KEMPALAN: Hampir 4 windu (40 tahun) saya bersahabat dengan almarhum Abdul Jalil Latuconsina. Berawal menjelang pemilu 82. Persahabatan itu diawali di atas Kereta Api (KA) Gaya Baru dari Jakarta ke Surabaya.
Ketika itu –qadarallah–antara saya dengan almarhum duduk berhadap-hadapan. Sedangkan dua tempat duduk sebelah lagi ditempati dua turis perempuan asal USA yang hendak ke Jogjakarta.
Untuk sekedar mengusir waktu, saya Mencius bika komunikasikasi dengan dua cewek bule itu. Cas ces cos… diiringi gelak tawa. Nah, melihat dan mendengar pembicaraan saya dengan gadis bule itu, almarhum Jalil nyeletuk : Wah ente jago bahasa asing ya. “Sekedar asal ngomong aja, ” jawab saya. Almarhum memanggil ente ke penulis karena melihat wajah penulis seperti keturunan Arab. Dan sejak itu, almarhum setiap bicara dengan penulis selalu menyebut dengan ente.
Itulah yang mengawali perkenalan saya dengan almarhum dan bersahabat hingga akhir hayatnya, kemarin selepas sholat Jumat.
Berjibun kisah kenangan (memori) saya bersama almarhum yang terekam dalam server buatan Allah (ingatan) yang diberikan kepada saya. Antara lain :
Saat saling kenal di atas KA Gaya Baru itu, almarhum tahu tentang saya. Sebaliknya saya juga baru tahu dengan almarhum yang salahsatu dari anggota petisi 50. Sedang almarhum pun baru tahu sosok saya sebagai salahsatu anggota redaktur (bersama alm Ibrahim G Zakir, S Indro Tjahyono) buletin Mahasiswa Menggugat yang beredar di kalangan kampus di Bandung. Buletin stensilan ini waktu itu (78-82 akhir) sangat populer. Isinya mengkritisi dengan keras rezim Orba. Bahkan, berani melawan Mendikbud Daoed Yoesuf terkait kebijakan NKK-BKK.
Setiba di stasiun Gubeng pagi sekira jam 08.30, saya ajak almarhum ke pos kumpul saya di Surabaya di Jln Bogowonto (dulu tempat Prodia Laboratorium).
Qadarallah, disitu ada sahabat (almarhum Unggul Roseno dan almarhum Sholeh) yang sudah menunggu saya. Ternyata ketiga almarhum (Jalil, Unggul dan Sholeh) sahabat sesama aktiivis mahasiswa di Surabaya. Dari, Bogowonto itulah persahabatan saya dengan almarhum Jalil –khususnya– lebih familiar dibandingkan dengan almarhum Unggul dan almarhum Sholeh.
Dari Bandung, saya hijrah ke Jember. Karena pada Oktober 82 saya yang DO dari sebuah kampus di kawasan Haurpancu Bandung dapat fasilitas kerja dari Menkop almarhum Bustanil Arifin di Puskud Jatim yang kala itu dimenejeri oleh Drs Harnowo. Saya ditempatkan di Pusat Pengembangan KUD Unit Pelayanan Tebu Rakyat Intensifikasi (PPK UP TRI) Jatim di pos PG (Pabrik Gula) PG Semboro.
Meski sudah bekerja dan punya keluarga (thn 82 sudah punya putri), darah berorganisasi dan kesukaan menulie saya tetap mengalir. Artikel (opini) tulisan saya –terkait budidaya Tebu dan Pergulaan–sering dimuat di harian sore Surabaya Post.
Singkat kisah, tahun 85 saya hijrah ke Malang, karena diajak sahabat ER (Eddy Rumpoko) untuk ikut mengurusi koran Suara Indonesia (SI) bersama almarhum Peck Diyono, Pimred SI.
Setelah tiga tahun bekerja di SI, tahun 88 saya jadi reporter olahraga hari Jawa Pos (JP) di biro Malang. Setelah berpindah pos dari JP biro Malang, Lumajang, Jember dan Purwokerto dan Bangkalan, di tahun 95, kembali bersilaturahiman dengan almarhum Jalil.
Hampir setiap malam setelah deadline, kami –saya bersama almarhum dan almarhum Sholihin Hidayat (Pimred JP) serta Dhimam Abror D (Redpel JP) bertemu melepas penat di Coffee Shop Elmi Hotel. Karena saban malam bertemu disitu, sampai ada istilah Fraksi Elmi bagi yang berkumpul. Diantaranya, almarhum H Agil Ali, almarhum Gus Mik, almarhum Untung S Radjab (mantan Kapolda Jatim dab Metro), almarhum Abubakar Yarboo dll.
Dari Fraksi Elmi ini saya dan almarhum Jalil kian karib bersilaturahmi. Hingga almarhum membuat Tabloid Sapujagat.
Persahabatan saya dengan almarhum Jalil, sejak dia “berkuasa” dengan tabloid Sapujagat kerab berbeda pandang. Akibatnya, jalinan persahabatan pasang surut, kendati tiap malam Kamis bertemu di sebuah klub malam.

Namun, antara saya dengan almarhum tidak ada sakit hati dan dendam akibat perbedaan pandang. Semisal, saat almarhum dengan getol ‘memusuhi’ JP dan ‘menyerang’ individu DIS dan NW, hubungan saya baik-baik saja dengan almarhum.
Pernah almarhum memohon saya untuk menulis (lepas) di tabloid Sapujagat tentang Apegti dalam penanganan penyaluran sembako Tepung dan Gula yang dimonopoli pengusaha tertentu.
Anggota Petisi 50 ini wafat di Rusun Aparna Blok D Jl. Siwalankerto Timur V, Surabaya.
Jenazah dimakamkan di TPU Keputih, Surabaya, Jumat sore.
Almarhum menderita sakit komplikasi sejak empat tahun lalu. Almarhum meninggalkan seorang isteri dan dua anak di Surabaya.
“Ya ini tampilan terbaru saya, di pemilu 2004 ini, agar mudah diingat pemilih”, ujar almarhum waktu itu yang maju jadi calon DPD (Dewan Perwakilan Daerah) mewakili daerah pemilihan Jawa Timur.
Almarhum dikenal suka refreshing sore hari di satu mall terkenal di tengah kota. Ketika ia berjalan di mall, anak-anak kecil sering menyebutnya mirip dengan tokoh khayal Sinterklas atau Santa Klaus. Bahkan ada juga yang menyamakannya dengan tokoh penyihir aliran putih, Gandalf, dalam film Lord of The Ring. Gandalf si penyihir baik hati itu tampil dengan menunggang kuda putih, berjubah putih, jengot putih dan rambut putih tergerai.
Tampilan almarhum berubah empat tahun terakhir, ketika kesehatannya menurun. Rambut dan jenggot putih yang panjang dicukur. Almarhum lebih tak pernah keluar dari tempat tinggalnya. Istiqamah menunaikan ibadah.
Semasa muda, almarhum Jjalil Latuconsina merupakan aktivis mahasiswa angkatan ’78. Almarhum bersama beberapa aktivis lain sering mengkritisi kepemimpinan Presiden Soeharto. Itu dilakukan pada tahun 70-an bersama beberapa aktivis memimpin pergerakan mahasiswa di Surabaya.
Almarhum Jalil aktivis mahasiswa Akademi Pajak dan Keuangan atau STIPAK –Sekolah Tinggi Pajak dan Keuangan– lalu ganti nama menjadi STIESIA (Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia) yang kampusnya di Jalan Menur Pumpungan, Surabaya.
Akibat kekritisan dan keberaniannya menentang rezim Soeharto, di zaman Orde Baru itu, almarhum Jalil sempat merasakan pengapnya dinding penjara. Namun itu semua tak pernah menyurutkan langkahnya. Bahkan, di penjara pun ia masih berani memimpin demonstrasi.
Selain itu, almarhum juga menjadi anggota termuda dan satu-satunya dari Jawa Timur sebagai penanda tangan Petisi 50 di nomor urut 50. Para tokoh Petisi 50 itu, antara lain mantan Gubernur DKI almarhum Ali Sadikin dan Pangab almarhum Jendral Besar AH Nasution.
Anggota Petisi 50 lain yang cukup terkenal karena keberaniannya adalah AM Fatwa yang juga mantan anggota DPR RI.Tak heran bila kemudian di dunia politik Jawa Timur maupun nasional, nama Djalil Latuconsina cukup dikenal.
Meski tidak pernah menjadi anggota partai politik, hampir semua pimpinan partai politik di Jawa Timur mengenal sepak terjangnya. Ia dikenal sebagai sosok yang independen, punya tekad dan keberanian yang besar.
Djalil Latuconsina sempat pula terjun ke dunia bisnis di akhir 1980-an sampai 1990-an. Bahkan di tahun 1994, ia terpilih untuk memimpin HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) Surabaya. Kemudian dunia bisnis ia tinggalkan, dan tahun 2000 ia terjun ke dunia pers dengan menerbitkan “Tabloid Sapujagat”.
Qadarallah, pada tahun 2012, alhamdulillah saya berhasil mengajak almarhum bersama Budi ‘Bola’ Setyawan menunaikan ibadah umrah. Subhanallahu, selama di tanah suci –Makkah Madinah– karena sosok almarhum yang khas –rambut dan jenggot panjang putih — membuat orang-orang dari berbagai negara yang melihat minta berfoto bersama. Begitu juga saat kita transit di Brunei Darussalam, dari bandara hingga ke masjid Sultan Bolkiah, almarhum jadi rebutan untuk diajak foto.
In syaa Allah, amal baik almarhum saat masih sehat menjadi pahala dan almarhum mendapat husnul khotimah. Aamiin (Ferry Is Mirza)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi