SURABAYA – KEMPALAN : Saat ini, masyarakat bisa mengelola bisnis mereka dari gadget dengan memanfaatkan aneka aplikasi yang ada di dalamnya. Tidak terkecuali kelompok tunanetra yang ingin meningkatkan kemampuan finansialnya dengan memanfaatkan media sosial dan e-commerce.
Hal itu terlihat dalam “Pelatihan Informasi dan Teknologi dalam Pemanfaatkan Aplikasi e-Commerce dan Media Sosial untuk Difabel Netra” yang diselenggarakan di Gedung Wanita Chandra Kencana, Surabaya, Senin (21/6). Selama tiga hari ke depan, mereka akan dilatih agar gawai yang mereka miliki bisa menambah pendapatan mereka.
Pelatihan ini diselenggarakan oleh Komunitas Mata Hati (KMH) dan diikuti oleh 20 tunanetra. Humas KMH, Eka Gandi menjelaskan pelatihan ini diikuti anggota Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Surabaya. “Hasil survei menunjukkan bahwa mereka meminta agar potensi bisnis mereka bisa dimaksimalkan melalui gadget untuk kemandirian finansialnya,” katanya.
Eka mengatakan tunanetra zaman sekarang juga menggunakan smartphone baik jenis Android maupun iPhone. Caranya dengan mengaktifkan aksesabilitas dan memanfaatkan aplikasi screen reader. Dengan demikian, mereka mampu menggunakan smartphone pada umumnya. Begitu juga ketika menggunakan laptop dan komputer. Tapi selama ini, gadget hanya dijadikan sebagai hiburan semata.

“Tapi banyak dari mereka yang tidak tahu bagaimana mengoptimalkan, misalkan media sosial, supaya mereka bisa mandiri secara finansial. Dan tidak semua e-commerce ramah terhadap kawan-kawan tunanetra,” katanya.
Melalui kerjasama dengan Pemkot Surabaya dan USAID, pelatihan ini dilaksanakan hingga 23 Juni mendatang. Yang menarik, traineer peserta pelatihan ini juga mengalami disabilitas yang sama. Eka mengatakan meski memiliki disabilitas, para traineer ini punya kemampuan dan kapasitas yang mumpuni.
“Mereka (traineer tunanetra, red) paling menguasai bagaimana menjelaskan kepada teman-teman, peer to peer ya, sebaya. Mereka juga punya kompetensi yang mumpuni. Jadi dari tunanetra untuk tunanetra,” kata Eka.
Selain dilatih perihal memanfaatkan teknologi untuk kemandirian finansial, pelatihan ini juga menggandeng sejumlah pakar dan vendor. Dari pihak Telkom, lewat community development centre diharapkan kawan-kawan tunanetra juga mendapatkan peningkatan softskill – seperti packaging- hingga bantuan dana.
Seorang akuntan juga akan dihadirkan supaya peserta pelatihan mampu melakukan pencatatan sederhana.
“Pencatatannya tidak dengan coret-coret di kertas maupun pakai huruf braille. Tapi menggunakan teknologi terkini, aplikasi yang mudah digunakan oleh peserta pelatihan,” tegasnya.
Lebih lanjut, peserta pelatihan akan didampingi secara berkelanjutan agar mencapai target yang diharapkan. Selain itu, Eka tidak menutup kemungkinan akan ada pelatihan selanjutnya. Tidak hanya diperuntukkan difabel netra, tapi juga difabel lainnnya. (Nani Mashita)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi