
KEMPALAN: Sungguh tidak mudah melewati lebih dari setahun kena “santet”
Corona. Semua sudah dilakukan; dokter-dokter terbaik sudah berkomentar, para tenaga kesehatan pun sudah berjuang maksimal, terapis dan paranormal juga sudah berbuat sebisanya. Tak ketinggalan para guru besar perguruan tinggi dengan predikat akreditasi unggul, ide-idenya sudah berseliweran di banyak media sosial.
Para ahli pengobatan alternatif dan dukun juga sudah menawarkan berbagai solusi, kiat, dan tips “mengalahkan” Covid-19. Namun apa daya, rasanya begitu berat bertarung melawan Corona, serasa menghadapi Italia sang jawara Eropa dengan benteng tangguhnya Gianluigi Donnarumma yang tinggi menjulang.
PSBB sudah, PPKM sudah, PPKM Skala Mikro juga sudah, dan sekarang PPKM Darurat. Semua belum membuahkan hasil maksimal, bahkan dengan varian-varian baru tampaknya tim Corona masih unggul jauh dibanding kita.
Sedikit saja muncul isu yang menyasar media sosial terkait penanganan Corona, pasti akan sangat menjadi perhatian meskipun mungkin belum teruji kebenarannya dan masih penuh perdebatan. Adalah susu beruang bear brand yang tiba-tiba naik daun diyakini mampu menangkal corona. Akibatnya bisa ditebak, tidak perlu menunggu waktu lama produknya langsung jadi rebutan di pasar.
Panic buying bagi sebagian pihak pun terjadi yang pada gilirannya harga menjadi tidak normal di pasaran. Beberapa media menyebut, produk yang biasanya di kisaran Rp 9.000,00-12.000,00 ini mampu melambungkan dirinya di angka Rp 50.000,00. Ivermectin adalah nama yang lain lagi, begitu disebut mampu memukul KO Corona oleh beberapa pihak, si obat cacing ini mampu mengukir sejarah, harga “diri”-nya naik sampai 496%.
Di saat sedang berat-beratnya beban masyarakat, sedang banyak-banyaknya kebutuhan masyarakat, dan sedang besar-besarnya keperluan masyarakat, ternyata kenaikan harga barang tidak memperdulikan itu semua. Tidak mau tahu betapa daya beli masyarakat sedang rapuh karena berbagai bentuk penyekatan jalan serta pembatasan mobilitas dan aktivitas.
Pada saat harga naik jumlah barang yang diminta akan turun, dan pada saat harga turun maka jumlah barang yang diminta akan naik. Demikianlah jika mengikuti hukum permintaan, selalu dibaca dari sumbu harga terlebih dahulu, demikian pula dalam hukum penawaran. Pada saat harganya rendah jumlah barang yang ditawarkanpun sedikit, dan pada saat harga sedang tinggi-tingginya maka jumlah barang yang ditawarkan pun banyak.
Mengambil contoh ivermectin, adalah wajar jika terjadi kenaikan harga ketika barang sedang dibutuhkan masyarakat, dalam tataran teori pun membenarkan hal ini. Namun kenaikan yang mencapai 496% adalah sungguh tidak wajar. Apalagi dengan melihat kondisi masyarakat saat sekarang yang sedang babak belur ekonominya.
Fakta yang terjadi di pasar atas permintaan dan penawaran yang demikian ini layaknya sebuah pertarungan di rimba belantara. Mengabaikan keberadaan peraturan dan ketentuan. Sesuai hukum permintaan dan penawaran, dibacanya selalu dari sumbu harga, artinya perubahannya diawali dari harga yang akan mengakibatkan perubahan jumlah barang. Yang terjadi saat ini terbalik, pergeseran dan pergerakannya diawali dari jumlah barang baru kemudian diikuti perubahan harga, situasi inilah yang berakibat kenaikan harga di pasar menjadi liar, menerobos tatanan teori yang sudah teruji.
Ditambah, ada satu hal lagi yang lebih penting yaitu bahwa permintaan dan penawaran tidak mempunyai perasaan, tidak memiliki hati. Sudah jelas masyarakat daya belinya luluh lantak tapi kenaikan harga yang terjadi tidak peduli dan tidak mau tahu atas kondisi masyarakat ini. Begitulah permintaan dan penawaran yang memang tidak punya hati dan perasaan.
Pertanyaannya sekarang adalah, jika memang permintaan dan penawaran tidak berhati dan berperasaan, apa yang seharusnya dilakukan agar harga tidak terus naik-naik ke puncak gunung? Salam. (Bambang Budiarto–Redaktur Tamu Kempalan.com, Dosen Ubaya, Pengamat Ekonomi ISEI Surabaya)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi