Minggu, 17 Mei 2026, pukul : 19:29 WIB
Surabaya
--°C

Teknologi Co-firing, Inovasi Pengolahan Sampah Guna Mendorong Pasokan Energi Terbarukan

JAKARTA-KEMPALAN: Pengolahan pada energi terbarukan perlu untuk diaplikasikan oleh berbagai sektor, salah satunya dalam hal mengelola sampah. Untuk mensukseskan hal tersebut, pemerintah menggunakan teknologi bernama co-firing.

Pemerintah berdalih bahwa penerapan teknologi co-firing sebagai solusi inovatif dalam mengelola sampah di perkotaan. Tidak hanya itu, teknologi co-firing juga menunjang pemerintah dalam mendorong pengejawantahan energi terbarukan secara maksimal dan efisien.

Teknologi co-firing merupakan upaya untuk mengganti batu-bara dengan bahan bakar alternatif namun tetap fungsional. Seperti, cangkang sawit, sawdust, eceng gondok, hingga Refused Derived Fuel (RDF). Bahan bakar terakhir menuai pro dan kontra dari masyarakat, sebab memanfaatkan produk dari turunan sampah itu sendiri.

Putra Adhiguna selaku Ahli asal Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA) menjelaskan, jika saat ini pemerintah masih terjerembab dalam konteks investasi PLTU batu-bara dalam jangka yang panjang. Sehingga, teknologi co-firing dijadikan kambing hitam sebagai solusi praktis dari permasalahan sampah ini.

“Produsen tidak akan mampu memproduksi sampah menjadi RDF untuk bahan bakar tanpa harga yang memadai,” ujar Putra, pada Jumat (6/8).

Putra berimbuh bahwa teknologi Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) menjadi salah satu cara untuk mengentaskan polemik mengenai sampah ini. Namun memang harus ada pengendalian baku emisi yang ketat pula. Karena, secara kuantitas sampah yang dapat diolah dengan mekanisme teknologi co-firing dan PSEL sangatlah berbeda.

“Meskipun co-firing banyak diklaim menjanjikan untuk menanggulangi masalah sampah perkotaaan namun kita harus berbicara skala. Rencana pembangunan PSEL Tangerang contohnya direncanakan akan mengolah 2.000 ton sampah per hari. Sementara co-firing masih jauh dari terbukti untuk mampu menangani sampah sampah dalam jumlah besar,” tambahnya.

Selain itu, masih ada tantangan mengenai penerapa metode ini. Di mana pengolahan sampah menjadi Refused Derived Fuel (RDF) cukup mahal dan lumayan rumit. Dikarenakan pengapikasian dari metode ini membutuhkan lahan yang luas guna dapat dioperasikan secara maksimal. (Rafi Aufa Mawardi)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.