TOKYO-KEMPALAN: Pemerintah Jepang mendesak para pemimpin negara-negara kepulauan Pasifik agar bersatu melawan otoritarianisme. Pernyataan ini dikemukakan secara daring dalam pertemuan puncak Jumat, (2/7). Imbalannya, Jepang menjanjikan bantuan vaksin virus corona serta bantuan ekonomi ke kawasan tersebut, karena kawasan Pasifik juga semakin penting dalam upaya bersama dengan AS melawan ekspansionisme China.
”Kawasan Pasifik menghadapi tantangan baru, diantaranya bersaing melawan otoritarianisme,” ujar Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga pada Pertemuan Pemimpin Kepulauan Pasifik yang digelar secara daring. Pertemuan ini juga menarik 16 negara, termasuk Australia dan Selandia Baru.
Melansir dari Nikkei Asia, Beijing diduga telah menekan negara-negara kepulauan Pasifik agar memutus hubungan diplomatik dari Taiwan, Jepang dan AS. Perilaku China itu berindikasi otoriter, cenderung memaksa negara lain mengikuti kehendaknya.
Sementara itu, Wakil Kepala Sekretaris Kabinet Jepang Manabu Sakai menyatakan pada wartawan usai KTT bahwa China atau Taiwan tidak dibahas sama sekali. Hanya disinggung, pengaruh Beijing yang tumbuh di kawasan Pasifik karena didorong kekuatan finansialnya.
”Para pemimpin negara-negara Pasifik menegaskan komitmen mereka yang diperbarui dan diperkuat terkait pentingnya ketertiban maritim yang bebas, terbuka, dan berkelanjutan berdasarkan aturan hukum,” tulis pernyataan bersama dari KTT.
Dokumen pernyataan tersebut juga menegaskan kembali pentingnya semua negara menghormati hukum internasional. Termasuk, kebebasan navigasi dan penerbangan di atas laut lepas dan zona ekonomi eksklusif.
Perdana Menteri Suga juga menyerukan hubungan yang lebih intensif diantara negara-negara kepulauan Pasifik dalam lingkup Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka. Merespon ini, Perdana Menteri Tuvalu Kausea Natano menyatakan para pemimpin perlu membahas bagaimana memenuhi tugas mereka dengan lebih baik sebagai penjaga Pasifik.
Jepang berjanji akan membantu negara-negara kepulauan Pasifik itu untuk penanganan COVID-19. Selain juga pembangunan infrastruktur, termasuk dengan menyediakan sekitar 3 juta dosis vaksin. Pengiriman akan dimulai bulan Juli ini. (Nikkei Asia, reza hikam)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi