Sabtu, 2 Mei 2026, pukul : 06:13 WIB
Surabaya
--°C

Bendera

KEMPALAN: Kupertahankan kau demi kehormatan bangsa
Kupertahankan kau demi tumpah darah
Semua pahlawan-pahlawanku
Merah putih teruslah kau berkibar
Merah putih teruslah kau berkibar
Ku akan selalu menjagamu
Lagu ‘’Bendera’’ dari grup band Cokelat itu biasanya banyak dinyanyikan oleh anak-anak generasi milenial di saat perayaan kemerdekaan Agustus.

Tidak seperti biasanya, tahun ini pemerintah mengeluarkan imbauan agar masyarakat mengibarkan bendera Merah Putih sebulan penuh selama Agustus. Biasanya, bendera dinaikkan beberapa hari sebelum dan sesudah 17 agustus. Tapi kali ini, Merah Putih diharapkan bisa berkibar selama sebulan penuh.

Bendera putih di Jl Malioboro, Jogjakarta

Ketika Indonesia dalam kondisi penuh keprihatinan seperti sekarang, banyak bendera putih dikibarkan tanda menyerah. Di Surabaya, Jakarta, Jogjakarta, sampai ke kota kecil seperti Garut, banyak orang mengibarkan bendera putih tanda menyerah.

Kalau pemerintah masih meneruskan PPKM dengan nama baru apapun, bendera putih akan makin banyak berkibar dimana-mana. Bahkan, di medsos sudah mulai banyak yang mengibarkan bendera hitam sambil menyindir kapan Presiden Jokowi mundur.

Gerakan bendera putih mulai muncul di Malaysia sejak diberlakukannya lockdown beberapa minggu terakhir. Para pemilik kedai yang sepi pembeli mengibarkan bendera putih di depan kedainya. Masyarakat umum yang merasa tidak bisa bertahan karena kesulitan ekonomi juga mengibarkan bendera putih di depan rumah sebagai tanda meminta pertolongan.

Gerakan bendera putih di Malaysia berlanjut dengan gerakan bendera hitam yang menuntut Perdana Menteri Muhyidin Yassin mengundurkan diri, karena dianggap tidak mampu menangani pandemi.
Ratusan orang yang didominasi anak-anak muda dengan mengenakan pakaian hitam berunjuk rasa di Kuala Lumpur, Sabtu (31/7). Pengunjuk rasa melakukan konvoi sejak pukul 11.30 waktu setempat dari Stasiun LRT Masjid Jamek di Jalan Melaka ke Dataran Merdeka, ikon kota Kuala Lumpur. Para pengunjuk rasa meneriakkan yel-yel “Mundur Muhyiddin”, “Letak Jabatan”, “Hidup-Hidup”, “Hidup Rakyat”, “Tolak-Tolak”, “Lawan-Lawan”, “Bangkit-bangkit, Anak Muda” secara bergantian.
Sejumlah perempuan di barisan depan membawa empat “pocong” berwarna putih, diikuti sejumlah laki-laki yang membawa spanduk hitam besar bertuliskan “Kerajaan Gagal” dan “Penipu Nasional”.
Di antara pengunjuk rasa, ada politisi dan pengacara yang mengenakan jas hitam dan ikut menyuarakan protes kepada pemerintah supaya membatalkan peraturan darurat yang dianggap menyengsarakan rakyat.
Politisi senior dan pemimpin oposisi Anwar Ibrahim mengirim surat yang menyatakan niatnya untuk mengajukan mosi tidak percaya di Dewan Rakyat untuk mencopot Muhyiddin Yassin. Datuk Anwar mengklaim perdana menteri telah kehilangan kepercayaan mayoritas anggota parlemen.

Anwar Ibrahim mengatakan dia mewakili anggota parlemen yang mayoritas kecewa terhadap Muhyiddin yang juga telah kehilangan dukungan dari Istana Negara yang mengatakan Yang di-Pertuan Agong tidak setuju penerapan lockdown diperpanjang.

Krisis pandemi di Malaysia sudah merembet menjadi krisis politik yang makin luas. Sangat mungkin Perdana Menteri Muhyiddin akan kehilangan kekuasaannya, karena mayoritas parlemen sudah tidak mendukung.

Kondisi pandemi di Indonesia lebih buruk dari Malaysia. Tapi tanda-tanda krisis politik secara terbuka belum muncul di permukaan di Indonesia. Beda dengan Malaysia yang oposisinya kuat, di Indonesia oposisi praktis tidak bersuara di parlemen.

Oposisi jalanan dalam bentuk demontrasi massa juga tidak terjadi di Indonesia. Seruan demonstrasi besar ‘’Jokowi End Game’’ pada 24 Juli ternyata hanya seruan kosong. Polisi dan aparat keamanan bergerak cepat memotong akar gerakan sebelum gerakan berkembang.

Polisi juga bergerak cepat menangkap penyebar informasi gerakan itu. Karena tidak ada gerakan oposisi yang riel, pemerintah Jokowi bisa memperpanjang pembatasan darurat dengan leluasa. Parlemen jalanan dalam bentuk demonstrasi massa nyaris mati di Indonesia, satu-satunya saluran suara protes dilakukan melalui media sosial atau sering disebut sebagai ‘’Parlemen Medsos’’ sebagai ganti Parlemen Jalanan. Itupun tidak bisa benar-benar bebas, karena setiap saat bisa terancam penangkapan melalui penerapan UU ITE.

Krisis pandemi ini merupakan krisis global paling besar yang pernah dihadapi Indonesia sejak krisis moneter 1998. Dibanding dengan negara-negara Asia yang sama-sama menjadi korban krisis moneter, Indonesia paling lambat melakukan recovery.

Krisis kemudian berlanjut menjadi krisis politik yang berujung pada kejatuhan rezim Soeharto.
Negara-negara tetangga, seperti Malaysia dan Thailand, lebih cepat menyelesaikan krisis moneter sehingga tidak merembet menjadi krisis politik di Indonesia.

Dalam krisis pandemi kali ini pun Indonesia belum menampakkan perkembangan yang menjanjikan. Muncul prediksi bahwa Indonesia akan menjadi negara terakhir yang bisa menyelesaikan krisis pandemi dibanding negara-negara lain.

Ahli epidemiologi dari Universitas Griffith, Brisbane, Australia, Dicky Budiman, menilai prediksi ini masuk akal. Ia menegaskan bahwa hanya negara yang sejak awal sudah fokus dengan penyelesaian bidang kesehatan saja yang mampu keluar dari pandemi lebih dulu. Negara yang fokus dengan penerapan kesehatan akan lebih bisa mengonsentrasikan semua enerji dan kemampuannya untuk menyelesaikan pandemi. Fokus mengamankan urusan nyawa menjadi prioritas daripada menyelamatkan ekonomi.

Demo bendera hitam di Malaysia

Ada banyak negara yang sejak awal sudah fokus pada penanganan kesehatan dan bertindak cepat dan tegas dengan melakukan penguncian atau locokdown. Negara-negara yang mengambil langkah tegas seperti ini diprediksi akan bisa menyelesaikan kasus pandemi lebih cepat.

Dicky kemudian membandingkannya dengan Indonesia yang dianggapnya masuk kategori negara yang masih belum sanggup untuk menerapkan lockdown total, dan belum sepenuhnya fokus masalah kesehatan. Hal inilah yang ia anggap sebagai alasan logis bahwa Indonesia akan menjadi negara terakhir yang keluar dari krisis Pandemi.

Agustus ini akan menjadi momen penentuan, moment of truth, bagi Indonesia. Kondisi penularan yang masih tinggi akan menguji keteguhan pemerintah untuk mengambil langkah tegas antara fokus kesehatan dan memikirkan urusan ekonomi.
Agustus menjadi momen spesial bagi bangsa Indonesia ketika merayakan kemerdekaan ke-76. Momentum ini akan menguji patriotisme dan nasionalisme bangsa Indonesia dalam menghadapi krisis besar, yang belum pernah ada presedennya dalam sejarah bangsa ini.

Akan kita lihat apakah semua warga negara akan mengibarkan Merah Putih sebagai simbol semangat dan solidaritas, ataukah mengibarkan bendera putih tanda menyerah. Atau, jangan-jangan, akan semakin banyak yang mengibarkan bendera hitam. (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.