Sabtu, 20 Juni 2026, pukul : 21:18 WIB
Surabaya
--°C

Dicari, The King of Multiplier Effect

Bambang Budiarto

KEMPALAN: Selamat Datang PPKM Darurat. Setelah PSBB, PSBB Transisi, PPKM, dan PPKM Skala Mikro, lahirlah PPKM Darurat. Seluruh kebijakan tersebut mempunyai tujuan yang sama, memutus rantai penularan Corona.

Tujuan mulia ini ternyata melahirkan side effect yang tidak sederhana. Bersifat kontraktif, yang berarti memperkecil kegiatan perekonomian, tentu saja pada gilirannya akan  mengakibatkan lumpuhnya beberapa sektor ekonomi.

Direncanakan mulai berlaku per 3 Juli 2021 untuk angka waktu 2 minggu ke depan dan dapat diperpanjang sesuai analisis dan kajian intensif yang dilakukan. Menyasar pada puluhan kota/kabupaten yang terbagi dalam beberapa assesmen, kebijakan dengan 15 cakupan pengetatan aktivitas ini mencerminkan upaya penguncian mobilitas dan aktivitas yang posisinya ada di nomor 2.

Posisi runner up di bawah lockdown, opsi yang belum berani dipilih pemerintah karena beratnya beban biaya yang harus ditanggung. Terlepas dari capaian besar yang ingin diraih yaitu penurunan angka penularan corona, PPKM Darurat diprediksi akan memakan banyak korban ekonomi.

Beberapa cakupan usulan pengetatan dari 15 cakupan tersebut di antaranya; 100% WFH untuk sektor non essensial, 50% WFO untuk sektor essensial, dan 100% WFO untuk sektor kritikal. Di samping itu,  pembelajaran juga harus online serta kewajiban penutupan pusat perbelanjaan/mall.

Yang lain adalah keberadaan restoran dan rumah makan yang hanya boleh menerima delivery/take away serta fasilitas umum yang harus tutup sementara. Tak dapat dipungkiri bahwa beberapa dari 15 cakupan pengetatan tersebut sudah cukup untuk membuat ekonomi masyarakat ter-amputasi.

BACA JUGA  Jepang Naikkan Biaya Visa hingga Lima Kali Lipat Mulai Juli 2026

Dalam kondisi normal sejatinya tidaklah sulit untuk mencari dan menemukan sektor dalam ekonomi yang dapat dikatakan sebagai ‘The King of Multiplier Effect’. Dengan Pendekatan Input – Output (I-O) yang ketersediaan datanya secara periodik sudah disusun dan disiapkan oleh Badan Pusat Statistik, beberapa temuan akan cukup mudah diperoleh.

Secara berturut-turut akan teridentifikasi; sektor unggulan (SU), sektor potensial (SP), dan sektor tertinggal (ST).  Sektor yang memiliki forward linkage (FL) tinggi dan backward linkage (BL) juga tinggi, inilah yang disebut SU.

Sementara kalau SP adalah sektor dengan FL tinggi dan BL rendah atau sektor dengan FL rendah dan BL tinggi. Tentu saja ST adalah sektor dengan FL rendah dan BL juga rendah. Dari temuan atas beberapa SU, Pendekatan I-O masih mampu melakukan identifikasi untuk menemukan sektor yang memiliki multiplier employment, multiplier income, dan multiplier economy.

Sektor yang mampu menyerap tenaga kerja, meningkatkan pendapatan, sekaligus mengerek ke jenjang yang lebih tinggi capaian pertumbuhan ekonomi. Sektor yang demikian itulah yang disebut sebagai The King of Multiplier Effect.

Sama halnya pejabat publik dengan masa bakti 5 tahun, King of Multiplier Effect memiliki “kekuasaan” juga di rentang waktu 5 sampai 10 tahun, sejalan dengan penyusunan Tabel I-O yang dibuatnya memang tidak setiap tahun, tapi antara 5 sampai 10 tahun.

BACA JUGA  Polsek Balongbendo Semangati Petani untuk Keberhasilan Panen, Sukseskan Swasembada Pangan

Sektor ekonomi yang menjadi ‘raja’ dalam kondisi normal, bisa saja harus ‘turun tahta’ di tengah jalan digantikan sektor yang lain karena faktor non ekonomi, misal pandemi Covid-19 yang diiringi lahirnya PPKM Darurat ini. Keberadaan faktor non ekonomi inilah yang meluluh lantakkan hitung-hitungan  Pendekatan I-O yang telah melahirkan King of Multiplier Effect.

Tak mudah untuk bisa menjadi The King, sebab pasti ada kriteria-kriteria tersendiri. Apakah itu king of dangdut, king of rock, king of lip service, king of pop, ataupun king-kong.

Digital payment, volumenya benar-benar terbang tinggi di masa pandemi ini, apakah dia sosok King of Multiplier Effect? Sepertinya tidak, kriteria multiplier employment tidak dapat dipenuhi.

Bagaimana dengan UMKM atau Agribisnis, dua sektor yang sering disebut sebagai benteng tangguh di masa pandemi ekonomi seperti saat sekarang ini? Semua harus dikembalikan pada pilihan formulasi identifikasi sektoral yang dipilih.

Oleh karena itu, sejatinya sampai sekarang kita masih mencari ‘siapa’ sebenarnya King of Multiplier Effect sekarang ini. Sektor yang memiliki FL tinggi, BL tinggi, mampu menyerap tenaga kerja, menciptakan  pendapatan, dan    meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Siapakah dia? (Bambang Budiarto–Redaktur Tamu Kempalan.com, Dosen Ubaya, Pengamat Ekonomi ISEI Surabaya)  

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.