KEMPALAN: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan bahwa sebuah proyeksi mitigasi bencana yang mengungkapkan bahwa di kawasan lereng atau kaki Gunung Arjuno yang berada di Kota Batu, Malang Jawa Timur. Berpotensi untuk mengalami bencana alam berupa longsor dengan risiko menengah ke tinggi.
Abdul Muhari selaku Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB membeberkan bahwa tanaman yang tumbuh di sekitar lereng Gunung Arjuno merupakan tanaman musiman seperti sayuran, sehingga tidak memiliki akar kuat yang mengikat tanah dan menyimpan air.
“Potensi longsor di Kota Batu, kita lihat di kawasan perbukitan di kaki Gunung Arjuno itu merupakan kawasan potensi longsor dengan tingkat risiko menengah tingkat tinggi,” terang Abdul dalam konfirmasi nya saat melakukan konferensi pers secara daring, Sabtu (6/11).
Abdul juga menambahkan, bahwa kondisi lereng Gunung Arjuno yang ‘rapuh’ tersebut, ditambah dengan aliran sungai yang tidak lebar juga dapat menjadi salah satu faktor banjir bandang yang menerjang enam kecamatan di Kota Batu pada 4 November lalu.
Dirinya juga mengatakan, longsoran material tanah pasir di kaki Gunung Arjuno kemudian dapat bertemu pada saluran air sehingga mengirimkan luapan air lumpur ke hilir. Ia menyebut, material tersebut tidak hanya terdiri dari pasir melainkan juga pohon-pohon tak kuat yang ikut tumbang.
“Jadi ada bendung, ada intensitas hujan tinggi, debit air di hulu menjadi lebih besar. Ini kemudian airnya tertahan, dan ketika dia melintas, si bendung alam ini hancur dan membawa tidak hanya material pasir, tapi volume air besar beserta pohon-pohon,” ucapnya.
Hujan yang memiliki intensitas tinggi seperti yang mengguyur Kota Batu pada 4 November pukul 14.30 WIB kemarin juga menyebabkan enam titik lokasi di Kota Batu tergenang banjir bandang. Enam wilayah yang terdampak itu yakni Desa Sidomulyo, Desa Bulukerto, Desa Sumber Brantas, Desa Bumiaji, Desa Tulungrejo, dan Desa Punten.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu kemudian kembali melaporkan bahwa korban meninggal dunia dari musibah banjir bandang tersebut berjumlah tujuh orang. Sementara itu korban selamat terdata berjumlah enam orang, serta tidak ada lagi warga yang dilaporkan hilang.
Akibat musibah air bah ini, setidaknya 89 Kepala Keluarga (KK) terdampak, 35 unit rumah sakit rusak, 33 unit rumah warga terendam lumpur. Kemudian 30 unit sepeda, 73 unit sepeda motor, 7 unit mobil, lalu 10 unit kandang ternak dan 107 ekor hewan ternak juga ikut terendam dalam insiden banjir kali ini. (cnnindonesia/Akbar Danis)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi