Sebuah Pertaruhan

KEMPALAN: Kantor Hera diliburkan untuk beberapa waktu. Hera mengikuti perkembangan situasi melalui TV dan media media koran yang bertebaran, dengan headline-headline yang bombastis. Pembakaran belum berhenti, bahkan menjalar ke beberapa wilayah yang bukan hanya di kawasan pecinan tetapi ditempat-tempat dimana ada pusat pembelanjaan. Tidak hanya di Jakarta saja, tetapi juga di kota-kota besar lain di Jawa. Hera sekilas teringat sahabat baiknya, Martono yang bermata sipit. Semoga Tuhan melindunginya dimanapun dia berada, kebaikan, ketulusan hatinya serta kepeduliannya terhadap kesulitan orang lain, melekat dalam ingatan Hera. Dalam lubuk hati Hera berharap, semoga kelak Martono mendapatkan proyek besar di Jakarta.
Di Jakarta bagian timur tempat Hera tinggal tidak luput dari sasaran massa yang anarkis, supermarket, departmentstore yang berlokasi di dekat kompleks perumahannya, dijarah lalu dibakar. Hera menyaksikan sendiri, orang-orang berseliweran mendorong troly berisi aneka belanjaan gratis. Warga sekitar yang tidak kuat iman, berbondong- bondong terpengaruh ikut terbawa arus menjarah. Mumpung gratis. Ada yang menganbil sound system, tape recorder, CD player, lampu- lampu, peralatan listrik, dispenser, cosmos, setrikaan dan lain-lain. Mereka tidak sadar saudara-saudaranya sendiri bakal kehilangan pekerjaan. Setetah toko-tokonya tutup, entah kapan bisa buka lagi, atau tutup selamanya.
Karena banyak perusahaan yang gukung tikar karena kerugian yang luar biasa akibat penjarahan. Mereka tidak sanggup menanggung beban kerugian lebih besar lagi, jika harus memperkerjakan karyawan yang tempat usahanya sudah ludes.
Seperti halnya perusahaan Danang, meskipun tidak termasuk menjadi korban penjarahan karena berada di Jakarta Salatan, tapi dampak dari perubahan iklim politik, membuat segala lini usahanya tidak bisa berjalan. Pesangon PHK Danang yang minim hanya bisa untuk membayar kontrakan rumah satu tahun. Gaji bulanan Hera yang tidak seberapa menjadi semakin terasa pahit, tidak cukup untuk menutup kebutuhan hidup sehari-hari. Hera berpikir keras bagaimana caranya untuk bisa mencari uang tambahan. Hera memiliki kebisaan dalam hal menyusun dokumen Administrasi tender, sehingga Hera bisa bekerja secara part time untuk bidang tersebut. Hera bisa soundingkan kepada pak Acun bekas pimpinannya yang dulu atau kolega lainnya yang dia sudah kenal. Hera berkeyakinan mereka membutuhkan tenaga Administrasi tender yang sudah terbiasa. Karena dalam menyusun dokumen tender butuh ketelitian khusus banyak format dokumen yang mirip-mirip tetapi isinya berbeda. Hera mendapat order pertama dari pak Acun dan teamnya. Hera tidak mengerjakan di kantornya, baginya itu tidak baik, melalukan pekerjaan lain dengan fasilitas kantor. Hera bekerja selepas jam kantor atau saat hari libur Sabtu. Hari minggu khusus untuk keluarga dan istirahat. Hera tidak memasang harga, Hera melaksanakan order pekerjaan dengan baik dan teliti sampai dokumen administrasi siap di bundel dan disegel untuk dibawa kepada Panitia Tender di Instansi yang diikuti. Tidak ada tender online LPSE, semua serba manual. Untuk dokumen teknis dan dokumen Penawaran Harga, ada team lain yang ngengerjakan. Hera mendapatkan tambahan uang, walaupun istilahnya hanya uang transport walau sedikit tetapi sangat berarti bisa untuk membayar satu post pengeluaran membayar tagihan listrik atau beli gas buat masak. Jika tender yang diikuti menang Hera akan mendapatkan uang tambahan. Seperti tekadnya Hera hidup mengalir mengikuti naluri dan nurani serta nalari. Tiga N yang diingat dari prinsip hidup ibunya, baru disadarinya setelah dewasa dan berumah tangga. Konon kata ibunya konsep Tiga N itu berasal dari mbah Kakung nya Hera. Diberikan kepada ibunya saat ibunya akan hijrah ke Jakarta diboyong oleh bapaknya. Tetapi mbah Kakunganya entah mengapa tidak memberikan konsep 3N itu kepada Hera cucu kesayangannya. Apakah mungkin karena berpendidikan Hera lebih tinggi dari ibunya, sehingga Mbah Kakung tidak perlu menyampaikan nasehat-nasehat seperti itu. Padahal ternyata sangat bagus diterapkan dalam kehidupannya.
Situasi negara berangsur-angsur normal, pasca kejatuhan Orba. Bangsa Indonesia memasuki jaman Reformasi. Era menuju perubahan yang lebih baik. Kebebasan berpendapat dijamin. Media bebas menulis tentang apa saja. Peristiwa-peristiwa yang tabu untuk diungkap, disajikan secara gamblang oleh media. Testimoni dan pledoi beberapa tokoh dalam peristiwa ontran-ontran 65, bertebaran di media. Menjadikan sesuatu yang belum jelas dan ragu menjadi gamblang. Tak luput pula sorotan kepada mantan presiden Soeharto selama berkuasa beserta gurita bisnis anak-anaknya yang memakai fasilitas negara.
Hera menikmati euforia keterbukaan media. Berbagai koran-koran dan beraneka judul buku masalah sosial, politik, dan peristiwa yang menjadi tanda tanya besar dalam hidupnya, terjawab sudah. Era reformasi sedang berlangsung dimana negara memberi kelekuasaan, bebas mengemukakan opini, dan pendapat, bebas menulis apa saja tanpa rasa takut ditangkap. Tidak ada buku yang dilarang, tidak ada media yang dibreidel. Masyarakat bebas menilai. Era reformasi membawa perubahan yang significan dalam perpolitikan dan tatakelola negara. Partai politik yang selama orde baru dikerdilkan melejit menjadi partai besar nomer satu. Hal yang sebenarknya tidak mengagetkan, karena di akar rumput sudah seperti api dalam sekam. Karena bagi yang paham ibarat hanya menunggu bom waktu, dan dimasa reformasi itulah bom meledak dengan dasyatnya.
Hera berharap dalam hati kecil nya. Semoga perubahan jaman ini akan mempengaruhi nasibnya, berubah menjadi lebih baik. Setidaknya secara psikologis membawa aura optimisme, tidak was-was dalam melangkah, yang jelas tidak minder lagi. Media cukup berperan mengangkat harga diri para pihak yang dimasa orde baru dipurukkan sampai ke dasar kenistaan sebagai manusia. Entah ada hubungannya atau tidak, perubahan jaman ini membuat dada Hera, dan Ibunya, Suratmi, menjadi sangat lega plong seperti sembuh dari sakit sesak nafas tang menahun.
Hera optimis hidupnya kelak akan menjadi lebih baik, lebih percaya diri. Wolak-walikin jaman urip iku Cokro Manggilingan hidup seperti roda pedati, begitu kata simbahnya. Ternyata benar. Hera masih bekerja di kantor, di kawasan kota tua, Jakarta Utara. Pekerjaan sampingannya berkantor di Kuningan Jakarta Selatan. Jarak yang lumayan jauh dan merupakan jalur macet. Hera merasa masih muda dan kuat saatnya bekerja keras dan belajar banyak. Tetapi Hera abai dengan kesehatannya. Sehingga Hera sering terserang flu dan batuk-batuk. Suatu pagi saat Hera akan berangkat kerja, Hera merasa tidak enak badan namun dia paksakan. Di tengah perjalanan Hera turun dari bis pindah naik taxi menuju rumah ibunya. Tentu saja ibunya kaget, tiba-tiba kedatangan anak perempuannya, mukanya pucat, batuk-batuk nafas tersengal. Ibunya bergegas minta tolong keponakan agar memanggilkan Bajaj. Dengan diantar ibunya Hera menuju Puskesmas terdekat. Beruntung tidak harus mengantri panjang karena Puskesmas sudah hampir tutup. Hera diperiksa, diberikan obat dan pengantar untuk rongsen ke rumah sakit atau ke puskesmas yang lebih besar. Hera membeli obat di Apotik, hari itu Hera ijin tidak masuk kantor. Dia beristirahat sejenak di rumah ibunya.
(Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya & Dra. Hersis Gitalaras adalah pengusaha di Jakarta/bersambung)
