Menurut Abror, kekuatan seluruh kontingen sekarang tidak banyak berbeda dengan PON XIX di Jabar, 2018. Ketika itu, Jabar sebabai tuan rumah berhasil menjadi juara umum melalui program ‘’Jabar Kahiji’’. Menurut Abror, sebagai tuan rumah Jabar diuntungkan dengan nomor-nomor tambahan yang menjadi sumber emas. ‘’Hal itu wajar karena tuan rumah memang punya privilege untuk mengajukan nomor tambahan,’’ kata Abror.
Dalam PON kali ini, kekuatan tiga besar diperkirakan masih akan tetap diduduki oleh Jatim, DKI, dan Jabar. Tiga daerah itu secara tradisional selalu saling mengalahkan dalam setiap perhelatan PON. ‘’Karena itu, kali ini calon juara juga tidak akan bergeser dari tiga kontingen itu,’’ kata Abror.
Menurut Deni Wicaksono, penentuan juara akan sangat ketat karena kekuatan yang merata. Selain itu, masing-masing cabor dan nomor juga bisa menghasilkan kejutan, karena mereka tidak saling mengetahui kekuatan lawan. ‘’Biasanya siapa yang menjadi pemenang medali emas bisa diketahui dari hasil prakualifikasi PON. Tapi karena kualifikasi ditiadakan karena pandemi, jadinya sulit memprediksi juara,’’ kata politisi PDIP ini.
Deni mewanti-wanti agar atlet Jatim menjaga prokes secara ketat, jangan sampai ajang PON menjadi klaster baru. Selain ini, masalah gangguan keamanan di lokasi juga harus menjadi perhatian. ‘’Meskipun Gubernur Papua menjamin keamanan atlet, tapi sebaiknya tetap waspada,’’ kata Deni yang berasal dari daerah pemilihan Ponorogo.
Jatim bisa menjadi juara umum dengan mengandalkan nomor-nomor terukur seperti atletik, renang, dan cabang terukur lainnya. Tetapi, Jatim juga harus mewaspadai nomor-nomor yang tidak terukur yang biasanya punya potensi menimbulkan protes. ‘’Kita berharap pelaksanaan PON tahun ini lancar dan aman,’’ kata Deni. (*)
Editor: Rafi Aufa Mawardi

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi