Sisi Lain PPKM Darurat

Satlantas Polresta Sidoarjo Peduli Nenek Penjual Peyek Keliling

  • Whatsapp
Nenek Umi penjual peyek keliling saat istirahat di rumahnya daerah Lemah Putro usai menjajakan dagangannya

SIDOARJO-KEMPALAN : Keluhan Nenek Umi (92), penjual peyek keliling di kawasan Jalan Diponegoro Sidoarjo yang mengaku sepi pembeli di masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat, akhirnya mendapat perhatian dari kepolisian khususnya dari Satlantas Polresta Sidoarjo.

Bantuan yang diberikan berupa sembako dan uang tunai. Kasatlantas Polresta Sidoarjo Kompol Wikha Ardilestanto mengatakan, pihaknya mengetahui keluhan nenek Umi tersebut dari ungahan di media sosial instagram dan youtube.

BACA JUGA

“Kami menelusuri dan menemukan rumahnya. Kita berikan bantuan berupa sembako dan uang tunai yang berasal dari program Rabu Sedekah, untuk membantu masyarakat tidak mampu yang terdampak program PPKM Darurat,” jelas Wikha, Kamis (22/7).

Sebelumnya, video nenek Umi viral setelah diunggah di media sosial oleh salah satu warga. Dalam video tersebut, dia menangis karena peyek daganganya tidak laku dalam beberapa hari terakhir, karena Jalan Diponegoro tempatnya berjualan ditutup. “Kalau dagangan saya tidak laku, terus saya makan apa,” ucapnya.

Saat ditemui di rumahnya di RT 09, RW II Kelurahan Lemahputro, Kecamatan Sidoarjo Kota, nenek Umi bercerita, dirinya sempat berontak dan menangis keras saat seorang Polisimemegangi tangannya.

Saya mengira saya dicakup dan dibawa ke panti sosial. Ternyata mbak polisi baik hati tersebut mengantarkan saya pulang ke rumah dan memberinya batuan,” terangnya.

Nenek Umi menceritakan, dirinya sudah tiga tahun terakhir berjualan peyek buatanya di kawasan Jalan Diponegoro. Dia berangkat sehabis subuh dan beranjak pulang sekitar pukul 09.00 WIB. Setiap hari, ia membawa 50 bungkus peyek yang dia jual Rp 2 ribu perbungkusnya. “Meskipun untungnya sedikit tapi tidak apa-apa” kata nenek yang sudah tua renta ini.

Sejatinya, oleh anak-anak-anaknya, dia disuruh berhenti berjualan. Namun semangatnya jauh melebihi tubuh ringkihnya. Tanganya terlihat gemetar. Untuk berjalan jauh, dia mengaku tidak mampu. “Kalau berdiam diri di rumah, mungkin sudah lama saya mati. Badan ini harus tetap bergerak. Laku atau tidak laku, saya tetap berjualan,” imbuhnya. (Ambari Taufiq)

Berita Terkait