
KEMPALAN: Begitulah seorang Anang Hermansyah, sudah tidak terhitung berapa banyak calon idol penerus Judika atau Rossa yang meledak tangis dan meleleh air matanya sesaat setelah diberitahu, “kalau aku sih yes”. Dan, raihan golden ticket pun di tangan sebagai jalan alternatif menuju puncak karier.
Tanpa itung-itungan matematis terukur yang ruwet, dengan beberapa analisis tajam, Anang Hermansyah juga juri yang lain meloloskan calon idol dengan kalimat sakti dan keramat, kalau aku sih yes. Situasi seperti diatas menunjukkan pada sebuah pemahaman bahwa lomba ini berbasis data kualitatif, tidak terukur. Ekstrim, bandingkan dengan panahan, angkat besi, atau sepak bola.
Penentuan pemenangnya sangat jelas dan terukur, tak mudah untuk diperdebatkan. Dalam keseharian aktivitas ekonomi-pun demikian, ada yang terukur dan ada pula yang tidak terukur. jangankan pada variabel atau data yang tidak terukur, dalam analisis terhadap indikator-indikator makro ekonomi yang terukur pun masih sangat memungkinkan terjadinya silang pendapatan untuk sampai pada sebuah kata sepakat.
Boleh disebut; pendapatan nasional, pertumbuhan ekonomi, jumlah uang beredar, inflasi, ekspor ataupun impor, juga konsumsi dan tabungan. Keseluruhannya adalah indikator-indikator makro ekonomi yang terukur. Bulan ini, begitu Badan Pusat Statistik menyebut angka pertumbuhan ekonomi kuartal II-2021 adalah 7,07%, yang terjadi bukanlah euforia atas capaian spektakuler ini.
Sebaliknya, adu argumen semakin meriah saja dengan berbagai pembenarannya sendiri-sendiri. Mulai ide dasarnya, cara pengukurannya, dasar pengukurannya, juga orientasi pengukuran dan dasar hitungan waktu, semua dipedebatkan, memperbandingkan dengan angka capaian pertumbuhan ekonomi riil yang 3,31%.
Jelas, nyata, dan terang bahwa pertumbuhan ekonomi adalah indikator makro ekonomi yang terukur, ternyata dengan mudahnya tetap saja dapat diperdebatkan. Mencermati situasi yang demikian tentu saja tidak sulit untuk memulai perdebatan atas lolos atau tidaknya calon idol dengan berbekal kalimat sakti, kalau aku sih yes, sebab basis datanya kualitatif.
Hari ini, tepat di Sabtu 14 Agustus 2021, Presiden Jokowi melepas ekspor pertanian sebagai bagian dari agenda Merdeka Ekspor Pertanian. Senilai Rp 7,29 triliun melalui 17 pintu ekspor ke 61 negara tujuan ekspor. Tentu saja yang demikian menjadi momentum penguatan ekspor yang sekaligus menandai kebangkitan ekonomi di tengah beratnya beban pandemi.
Capaian ekspor sebesar 627,4 ton ini sekaligus sebagai apresiai terhadap petani, peternak, pekebun, juga seluruh pelaku usaha agribisnis. Yang perlu digaris bawahi, ekspor sebagai salah satu indikator makro ekonomi yang bersifat terukur, sejatinya keberadaannya tidak beda dengan variabel-variabel makro ekonomi terukur lainnya.
Tidak beda dengan pendapatan nasional, tidak beda dengan pertumbuhan ekonomi. Sedikit yang membedakan adalah, jika capaian pertumbuhan ekonomi 7,07% seru diperdebatkan, sepertinya raihan ekspor Rp 7,29 triliun ini sulit untuk diperdebatkan. Atas capaian 7,07%, muncul istilah-istilah pertumbuhan ekonomi semu, fatamorgana ekonomi, atau pertumbuhan yang tidak sebenarnya.
Boleh diperhatikan, segera setelah ini, setelah pelepasan Merdeka Ekspor Pertanian RP 7,29 triliun ini, tampaknya tetap akan sulit untuk ditemukan istilah-istilah ekspor semu, fatamorgana ekspor, ataupun ekspor yang tidak sebenarnya. Pertanyaannya sekarang adalah, mengapa hal ini dapat terjadi? Dan apakah semua YES kalau untuk variabel ekspor? Salam. (Bambang Budiarto–Pengamat Ekonomi ISEI Surabaya, Dosen Ubaya, Redaktur Tamu Kempalan.com)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi