Dulu, belum banyak media lokal melakukan liputan seperti yang ditugaskan oleh Bang Valens kepada saya. “Catat semua yang kamu lihat, ” begitu kata Bang Valens meminta saya untuk melihat ekspresi ayah, ibu, dan saudara-saudara Vera saat pertarungannya melawan Lene Koppen.
Banyak hal terjadi dan menjadi kenangan tersendiri. Ada juga ‘perdebatan’ terkait rencana Vera berpindah keyakinan. Ya, intinya liputan itu menjadi terobosan bagi pers kita. Bos saya, Bang Valens memang selalu selangkah di depan.
Selepas liputan itu, Vera yang memang terbilang paling ramah di antara atlet pelatnas bulutangkis, menurut pandangan saya yang saat itu masih menjadi wartawan muda, menjadi dekat dengan saya. Obrolan saya dengan keluarga Vera selalu menjadi topik utama setiap kami ketemu.
Apalagi saat Vera memperkenalkan Fajrin, calon suaminya. Beberapa kali kami ngobrol sangat akrab. Hijrahnya Vera ke agama islam, semakin membuat Vera menjadi orang yang paling baik.
Sayang, selepas tahun 1983, saya ditarik oleh Bang Valens dari liputan bulutangkis full ke sepakbola lokal. Tetapi setiap saya melewati Jl. Manila, mess atlet bulutangkis, saya biasa menyempatkan diri ngobrol jika kebetulan ketemu Vera.
Vera selalu tertarik tentang diskusi saya dengan ayahnya. Ya, kecemasan seorang ayah pada anaknya yang pindah keyakinan. Argumen-argumen saya yang agak nyeleneh, tapi akhirnya bisa dipahami, membuat Vera senang.
Lama tak jumpa, tiba-tiba saya dengar Vera sakit. Dan belum sempat menjenguk, kemarin dapat kabar Vera kritis. Dan, tadi pagi, hp saya kembali menerima info tentang berpulangnya Vera.
Bayang saya langsung menerawang ke tahunn1980an, saya pertama bertemu bintang bulutangkis itu. Saya masih merekam tawa dan senyumnya. Suaranya masih seperti tersisa di telinga saya.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi