JENEWA-KEMPALAN: Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan varian Delta dari virus corona sekarang menjadi dominan di berbagai wilayah Eropa. Mereka juga mendesak pemerintah Eropa untuk mempercepat program vaksinasi.
WHO bersama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Eropa (ECDC) memperingatkan upaya mencegah penyebaran varian itu harus lebih diperkuat.
Rata-rata, lebih dari 68% infeksi COVID-19 di sebagian besar negara Eropa adalah varian Delta yang sangat menular, yang pertama kali muncul di India.
“Varian SARS-COV-2 Delta yang menjadi perhatian bergerak cepat di seluruh Eropa dan sekarang telah menjadi jenis yang paling dominan di sebagian besar wilayah, berdasarkan data baru,” kata WHO Eropa dalam sebuah pernyataan yang dikutip Kempalan dari Euronews.
Organisasi itu menambahkan, tren saat ini memperlihatkan varian Delta akan menjadi jenis yang dominan dari virus corona secara global selama beberapa bulan mendatang dan telah ditemukan hampir di semua negara di Eropa.
“(Varian) ini akan terus menyebar, menggusur peredaran varian lain kecuali muncul virus baru yang lebih kompetitif,” ujar WHO.
WHO menambahkan bahwa kasus baru COVID-19 yang dikonfirmasi telah meningkat di seluruh Eropa dalam empat minggu terakhir, dan telah mendesak negara-negara sekali lagi untuk meningkatkan program vaksinasi mereka.
“Kami masih jauh dari masalah dalam hal pandemi berakhir dan sayangnya di banyak negara di kawasan kami, kami melihat peningkatan yang signifikan dalam kasus yang terkait dengan penyebaran varian Delta yang sangat menular,” kata Dr Hans Kluge, Direktur Regional WHO untuk Eropa.
Ia menyatakan bahwa meskipun banyak negara anggotanya sudah melakukan vaksinasi, namun juga banyak penduduk yang belum divaksin. Hal itu beresiko menyebabkan mereka masuk rumah sakit.
“Kabar baiknya adalah bahwa data dengan jelas menunjukkan bahwa menerima serangkaian vaksinasi lengkap secara signifikan mengurangi risiko penyakit parah dan kematian. Ketika dipanggil untuk melakukannya, orang harus divaksinasi,” ujar Kluge.
Dia juga mendesak negara-negara yang telah melonggarkan pembatasan kesehatan masyarakat untuk meningkatkan akses ke pengujian gratis dan memperkuat pelacakan kontak.
“Kita perlu tetap waspada dan terus menggunakan akal sehat untuk mencegah penyebaran virus,” tambah Direktur ECDC, Dr Andrea Ammon.
Menurutnya, hal ini berarti mempercepat vaksinasi ketika muncul kesempatan dan menjaga jarak fisik, mencuci tangan, menghindari tempat yang ramai, dan memakai masker jika dibutuhkan.
“Kita harus menganggap ini sebagai ‘tindakan anti-lockdown’ karena dapat membantu mencegah penyebaran penyakit tanpa harus menutup sebagian besar masyarakat,” tuturnya. (Euronews, reza hikam)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi