SURABAYA-KEMPALAN: Republik Indonesia dan Amerika Serikat sudah menjalin hubungan yang cukup lama antara satu sama lain, namun hubungan keduanya tidak selalu lancar-lancar saja, ada masa di mana keduanya kurang akur, namun juga banyak momen yang mana Indonesia-AS sangat dekat, bahkan hingga sekarang.
Kali ini, klub diskusi di Surabaya, Madat Club, mengadakan perbincangan dengan salah satu sejarawan yang mengulas hubungan kedua negara itu, Dr. Baskara Tulus Wardaya yang juga dikenal sebagai aktivis kemanusiaan dan seorang Romo Yesuit serta dimoderatori oleh Sulkhan Zuhdi, pendiri Komunitas Madani. Ia mengawali diskusi dengan memberikan gambaran umum apa yang akan dibahas dalam diskusi tersebut.
“Sebenarnya ketika terjadi Cold War atau Perang Dingin antara Blok Kanan dan Blok Timur, yang satu dipimpin Amerika Serikat, yang satu dipimpin Uni Soviet, Indonesia tidak secara langsung terlibat dalam Perang Dingin, namun terimbas bayang-bayangnya,” ujar Baskara.
Setelah persentuhan pertama antara Indonesia dan AS yang mana negara adikuasa itu memfasilitasi perundingan antara Belanda dan negara Asia Tenggara itu di atas kapalnya, USS Renville, mulailah Amerika memiliki ketertarikan dengan Indonesia.
Presiden Franklin D. Roosevelt pada satu sisi mendukung, pada sisi lainnya tidak, meskipun merupakan orang Amerika, Roosevelt adalah keturunan Belanda dan diam-diam bertemu Ratu Wilhemina dari negara Eropa itu. Ia menyurati ratu itu bahwa Indonesia akan dikembalikan kepada Belanda.

“Belanda menganggap Amerika Serikat terlalu lunak terhadap Indonesia,” ujar sejarawan lulusan Universitas Marquette itu. Baginya, yang menjadi titik balik sikap AS kepada Belanda adalah peristiwa Madiun, yang mana Belanda selalu bilang kalau pemimpin Indonesia berhaluan komunis.
Awalnya AS percaya, tetapi ternyata dalam peristiwa Madiun yang dipadamkan dan banyak pemimpin komunis ditangkap dan diekskusi, AS melihat dan sejak itu mengetahui kalau pemimpin Indonesia itu bukan komunis, jadi Pemerintahan Truman mulai mendukung negara Asia Tenggara itu.
Arturo Campbell adalah agen CIA pertama yang dikirim ke Indonesia untuk meninjau situasi di negara tersebut. Adapun seorang gubernur Alabama mengucapkan selamat kepada Truman karena mulai pro-Indonesia.
Baskara menuturkan, saat awal terjalinnya hubungan itu, Amerika Serikat mengirimkan Merle Cochran sebagai Duta Besar AS untuk Indonesia, sementara Indonesia menugaskan Ali Sastroamijoyo untuk menjadi Duta Besar Indonesia untuk AS.
Selingan menarik yang ia sampaikan adalah ada seorang warga AS bernama Alan Broom yang begitu senang dengan kemerdekaan Indonesia sehingga ia mengirimkan surat ke pemerintahnya untuk disampaikan kepada Indonesia tentang saran model bendera Indonesia.
Sementara itu, di AS sendiri pendukung kemerdekaan Indonesia bukan muncul dari Partai Demokrat, melainkan 27 anggota Partai Republik yang sedang menjabat. Menurut Baskara, pada saat itu Partai Republik memiliki pemahaman yang lebih kerakyatan dan anti Big Government, sehingga kalau ada rakyat yang ingin merdeka maka mereka mendukung, berbeda dengan sekarang.

Beda presiden, beda kebijakan, begitulah nampaknya yang terjadi di AS. Usai Roosevelt dan Truman, muncullah Dwight D. Eisenhower, seorang mantan jenderal berpengaruh yang melaksanakan D-Day. Semasa Roosevelt ini, cukup banyak intervensi yang dilakukan AS di Indonesia, salah satunya dukungan terhadap gerakan PRRI/Permesta.
Namun, Baskara menyatakan, Menteri Luar Negeri AS era Eisenhower, John Foster Dulles nampaknya tidak rukun dengan saudaranya, Allen Dulles yang menjadi kepala CIA. Ketika kemenlu bermain melalui dubes, CIA justru main di lapangan.
Masa-masa ini diwarnai pula dengan upaya Indonesia untuk mendapatkan Papua Barat dari tangan Belanda. Meskipun pada awalnya mendukung kepada Belanda, namun AS mulai berpihak kepada Indonesia semenjak pengangkatan Averell Harriman sebagai Asisten Menlu untuk Urusan Timur Jauh pada 29 November 1961.
Pemerintahan AS di bawah Kennedy bisa dibilang lebih ramah dengan Indonesia, karena John F. Kennedy sendiri pernah ke Indonesia. Namun hubungan Sukarno-Kennedy yang terkenal di Indonesia mulai sedikit rumit ketika masuk pada permasalahan pembentukan Federasi Malaysia yang dianggap sebagai pangkalan Inggris, lalu muncul program Konfrontasi.
Kennedy sendiri berencana untuk berkunjung ke Indonesia, namun tewas terbunuh sebelum rencana itu terjadi. Pupusnya kunjungan itu menjadi titik batalnya relasi baik antara Kennedy dan Sukarno, serta Amerika Serikat dan Indonesia. (Madat Club for Kempalan)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi