Cerbung Prof Budi Santosa PhD & Dra Hersis Gitalaras (Seri 57)

Sebuah Pertaruhan

  • Whatsapp

KEMPALAN: Hera merenung di kamar kosnya yang besar dan sepi, kedua temannya tidak ada, Nunik dan Endah sedang mengambil mata kuliah KKN. Entah mengapa perasaan Hera galau, dan risau dalam tingkat yang serius. Hera dilanda kebimbangan antara ingin tidak buru-buru menikah atau ingin mengikuti nasehat dan kesepakatan orang tua Danang. Bagi Hera kesiapan secara ekonomi itu juga penting. Hera sejujurnya tidak sanggup hidup berumah tangga dengan segala keterbatasan ekonomi, apalagi hidup di Jakarta. Tapi Hera sudah terlanjur bersedia menikah dengan Danang. Artinya harus siap hidup susah, setidaknya di awal-awal pernikahannya. Kenapa Hera tiba-tiba menjadi bimbang?? Lalu dimanakah makna sebuah cinta ?? Apakah cinta itu harus mempertimbangkan ekonomi?? Apakah cinta itu harus melupakan logika?? Apakah sudah tidak ada cinta di hati Hera, ataukah sebaliknya apakah justru karena cinta maka semua harus merasa nyaman.

Hera menjadi aneh kenapa dia ragu hidup bersama orang yang dengan tulus mencintainya walau dalam keterbatasan?? Salahkah Hera jika berubah pikiran, salahkah Hera jika hatinya dilanda keraguan?? Hera pusing, kepalanya menjadi berat. Hera bangkit membuka pintu kamarnya, terlihat mbak kos. Dialah cucu eyang kos yang berwajah klasik seperti lukisan Monalisa sedang duduk baca koran di sofa. Mbak Pertiwi, cucu nya eyang kos yang berkulit putih, wajahnya juga putih pucat karena bibirnya jarang berlipstik, hatinya pun putih, dermawan, sering anak-anak kos dipinjami uang jika weselnya telat. Hera mendekat, di mata batin Hera, mbak kos ini sepertinya memiliki kelebihan metafisik, Hera merasakan hal itu. Mumpung sepi dari teman-temannya, Hera ingin ngobrol, kesempatan seperti ini jarang Hera dapatkan. Mbak Pertiwi sangat sibuk mengajar dan nyambi kerja di Biro Travel. Mbak Pertiwi menguasai beberapa bahasa asing, yaitu bahasa Jepang, Inggris dan bahasa Belanda. Mbak Pertiwi selalu Holland spreken jika berkomunikasi dengan eyang kos, juga dengan orang tuanya yang kadang menengoknya. Ciri priyanyi jaman kolonial.

” Waah asyiiknya yang lagi baca koran, tumben mbak santai..?” sapa Hera mendekat ke sofa dan duduk di ujungnya. Yang disapa lalu melipat korannya.

” eeh mbak Hera …tumben juga gak sibuk? ”

” Saya kan sudah selesai mbak, tinggal nunggu wisuda, revisi skripsi juga sudah selesai. Ini mau keluar cari sewaan Jubah dan Toga kok males jalan.”

” Apa perlu saya temani ayo, daripada nggak ada kegiatan. Sekalian kita cari makan siang yuk”.

Hera setuju dengan idenya mbak Pertiwi. Lalu meminta tolong Siti untuk memanggil Parman, tukang becak, untuk mengantarnya.

” Apa rencana mbak Hera setelah lulus?” tanya Pertiwi sambil naik becak.

” Yang jelas cari kerjalah mbak, lalu menikah sama mas Danang. Padahal jujur mbak saya belum siap, pinginnya dapat kerjaan dulu lalu menikah. Tapi ada deadline nya, tidak boleh lama..Itulah yang bikin saya risau mbak, pinginnya kerja dulu baru nikah”, Hera mulai bercerita.

” Ya nggak perlu risau, jalani aja.Semoga segera dapat kerjaan jika tidak ya berjuang, kalau memang wakunya harus menikah ya menikah. Bersyukurlah bahwa sudah menemukan jodoh. Pernikahan adalah ujung dari sebuah hubungan cinta kasih kan. Banyak lho hubungan yang tidak berakhir dengan pernikahan betapa pilu dan sedih rasanya. Banyak juga yang di usia yang mulai memasuki kepala tiga belum ketemu jodoh. Lha mbak Hera kok malah sedih risau?”

Tak disangka kata-kata nasehat mbak Pertiwi beruntun dan rasanya benar semua. Hera terhenyak.

” Iya mbak terimakasih nasehatnya. Setelah saya renung-renungkan, yang membuat saya galau seperti nggak siap, mungkin karena faktor ketebatasan kondisi ekonomi”, Hera akhirnya mengatakan sejujurnya karena antara lain memang karena itu.

