Jumat, 1 Mei 2026, pukul : 12:22 WIB
Surabaya
--°C

Meski Hubungan Merenggang, Menlu Turki Kunjungi Prancis

ANKARA-KEMPALAN: Mevlut Cavusoglu, Menteri Luar Negeri Turki mengatakan pada Minggu (6/6), Turki dan Prancis akan menjaga hubungan baik.

“Turki dan Prancis adalah dua negara yang berkawan dan bersekutu. Dan akan tetap seperti itu. Kita harus memastikan bahwa tidak ada kesalahpahaman yang datang mengganggu hubungan pertemanan ini, yang mana kami saling terikat,” tulis Mevlut dalam editorial surat kabar Prancis, L’Opinion yang dikutip Kempalan dari Anadolu Agency.

Ia menyampaikan hubungan Prancis dan Turki sempat mengalami ketegangan, yang menurutnya tidak biasa bagi kedua negara itu. Hubungan yang telah dibangun Presiden Turki Erdogan dan Presiden Prancis Macron memberikan peluang bagi kedua negara untuk memperkuat hubungan.

Kedua negara sekarang memiliki ketertarikan antara satu sama lain berkaitan dengan permasalahan regional yang akhir-akhir ini memunculkan ketegangan di antara keduanya. Baik Prancis maupun Turki juga memiliki urusan yang sama berkenaan dengan Suriah, termasuk pengiriman bantuan kemanusiaan, kebutuhan untuk memajukan proses politik, dan menjaga integritas teritorialnya.

“Berkenaan dengan ketidaksepakatan kami berkaitan dengan kerja sama sekutu kami dengan teroris YPG/PKK dalam pertarungan mereka melawan ISIS, hal itu hanya bisa dikalahkan ketika kerja sama ini berhenti sama sekali,” ujar Menlu Turki itu menekankan bahwa melawan ISIS bukanlah tujuan utama dari PKK.

Ia juga menambahkan, YPG/PKK merupakan teroris yang mengancam keamanan nasional Turki dan tidak dapat diabaikan.

Mevlut mengatakan, baik Turki maupun Prancis memiliki prioritas yang sama di Libya, seperti kestabilan dan persatuan politik dari negara tersebut, dukungan terhadap pemerintah dalam menyelenggarakan pemerintahan di negara itu, dan gencatan senjata abadi juga memerangi terorisme.

“Kami terbuka untuk dialog dengan permasalahan-permasalahan kepentingan bersama di Libya, yang mana kestabilannya berdampak kepada seluruh kawasan,” tuturnya.

Sementara itu, bekaitan dengan permasalahan Mediterania Timur, yakni perebutan Siprus antara Turki dengan Yunani telah diupayakan melalui dialog yang tenang serta menambahkan, negaranya tidak memiliki ambisi ekspansionis.

“Dalam permasalahan Siprus, Turki akan mendukung upaya orang Turki Siprus dan orang Yunani Siprus jika mereka sepakat pada sasaran dari perundingan itu,” ujar Mevlut.

Beralih ke ketegangan antara Azerbaijan dan Armenia di Kaukasus Selatan, Cavusoglu mengatakan Turki dan Prancis dapat bersama-sama mendukung perdamaian abadi yang akan menguntungkan kemakmuran kedua negara yang bersangkutan.

“Menggunakan dan mendistorsi sejarah untuk tujuan politik tidak pernah memungkinkan untuk menyelesaikan perselisihan atau mewujudkan keadilan,” katanya.

Jika klaim tak berdasar dari ekstremis Armenia dapat dicegah untuk menyandera hubungan Turki-Prancis, katanya, kedua negara dapat berkontribusi lebih baik pada stabilitas Kaukasus Selatan melalui upaya bersama mereka.

Mengenai pengadaan sistem pertahanan udara S-400 Rusia oleh Turki, Cavusoglu mengatakan bahwa rudal tersebut tidak menimbulkan risiko keamanan bagi NATO dan bahwa negaranya bertekad untuk mempertimbangkan masalah tersebut secara realistis dan melalui dialog yang konstruktif.

Cavusoglu menekankan bahwa Prancis dapat mengandalkan Turki, sekutu terbesar kedua di NATO, dalam perang melawan terorisme. Melalui pengorganisasian pemulangan teroris Prancis yang ditangkap di perbatasan Suriah dan berbagi informasi, Turki adalah sekutu Prancis yang telah berkontribusi paling besar untuk memerangi terorisme, menurut menteri Turki.

Memperhatikan persepsi Turki di Prancis telah dipengaruhi baru-baru ini oleh sejumlah kebingungan dan prasangka, dia berkata: “Kami mengulangi dengan keras dan jelas bahwa Turki tidak pernah memiliki keinginan untuk ikut campur dalam [urusan] Prancis.”

Dia menekankan bahwa satu-satunya prioritas negaranya bagi orang-orang Turki yang tinggal di Prancis adalah memberi mereka semua layanan publik yang mereka harapkan dari Turki sambil mempromosikan integrasi mereka yang sukses ke Prancis.

Ia berkata, guru dan imam bahasa Turki, atau ulama Muslim, juga menanggapi permintaan dari warga negara Turki.

“Para imam ini juga menjadi aset yang cukup besar bagi otoritas Prancis, khususnya karena tidak ada kasus radikalisasi yang diamati di masjid-masjid mereka,” ujar Mevlut. Mevlut sendiri mengunjungi Prancis pada 6 dan 7 Juni 2021 atas undangan dari Menteri Luar Negeri Prancis Jean Yves Le Drian. (Anadolu Agency, reza hikam)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.