Yang pertama tak usah menyangkal bahwa kita memang sedang sedih, lalu cari dan sadari apa penyebabnya. Mendekatlah pada Allah, dengan melakukan shalat di tengah malam, lalu mengadu kepada-Nya.
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d, Ayat 28).
Jauhi atau hindari hal-hal yang memicu atau menjurus pada perasaan sedih, perbanyaklah kesibukan, mohonlah kesabaran dan tetap bersyukur kepada Allah.
اَلَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ
(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali).(Q.S Al-Baqara, Ayat 156).
Bahkan sebagai seorang Muslim, kita harus mampu menjadi pribadi yang menebarkan manfaat pada sesama, memberi solusi, jika pun tidak demikian, setidaknya bukan yang malah menambah masalah.
Sedih tak boleh kita tularkan, bahkan yakinlah sebagaimana Allah telah menguatkan kita, maka kita pun mampu menguatkan sesama.
“Dan sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Al-Qadlaa’iy dalam Musnad Asy-Syihaab No. 129, Ath-Thabaraaniy dalam Al-Ausath No. 5787).
“Sesungguhnya sebaik-baik orang di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Bukhari No. 6035).
Satu hal lagi yang kusaksikan dari Ibu ini ialah Ia tak merasa perlu harus membebani anak-anaknya, misalnya untuk menolongnya berjalan, karena ia sudah merasa mampu dan tertolong dengan menggeser kursi lipat sebagai pengganti tongkat. Kumaknai ini sebagai perasaan bersyukur yang dalam, ia tak menyesali apa yang telah hilang dari dirinya, karena ia masih memiliki banyak hal sebagai karunia-Nya.
Mengingat banyak hal menyenangkan dimasa lalu tak selalu berarti bahwa kita tak pernah mengalami kesedihan, tapi ini adalah pilihan cerdas dan bijak.
Ibu ini punya banyak cerita menarik tentang kriterianya dalam memilih teman, yaitu ia lebih suka berteman dengan yang pintar, ia bisa detail menceritakan kebiasaan teman sekolahnya.
Ibu yang Masyaa Allah, ia bukan saja tak mau bersedih, ia bahkan berharap tak ada yang diingat orang disekitarnya kecuali kenangan yang indah. Ketika mempersilakan saya mencicipi hidangan dan saya memilih salah satunya, ia bertanya mengapa saya memilih kue itu, saya jawab karena saya suka kue yang praktis dan tidak kotor ditangan. Dengan cekatan ia menyahut, sama dengan dirinya, dan sejak pagi tadi sudah mencoba dua…, saya jadi tersenyum lebar.
Tak ada kesedihan ketika bersama kakak dan adik harus meninggalkan rumahnya, kami yakin in syaa Allah suatu saat bisa bersilaturahmi lagi.
Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memanjangkan usianya dalam kesehatan dan ketaatan kepada-Nya… Aamiin.
Editor: Reza Maulana Hikam

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi