
Oleh: KHAIRUL FAHMI
(Pemerhati masalah pertahanan, Institute for Security and Strategic Studies)
KEMPALAN: Ancaman, konflik bahkan perang, bagaimanapun, harus selalu diposisikan mungkin hadir dan terjadi. Sehingga peningkatan kekuatan dan kemampuan pertahanan merupakan salahsatu cara untuk memperkecil peluang ancaman faktual konflik maupun perang. Karena itu, kerentanan negara sebagai dampak dari adanya pandemi Covid-19 ini, memang harus diatasi dengan peningkatan kekuatan dan kemampuan menjaga kedaulatan dan pemeliharaan keamanan teritorial.
Kegiatan-kegiatan bersama seperti latihan militer gabungan baik yang bersifat bilateral maupun multilateral seperti yang digelar oleh TNI AD dan US Army ini jelas bukanlah sesuatu yang baru pertama kali digelar. Namun publikasi dan promosinya kali ini memang tampak lebih gencar.
Selain karena jumlah personel yang terlibat tercatat terbesar sepanjang sejarah kerjasama militer kedua negara yang tentu saja menjadi kebanggaan bagi Indonesia, bisa jadi glorifikasi itu erat kaitannya dengan eskalasi Laut China Selatan serta arah kebijakan strategis maupun agenda dan kepentingan masing-masing negara.
Lantas apakah Latihan tersebut akan menimbulkan persepsi mengenai kedekatan Indonesia-AS di tengah persaingan dengan China di Laut China Selatan? Sejauh ini memang ada yang menafsirkan bahwa Garuda Shield merupakan sinyal serius tentang kedekatan Indonesia dengan Amerika Serikat. Menurut saya, tafsir semacam itu tampaknya hanya suguhan untuk konsumsi domestik, bukan untuk konsumsi kawasan.
Mengapa demikian? Meskipun mengalami pasang-surut dan tak bisa dianggap sebagai sekutu utama (karena Indonesia menganut politik luar negeri bebas aktif), hubungan Indonesia-AS sejauh ini memang sangat bersahabat dan kuat. Kedua negara tentu saja berharap gelaran latihan bersama ini akan memperkuat kesepahaman, memperkaya pengalaman serta meningkatkan kemampuan dan kecakapan, terutama para personel yang terlibat.
Amerika sendiri melalui Juru Bicara Pentagon, John Kirby telah menyatakan harapannya bahwa Latihan ini dapat membuka peluang untuk membangun interoperabilitas yang lebih besar antara angkatan bersenjata AS dan Indonesia serta menegaskan pentingnya pengembangan lebih lanjut hubungan pertahanan bilateral kedua negara.
Perisai Garuda juga dapat diyakini tidak akan berpengaruh signifikan terhadap hubungan Indonesia-China, di luar isu Laut China Selatan. Sejak dinormalisasi, hubungan kedua negara ini tidak pernah benar-benar memburuk bahkan cenderung menguat dari waktu ke waktu.
Sulit membayangkan hubungan kedua negara ini akan memburuk hanya karena gambaran kedekatan dengan Amerika Serikat yang tampak dalam latihan bersama skala besar ini. Apalagi dalam berbagai kesempatan, Indonesia jelas masih membuka ruang-ruang kerjasama yang intens dengan China serta membatasi sikap tegasnya itu hanya menyangkut persoalan Laut China Selatan. Tanpa menyinggung isu-isu lain yang dinilai tak relevan atau tak menguntungkan bagi hubungan bilateral Indonesia-China.
Menyangkut hubungan antarnegara, ada baiknya sedikit menengok ke belakang. Sejak diangkat sebagai Menteri, Prabowo Subianto sangat aktif melakukan kegiatan diplomasi pertahanan ke berbagai negara. Diplomasi pertahanan sebenarnya memang merupakan salahsatu sarana mewujudkan kepentingan nasional di bidang pertahanan dan keamanan. Peranannya sangat strategis dalam menghadapi permasalahan yang ada. Terutama agar eskalasi tidak meningkat ke arah konflik serta dapat saling memperkuat rasa saling percaya, keamanan hingga stabilitas kawasan.
Nah, kerjasama pelatihan maupun latihan militer gabungan seperti Garuda Shield ini merupakan bentuk konkrit dari defence diplomacy for confidence building measure atau diplomasi yang dilakukan untuk membangun kepercayaan, mengurangi rasa takut dan kesalahpahaman dari kedua belah pihak. Juga merupakan wujud dari defence diplomacy for defense capabilites atau diplomasi yang diarahkan pada upaya meningkatkan kemampuan sektor pertahanan.
Kerjasama ini sekaligus merupakan bentuk penegasan sikap konsisten Indonesia yang menolak berpihak dalam menyikapi perseteruan antara China dan Amerika, menjalankan politik bebas aktif, serta terus berupaya membangun kerjasama dan kemitraan strategis dengan berbagai negara baik di dalam maupun di luar kawasan. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi