Sabtu, 25 April 2026, pukul : 07:22 WIB
Surabaya
--°C

Muhibah Politik Anies

Tindakan nekat Bouazizi dilakukan untuk menegaskan martabat dan identitasnya. Fukuyama menyebut sumber identitas sebagai ‘’thymos’’, yaitu bagian dari jiwa yang membutuhkan pengakuan dan martabat.

Thymos mempunyai dua bentuk, yaitu ‘’isothymia’’, tuntutan untuk dihormati atas dasar kesetaraan dengan orang lain, dan megalothymia, keinginan untuk diakui sebagai golongan yang lebih unggul.

Dua keinginan yang terkesan berlawanan ini menurut Fukuyama dapat saja berjalan seiring. Misalnya, seorang pemimpin yang ingin tampil di depan dan diakui kekuasaannya secara mutlak (megalothymia), menggerakkan pengikutnya dengan memainkan sentimen berdasarkan kebencian dan perasaan tidak dihargai dari kelompok tersebut (isothymia).

Perlakuan yang tidak adil terhadap kelompok tertentu akan memicu tuntutan terhadap pemenuhan martabat atau isothomya. Sebaliknya, sikap sok kuasa dan adigang adigung adiguna adalah sikap megalothymia yang akan memicu munculnya tuntutan akan martabat.

Bagi pendukung Habib Rizieq perlakuan tidak adil adalah kesewenang-wenangan yang bersikap megalothymia. Menghadapi kesewenang-wenangan itu mereka menunjukkan identitas untuk memperkuat martabat dan marwah. Bagi orang lain sikap bermartabat dan bermarwah itu secara serampangan disebut sebagai bentuk politik identitas.

Diskursus mengenai politik pengakuan dan martabat terus berkembang sampai di persimpangan antara pengakuan universal atas hak-hak individu, dan cabang lainnya mengarah pada peryataan identitas kolektif yang dimanifestasikan dalam bentuk nasionalisme dan agama yang dipolitisasi.

Dalam hal agama yang dipolitisasi, Fukuyama juga menyebut islamisme di awal abad 20 sebagai tuntutan atas pengakuan status khusus untuk Islam sebagai dasar komunitas politik. Ia melihat fenomena nasionalisme maupun islamisme muncul sebagai ekspresi identitas kelompok yang merespon modernisasi dan perubahan sosial serba cepat yang merusak bentuk-bentuk komunitas yang mapan.

Fukuyama menegaskan bahwa tidak ada yang salah dari politik identitas, sebab ia merupakan respon alami dan tak terhindarkan dari ketidakadilan yang terjadi. Namun, ia berubah menjadi masalah saat identitas ditafsirkan atau ditegaskan dengan cara tertentu, misalnya tindakan kekerasan seperti terorisme, atau tindakan memisahkan diri seperti separatisme, atau mengganti dasar negara menjadi negara agama.

Di Amerika Serikat politik identas menguat karena terjadi ketidakadilan ekonomi dan keterancaman kultural. Masyarakat konservatif Amerika merasa bahwa liberalisme ekonomi mengancam kepentingan nasional, antara lain, karena mengalirnya imigran ke Amerika. Liberalisme juga menjadi ancaman kultural karena maraknya LGBT (lesbian, gay, bisksual, dan transgender) yang bertentangan dengan nilai-nilai moral dan agama.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.