JAKARTA-KEMPALAN: Sebuah studi menunjukkan bagaimana penanganan pasien Covid-19 menggunakan terapi darah konvalesen dari mereka yang sudah terpapar virus corona dengan kriteria tertentu. Hal ini juga ramai di media sosial tentang permintaan darah konvalesen.
Menurut kajian yang diterbitkan The Lancet dalam jurnal EClinicalMedicine, metode yang digunakan dalam terapi itu ialah pasien rawat inap dengan Covid-19 yang sedang maupun parah telah direkrut dan ditransfusikan plasma darah konvalesen (CP) dari pendonor yang sembuh dari Covid-19 ringan, sedang, ataupun berat.
Transfusi darah ini dibagi dalam tiga dosis sebesar 3 mL/kg dari berat badan penerima dengan jarak waktu dua hari. Hasilnya adalah membaiknya kondisi semua pasien dengan gejala sedang dan dua pasien dengan penyakit berat.
Terapi semacam ini sendiri telah digunakan semenjak influenza yang merebak pada tahun 1918, flu burung, Ebola, dan infeksi lainnya. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Seobroto bersama Institut Eijkman untuk Biologi Molekuler dan PT Bio Farma dengan menggunakan 10 pasien rawat inap dari umur 42 hingga 56 tahun.
Sementara pendonor darah diambil dari umur 18-60 tahun yang sebelumnya sudah terpapar Covid-19, dipulangkan dari rumah sakit, dan tidak menunjukkan gejala virus corona dalam 14 hari terakhir. Diambil sebanyak 500-600 mL plasma darah dari para pendonor.
Dari sepuluh pasien yang mendapati terapi darah konvalensen ini, lima orang dengan gejala sedang dan dua orang dengan gejala berat membaik kondisinya setelah diterapi, sementara satu orang tetap dalam kondisi menggunakan ventilator, dan dua orang kondisinya memburuk lalu meninggal.
Pada bagian akhir, para peneliti menyatakan bahwa perlu pengujian plasma darah dari donor untuk antibodi anti-SARS-CoV-2, memanfaatkan ketersediaan populasi pendonor yang sudah pulih dari Covid-19 untuk menyimpan dan membuat inventaris plasma darah konvalesen, dan melibatkan masyarakat serta menggunakan saluran yang tepat guna memastikan masalah dipertimbangkan saat merancang dan mengimplementasikan studi intervensi. (ECM, reza hikam)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi