Jumat, 13 Maret 2026, pukul : 14:57 WIB
Surabaya
--°C

Masy’ar Negeri Kesadaran

Oleh Dr. Nawiroh Vera
Dosen Fikom Universitas Budi Luhur, Jakarta

KEMPALAN: “Hanya idealisme teologis dan metafisis sajalah yang mengatakan bahwa Arafat (pengetahuan) didahului oleh Masy’ar (kesadaran). Agama ini buta jika yang sebermula sekali adalah Mina (cinta)”

Sesudah tahap “pengetahuan” (Arafat) perjalanan haji dilanjutkan dengan tahap “Kesadaran” (Masy’ar). Manusia mengira bahwa kesadaranlah yang terlebih dahulu, tetapi Tuhan sang Pencipta alam memperlihatkan urutan yang sebaliknya! Adam bertemu dengan Hawa (yang memiliki jenis kelamin yang berbeda). Mereka bertukar pendapat dan akhirnya saling memahami. Kehidupan individual mereka berakhir dengan terciptanya sebuah keluarga (yang merupakan kehidupan sosial yang pertama kali) dan suatu “cinta yang sadar”. Selanjutnya persatuan di antara dua orang manusia bermula dengan pengetahuan. Evolusi pengetahuan menimbulkan kesadaran di dalam diri manusia. Kemudian lahirlah sains yang meningkatkan pengertian dan untuk selanjutnya meningkatkan kesadaran manusia. Apakah akibatnya? Kemajuan ilmiah!

Menurut agama Islam, manusia yang diciptakan dari bahan yang paling hina ini dan yang menjadi kuat karena diangkat menjadi kepercayaan Allah, memulai aksinya dengan pengetahuan. Ia memahami kenyataan-kenyataan di dalam alam dengan menggunakan metode objektif; kemudian ia mendapatkan kesadaran; pada tahap yang terakhir ia menciptakan cinta. Tahap-tahap ini yang dikerjakan dalam ritual ibadah haji yaitu perjalaan dari Arafat ke Masy’aril haram dan dari Masy’ar ke puncak kualitas-kualitas dan kesempurnaan (Mina) atau kepada Allah SWT.

Apakah ini dapat dikatakan sebagai realisme? Sebagai prinsip dapat dikatakan ini realisme, tetapi sebagai tujuan: tidak! Ini adalah landasan manusia untuk mencapai hal-hal yang ideal dan metafisikal. Karena menurut konsep Islam, manusia terbuat dari lumpur dan ruh Allah, maka dengan kemauan dan tekad manusia dapat beralih dari “lumpur” kepada “ruh Allah”. Peralihan inilah yang harus manusia alami Ketika melalui tahapan Arafat-Masy’ar-Mina.

Sains adalah penemuan “hubungan-hubungan diantara berbagai fenomena”. Arafat adalah cermin yang memantulkan setiap warna, desain, dan pola secara garis besarnya. Dan alam semesta ini adalah cermin yang jika dihadapkan ke dunia (masalah-masalah duniawi) akan memantulkan “fisika” dan yang jika dihadapkan kepada agama akan memantulkan “yurisprudensi” (fiqih).

Mengapa pengetahuan (Arafat) dimana jamaah haji melakukan wukuf di siang hari sedangkan tahap masy’ar-ul haram dilakukan di malam hari? Seperti sudah diterangkan sebelumnya bahwa Arafat adalah tahap pengetahuan dan sains yang merupakan sebuah hubungan obyektif di antara ide-ide dengan fakta-fakta yang ada, maka tahap ini harus memiliki pandangan yang tajam dan diperlukan cahaya yang terang (siang hari). Sedangkan Masy’ar adalah tahap kesadaran atau hubungan subyektif di antara ide-ide. Di dalam tahap ini seseorang dapat memahami dengan lebih banyak konsentrasi di dalam kegelapan dan keheningan malam. Sungguh sebuah makna simbolis yang sangat dalam yang dapat kita petik dari ritual haji.

Tibalah malam masy’ar yaitu malam ke-10 bulan Dzulhijjah. Di malam ini pasukan-pasukan tauhid kaum muslimin dan para mujahid mempersiapkan mengumpulkan senjata (kerikil) untuk bertempur di siang hari esok. Bunuhlah setiap kelemahan, rasa takut, rasa benci, dan semua kepentingan duaniawi yang kau miliki. Syaitan-syaitan menantikan kedatanganmu di medan pertempuran Mina. Di negeri kesadaran inilah engkau harus melengkapi diri dengan senjata dan memenuhi hati dengan Cinta. (Bersambung)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.