” Waduuh hal seperti itu tidak perlu di risaukan, percayalah Tuhan tidak akan tinggal diam, Tuhan Pemberi hidup pasti akan bertanggung jawab atas makluk yang diciptakanNya. Tapi si makluk juga harus berjuang “, kembali mbak Pertiwi menasehati Hera lebih mendalam.

Perjalan sudah sampai, Hera dan mbak Pertiwi berhenti di Warung Soto langganan Hera. Warung soto yang disinggahi saat pertama dia menginjakkan kakinya di kampus dan badannya lemas akibat semalaman mabok perjalanan dari Jakarta dulu. Di warung itu pula dia menitipkan tas besarnya.

“Betul mbak, beruntung hari ini saya berkesempatan ngobrol dengan mbak, sehingga kepala saya yang berat dan mumet menjadi ringan dan mendapatkan pencerahan”, Hera merasa seperti tertohok seperti menjadi orang yang tidak bisa bersyukur. Mereka lalu pesan soto dan minuman.

” Optimislah mbak Hera, semua orang mengalami kesulitan yang berbeda-beda. Tapi intinya sama yaitu kesulitan. Cara menanggulangi adalah dengan solusi, apakah solusi itu ? Ya usaha, ikhtiar, doa. Buah atau hasilnya bernama solusi. Ingat ya mbak Hera optimis”, suara mbak Pertiwi menekankan. Hera benar- bebar tercerahkan hari ini.

” Saya ini usia sudah jauh lebih tua dari mbak Hera. Belum ada kejelasan jodoh saya siapa, saya tidak bisa berbohong bahwa saya juga risau, karena umur terus bertambah. Laki-laki perempuan seusia saya rata-rata sudah menikah. Laki-laki yang lebih muda dari saya, tentu memilih yang seusia atau yang lebih muda. Tapi saya sadar mungkin belum waktunya, suatu saat jodoh itu pasti akan datang, wong saya tidak menutup hati saya”, kata mbak kos berubah menjadi ngudarasa.

Tiba-tiba terlintas wajah Martono di pikiran Hera. Cocok sepertinya jika mbak Pertiwi yang baik itu berjodoh dengan cowok baik seperti Martono. Teman warga keturunan yang selalu berbuat baik tanpa pamrih. Nanti Hera akan bikin rencana saat wisuda. Usai makan soto, mereka lalu menuju tempat sewa toga dan jubah.

Selesai urusan Hera, mereka berdua kembali pulang ke kos. Ada kelegaan di hati Hera walau tidak sepenuhnya. Yang Hera harus garis bawahi adalah kata optimis, ya optimis. Dan, kata Tuhan tidak akan membiarkan makhluk ciptaanNya yang punya niat baik ingin menikah dengan oarng yang mencintainya.

Tidak terlalu lama sampai di rumah kos Martono datang membawakan Lumpia mbak Lin yang terkenal di Semarang. Hera heran. Hera paham dengan siatuasi saat ini, tidak ada telpon tidak ada alat komunikasi selain surat yang membutuhkan beberapa hari. Tetapi apa yang diangankan kadang hadir, tidak disangka. Mungkin itulah yang dinamakan telepati. Apa yang dialami dengan Martono adalah contohnya. Kesempatan Hera memperkenalkan Martono kepada mbak Pertiwi.

“Martono , kenalkan mbak Pertiwi. Cucu eyang kosku.”

“Oo Saya Martono”, sahut Martono sambil mengulurkan tangannya. Lalu mereka ngobrol sambil menikmati Lumpia bersama. Percakapan berjalan lancar.

“Mbak dan Martono nanti kalau sampai keluargaku nggak datang saat wisuda, mohon ya mbak dan Martono bisa mendampingi saya.”

“Oh dengan senang hati”, sahut keduanya bersamaan.

Di hari- hari terakhir Hera di Semarang, Hera lebih banyak dibantu oleh mbak Pertiwi dan Martono. Saat hari “H” wisuda sudah dekat Hera belum mendapatkan berita kehadiran keluarga dari Jakarta, ini yang membuat hati Hera risau. Apakah ibu bapak, kakak adik , simbah tidak jadi hadir? Rasanya tidak mungkin. Undangan sudah ditangan dengan dua pendamping.

Keesokannya hari H acara wisuda, Hera berdandan sendiri di kos dibantu mbak Pertiwi, pagi- pagi jam 6.00 harus sudah siap di Auditorium. Hera dijemput Martono jam 6.00 kurang dengan motor bebeknya. Mbak Pertiwi bertugas menjaga, menunggu keluarga Hera jika datang memberikan panduan alamat tempat wisuda. Hera menangis karena sudah lewat jam 7.00 keluarganya belum datang. Hera sempat berpesan kepada mbak kos jika sampai dengan jam 8.00 keluarganya belum sampai di rumah kos. Maka mbak Pertiwi harus ke gedung menyusul dan menjadi pendamping, Daripada tidak ada yang mendampingi akan malu sekali. Saat wisuda masa Hera kuliah, cukup banyak teman yang keluarganya tidak datang, lalu didampingi oleh temannya sendiri. Itu sering menjadi bahan tertawaan para dosennya.

Martono menghibur Hera agar jangan menangis, tepat jam 8.00 saat wisudawan memasuki gedung,  keluarga Hera tergopoh datang dan Hera memanggil ibu dan mbah kakung untuk mendampingi. Bapak Hera nggak ikut datang karena masalah kesehatan. Hera masih cemberut karena hampir tidak ada pendampingnya. Betapa malunya jika hal itu terjadi. Martono masih setia menunggu hingga acara wisuda selesai dan memberikan pelayanan sebagai photografer, mengatur keluarga Hera berfoto-foto di lingkungan kampus, di patung kuda Diponegoro di Jalan Imam Barjo. Lalu befoto- foto di kebon belakang rumah kos. Hera senang dan riang hari itu walaupun paginya menangis. Hera sempat marah-marah ke ibunya hingga ibunya luar biasa sedih. Hera mengingat itu sebagai sebuah dosa.

“Ibu, saya sudah tidak pernah minta biaya kuliah sampai dengan lulus sarjana, saya terseok- seok kuliah dengan mencari tambahan biaya sendiri. Seumur-umur, Hera tidak pernah menyusahkan ibu, tidak pernah minta biaya sekolah. Asal ibu tahu, Hera berjanji dalam hati bahwa Hera ingin membahagiakan ibu. Saat wisuda inilah Hera ingin menggembirakan ibu, saat bersyukur Hera telah menjadi Sarjana dan ingin berbagi kegembiraan, tapi ibu dan keluarga membuat senewen, membuat Hera nangis karena telat hadir “, Hera mengoceh panjang lebar hingga ibunya tertunduk.

Hera menjadi sedih dan kaget kenapa dia begitu emosi marah-marah. Ibunya menjawab bahwa keterlambatannya karena mobil yang dibawa mogok, sehingga makan waktu diperjalanan lebih lama. Mobil rombongan ibu Hera setelah wisuda mudik ke desa.  Entah mengapa Hera menjadi kesal, dan tidak ikut rombongan mudik ke desa. Kembali mbak Pertiwi menasehati,

“Sabarlah Tuhan mengetahui bahwa maksud hati Hera baik. Mengajak seluruh keluarga gembira, tapi jika yang terjadi bukan sebuah kegembiraan mungkin ada sebab lain yang di luar jangkauan kita. Ada masalah mobil mogok, sopirnya kelelahan misal ya, jadi tidak perlu dirisaukan”. Hera sangat menyesal telah ngomel-ngomel kepada ibunya yang susah payah datang dari Jakarta lalu menjemput mbah kakung dulu ke desa. Sehingga membuat ibunya sangat sedih. Sejak peristiwa itu, Hera berjanji tidak akan marah lagi kepada ibunya.

Seminggu setelah peristiwa wisuda, Hera pulang ke jakarta membawa satu album berisi foto-foto wisuda dan nyicil membawa properti baju-baju yang tersisa di kos. Hera mendapat kado album besar, hadiah wisuda dari mbak Pertiwi dan di album itu disematkan foto-foto bagus hasil jepretan Martono. Keluarga Jakarta sangat senang melihat foto- foto itu. Dari Jakarta Hera lanjut mudik ke desa menemui simbahnya dan memperlihatkan foto-foto wisuda. Simbahnya sangat senang. Hera juga mohon pamit bahwa dia akan kembali ke Jakarta mencari pekerjaan. Hera memastikan kepada simbahnya bahwa kelak Hera akan menikah di desa, dengan kedua simbahnya sebagai pemangku hajat.

Kemudian Hera balik ke kos berpamitan kepada teman-teman kampusnya, kepada mbak kos, eyang kos, mas Bagas, Martono, burung Hantu yang bertengger di dahan pohon flamboyan, dan berpamitan juga kepada Siti pembantu di tempat kos, Parman si tukang becak, dan semua yang tersisa di Semarang.

“Ke Jakarta aku kan kembaliiii… walaupun apa yang kan terjadi”, nyanyian hati Hera menirukan suara Yon Koeswoyo dari Koes Plus.

(Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya & Dra. Hersis Gitalaras adalah pengusaha di Jakarta/bersambung)

Berita Terkait