah potret dua negara Barat modern yang sama-sama maju tapi menempuh jalur poitik dan ekonomi yang berbeda. Amerika menempuh jalan politik liberal dan konservatif yang ekstrem, sedangkan Swedia mengambil jalan kiri tengah yang moderat.
Ekonomi Amerika Serikat dibangun dengan sistem neo-liberal yang juga ekstrem. Baik Partai Demokrat maupun Partai Republik sama-sama ekstrem dalam kebijakan ekonominya. Dua-duanya sama-sama pro-pasar dan pro-modal besar dalam persaingan free hand yang tak mengenal batas.
Model pembangunan ekonomi Amerika yang liberalistik-kapitalistik ini menjadi model pembangunan yang dipaksakan ke seluruh dunia, termasuk ke Indonesia. Padahal di Eropa model pembangunan ekonomi Amerika tidak laku. Hanya Inggris yang menjadi penganut setia Amerika. Negara-negara Eropa lainnya lebih menganut sistem sosial demokrat dengan pendekatan ‘’welfare state’’, negara kesejahteraan, yang lebih peduli terhadap kesejahteraan rakyat.
Negara-negara Skandinavia terkenal dengan sistem ekonomi yang menjadikan koperasi sebagai poros kekuatan. Dengan sistem itu negara-negara Skandinavia sukses menjadi negara dengan tingkat kesejahteraan dan kemakmuran paling tinggi di dunia.
Para founding fathers Indonesia sudah meletakkan dasar-dasar ekonomi dengan menjadikan koperasi sebagai soko guru. Mohammad Hatta sudah meletakkan dasar-dasar pembangunan ekonomi nasional berdasarakan prinsip kesejahteraan bersama melalui koperasi, yang lebih sesuai dengan kultur bangsa Indonesia.
Sistem ekonomi kesejahteraan welfare state ini terbukti sukses di Eropa dan Skandinavia. Kisah sukses Swedia dan negara-negara sekitarnya menjadi bukti yang tidak terbantahkan. Tapi, sayang, Indonesia lebih kesengsem dengan model pembangunan neo-liberal persaingan gorok leher ala Amerika.
Harusnya Indonesia meniru langkah Swedia, bukan mengekor ke Amerika. (*)
Editor: Reza Maulana Hikam

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi