Benny sendiri merupakan atlet kawakan di cabor Aeromodeling. Pria kelahiran 1961 ini sudah membela Jatim sejak PON IX/1977Jakarta dan selalu dapat medali emas, hingga sekarang. “Saya tidak menghitung, sudah berapa medali emas yang saya kumpulkan. Pokoknya banyak,” tutur Benny.
Sedang anaknya, Erick Limanhadi, kali pertama tampil di PON XVI/2004 Palembang. Kala itu belum dapat medali. Baru PON XVII/2008 Samarinda, Kaltim, ia mempersembahkan medali emas.
“Sejak itu Erick semakin matang dan selalu merebut medali emas setiap tampil di PON. Saya lihat dia memang punya feeling terbang bagus di Aeromodeling,” puji Benny yang mengaku melatih sendiri Erick sejak masih berusia 4-5 tahun.

Selain di ajang PON, duet bapak dan anak ini juga selalu merebut medali emas di Kejurnas Aeromodeling. Terakhir pada Kejurnas 2018 di Madiun, keduanya merebut tiga medali emas.
Di PON XX Papua, Erick punya target merebut tiga medali emas. Karena itu, ia berharap menambah minimal satu medali emas lagi dari dua nomor yang akan diikuti, yakni nomor F2C dan F2D putra.
Kendati demikian, ia mengakui hal itu tidaklah mudah. Pasalnya, PON XX Papua persaingannya semakin ketat. Hampir semua daerah kekuatannya sudah merata. “Tapi saya akan berjuang maksimal. Semoga berhasil,” kata Erick yang mengaku sempat cedera sebelum berangkat ke Papua.
“Saya sempat menjalani operasi dan kalau jalan harus pakai krek. Jadi, praktis persiapan intensif hanya tiga bulan,” pungkas Erick yang mengaku puas dengan prestasi yang telah diraih di PON XX Papua. (Dwi Arifin)
Editor: Reza Maulana Hikam

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi