
KEMPALAN: “The key to successful leadership is influence, not authority” (Ken Blanchard)
HEBOH tebaran meme ‘King of Lip Service’ oleh BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) Universitas Indonesia terus bergulir dan ditanggapi berbagai pihak, tentu disertai narasi pro maupun kontra. Disusul pemanggilan dalam rangka ‘pembinaan’ oleh jajaran rektorat UI atas penayangan ‘gelar’ tersebut di kanal media sosial, makin ramailah kontroversi hingga masuk ke ranah perdebatan perihal demokrasi, kebebasan mimbar akademik, dan sebagainya (termasuk yang dilanjutkan oleh Aliansi Mahasiswa UGM dengan menyebut Jokowi Juara Ketidaksesuaian Omongan dengan Kenyataan). Belakangan, isu ini makin liar dengan munculnya ajakan untuk melengserkan sang presiden beserta pemerintahan sah yang dianggap oligarkis. Lepas dari centang-perenang nuansa politis yang melingkupinya, penulis tak hendak larut dalam perdebatan tersebut, tetapi mencoba memandang dari lain perspektif.
Bila kita cermati ada benang merah diantara hiruk-pikuk itu. Tayangan meme oleh BEM UI sudah barang tentu diinisiasi oleh beberapa pemimpin komunitas mahasiswa, lepas apapun motif dan afiliasinya. Pemanggilan atau pembinaan oleh jajaran rektorat UI sudah barang tentu adalah jajaran para pemimpin di kampus tersebut yang memiliki otoritas kendati kemudian diterpa isu rangkap jabatan dan berpotensi melanggar statuta. Lalu, yang dituju ekspresi meme tersebut adalah Presiden Joko Widodo sang pemimpin NKRI dan tengah bergelut untuk selamatkan negeri dari badai Covid-19. Kata kunci yang merajut benang merah adalah pemimpin.
Narasi, storytelling, hingga kajian super ilmiah tentang pemimpin dan kepemimpinan telah luas terbentang sejak dulu hingga kini. Salah satu buah simpulan menarik diungkapkan oleh Maxwell (2009), bahwa kepemimpinan bukan jabatan, bukan posisi atau bagan alur. Kepemimpinan adalah suatu kehidupan yang mempengaruhi kehidupan lain! Tepat dan telaklah intisari kristal buah pikir ini. Kepemimpinan adalah tentang kehidupan bukan tahta, harta, apalagi wanita yang acapkali menjadi godaan diantara batas baik dan batil bagi sang pemimpin.
Inti dari kepemimpinan adalah sebuah proses untuk memengaruhi orang lain atau banyak orang untuk mencapai tujuannya. Disamping itu, inti kepemimpinan sebenarnya adalah melakukan hal yang benar, mewujudkan kebaikan (virtue). Mantan presiden Amerika George Bush mengatakan bahwa sebagai seorang pemimpin seyogyanya menggunakan kekuasaan untuk membantu orang lain. Kita diberi kekuasaan tidak untuk meraih tujuan pribadi, bukan pula untuk mendapatkan nama atau menjaga citra (jaim). Hanya ada satu kegunaan kekuasaan yakni membantu sebanyak mungkin orang lain. Pemimpin harus dapat menggerakkan, memuaskan dan menumbuhkan-kembangkan para pengikutnya. Selain itu, pemimpin mesti piawai dalam memotivasi guna menghidupkan potensi orang-orang yang dipimpinnya, serta harus mampu menangani paradoks-paradoks dan menjelaskan maknanya.
Leadership Paradox
Adalah beberapa ahli dari Harvard University yang belum lama ini menelurkan artikel tentang paradoks kepemimpinan (leadership paradox), tepatnya April 2021 lalu. Mengikuti jalan pikir ala kelirumulogi, baiklah kita kutip arti kata paradoks menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) sebagai berikut: pernyataan yang seolah-olah bertentangan (berlawanan) dengan pendapat umum atau kebenaran, tetapi kenyataannya mengandung kebenaran; bersifat paradoks. Paradoks kerap kita jumpai sebagai tegangan dan tarikan, misalnya, antara control (kendali) versus empowerment (pemberdayaan), centralized versus decentralized, dan sebagainya. Mengelola paradoks berarti membangun pola pikir di luar logika umumnya (thinking out of the box) guna memudahkan organisasi untuk menghasilkan kinerja optimal dalam mengatasi masalah.
Dalam artikel yang berbasis riset atas berbagai pemimpin organisasi kelas dunia tersebut, ditemukan enam karakteristik kepemimpinan yang paradoksal guna tetap survive dan berhasil di era pademi dan post-pandemic nantinya. Ya, dalam konteks situasi tak normal karena pandemi global kini, para pemimpin ternyata mesti pandai dan bijak mengayuh biduk kepemimpinannya dalam gelombang paradoks. Salah satunya adalah pemimpin mesti memiliki visi terobosan yang jenial sekaligus mahir mengeksekusinya alias mewujud-nyatakan agar tidak dicap sebagai lip service belaka (istilah yang digunakan dalam artikel tersebut adalah strategic executor).
Visi jenial laksana nyala lilin di tengah terowongan gelap nan seolah tanpa ujung guna menumbuhkan harapan (hope). Ya, ungkapan optimis satu juta vaksin per hari misalnya, bisa dimaknai sebagai upaya menumbuhkan harapan di tengah badai. Akan tetapi, ia butuh diwujudkan secara konkrit agar tak mengantang asap semata. Tentu, dibutuhkan dukungan dari para staf dan jajarannya dalam suatu orkestrasi kepemimpinan yang harmoni, seirama sesuai partitur yang telah disepakati bersama.
Dalam konteks manajemen dan kepemimpinan, mungkin sekali terjadi kondisi yang mana seorang pemimpin yang baik, namun merupakan manajer yang buruk sehingga perlu dilengkapi oleh seorang manajer handal dalam timnya. Sebaliknya, bisa juga terjadi seorang pimpinan yang buruk namun memiliki kemampuan manajerial yang baik sehingga belum tentu segenap kebijakannya diikuti oleh orang-orang dalam jajarannya. Tanpa adanya saling melengkapi, seorang yang kepemimpinannya lemah akan menghasilkan stagnasi, sedangkan seorang pemimpin yang manajemennya lemah akan menghasilkan konsep saja atau wacana tanpa kejelasan dalam aplikasinya.
Harus diakui, pucuk-pucuk pimpinan dalam organisasi di Indonesia, baik organisasi bisnis swasta atau organisasi publik milik negara, yayasan, bahkan organisasi sosial kemasyarakatan, sosial politik bahkan organisasi sosial keagamaan, lebih banyak muncul karena political power. Si Z didapuk menjadi CEO PT. A dalam usia muda, karena perusahaan itu milik keluarganya (meskipun sudah go public, misalnya). Si X menjadi Dirut atau Komut (komisarit utama) dalam sebuah BUMN, karena ditempatkan oleh Partai X yang punya power. Atau, Si Y menjadi ketua organisasi sosial kemasyarakatan karena dibentuk oleh Partai Y sebagai organisasi underbow. Dengan demikian adalah sulit menjelaskan apakah sungguh mereka yang duduk di posisi leader itu adalah sejatinya seorang pemimpin yang mampu mempengaruhi kehidupan banyak orang menuju kebaikan dan kemashalatan bersama ataukah sekedar posisi yang diraih karena politik kekuasaan.
Konsekuensi logisnya, seorang pemimpin harus bersedia diperiksa integritasnya secara terus menerus, dan secara konsisten berkesinambungan mesti memelihara kualitas karakter dan tingkat kinerja yang tinggi. Pemimpin yang bermutu ditandai dengan produktivitas, tercapainya tujuan organisasi dan perkembangan yang berkelanjutan (sustainability). Sebaliknya, seorang pemimpin beracun adalah pemimpin yang mengeksploitasi kebutuhan psikologis dan ketakutan pengikutnya untuk kepentingan dirinya semata. Ada baiknya bila kita semua bermenung diri di tengah kalutnya pandemi dan riuhnya kontroversi: masuk dalam kategori pemimpin macam apakah diri ini serta tak saling menghujat atau mencari pembenaran sendiri.
Sebagai penutup, ada baiknya bersama kita resapkan nukilan pendapat dari salah satu pakar kepemimpinan John C. Maxwell di bagian akhir kolom ini: ‘’Anda bisa menyukai orang lain tanpa memimpin mereka, namun Anda tidak bisa memimpin orang lain dengan baik tanpa menyukai mereka”. Salam sehat dan tetap semangat…(Teguh Santoso, dosen LB di Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Surabaya, pemikir bebas)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi