La Nyalla, Prabowo, Ginanjar, Sandiaga, Puan Maharani

waktu baca 3 menit
Anies Baswedan, Prabowo Subianto, dan Sandiaga Uno

Catatan: Prof Dr Sam Abede Pareno, MM,MH

KEMPALAN: Nama-nama yang jadi judul dalam tulisan ini adalah yang santer jadi nominasi bakal calon presiden dalam pilpres 2004 kelak, baik yang berasal dari parpol maupun bukan.
Saya sengaja pasang La Nyalla di urutan pertama karena beliau bakal calon fenomenal, diajukan oleh kaum muda yang berasal dari Pemuda Pancasila dan kalangan independen yang sudah kapok dengan parpol. Nyalla benar-benar independen dalam pikiran dan hatinya.

Beliau mewakili aspirasi “manusia merdeka”. Di urutan kedua, adalah Prabowo, letnan jenderal purnawirawan yang tidak bisa disebut mewakili militer seperti ayah mertuanya dahulu (jenderal Soeharto alm.), justru lebih tepat sebagai representasi Partai Gerindra. Ada lembaga survei yang menempatkan putera begawan ekonomi Prof Soemitro Djojohadikusumo alm. ini memiliki tingkat popularitas dan elektabilitas tertinggi di antara bakal calon lainnya.

Prabowo sudah 3 kali jadi calon presiden, tapi selalu kalah. Beliau bagai petarung yang tak mau menyerah, sehingga akan maju lagi. Prinsip trial and error nampaknya menjadi andalan pengusaha ini. Prabowo pernah terlibat konflik dengan La Nyalla, meskipun tak menutup kemungkinan keduanya berkongsi dalam pencapresan 2024.

La Nyalla Mahmud Mattalitti dan Puan Maharani

Dalam praktik politik tak ada lawan dan kawan abadi, yang ada ialah kepentingan abadi

Selanjutnya mestinya Anies Baswedan. Sengaja namanya tidak saya masukkan karena beliau sama dengan La Nyalla, tidak berasal dari partai tertentu. Anies sama juga dengan Prabowo, yaitu sama-sama didukung oleh massa FPI ketika Anies maju sebagai calon gubernur Jakarta, dan Prabowo sebagai calon presiden pada 2019 lalu. Bedanya, Anies menang, dan masih saling bersilaturrahim dengan FPI, sedang Prabowo kalah lantas masuk kabinet Jokowi dan menjauhi mantan pendukungnya. Suatu keniscayaan dalam politik praktis.

Satu tokoh fenomenal lainnya yang masuk bursa bakal calon presiden ialah Ganjar Pranowo. Tokoh yang digandrungi oleh akar rumput PDIP tapi tidak diandalkan oleh elite PDIP ini bermimikri menjadi tokoh fenomenal. Beliau tentu sedang mencari strategi yang pas untuk keluar dari fenomena itu, yaitu dicintai massa dan juga disukai elite partainya. Maklum, Ganjar tak boleh mendahului bos partainya yang bukan tak mungkin lebih condong memilih Puan Maharani dalam konteks politik dinasti. Namun, sebelumnya kita bahas terlebih dahulu tentang sosok Sandiaga Uno. Pasangan Prabowo di 2019 ini juga memilih jadi menteri dalam Kabinet Jokowi. Meski demikian, Sandiaga tak seperti Prabowo yang pernah keras menyerang Jokowi. Sandiaga tidak berapi-api ataupun meledak-ledak dalam mengkritisi rezim. Beliau tetap menjaga kesantunan dalam berpolitik.

Ganjar Pranowo

Semua yang telah disebut adalah maskulin. Yang berikutnya adalah feminin, Puan Maharani. Puan binti Taufik Kiemas, bukan binti Guntur ataupun anak perempuan Sukarnoputra lainnya. Ibunya, Megawati Sukarnoputri.

Meski demikian, Puan diposisikan sebagai penerus trah Sukarno dalam kepemimpinan nasional. Beliau agaknya sudah dipersiapkan oleh sang ibu melalui PDIP untuk menjadi presiden seperti kakek dan ibunya. Politik dinasti memang sedang membayangi beberapa parpol di Indonesia. Meski rakyatlah yang menentukan keterpilihan seorang calon.

Berbagai Prediksi
Selain La Nyalla dan Anies Baswedan, dan mungkin juga Ganjar Pranowo, apabila terpilih sebagai presiden, boleh jadi akan menempatkan orang-orang dari partai pengusung dan pendukungnya sebagai menteri dan pejabat negara lainnya. Tentu sebagai balas budi tanpa mempertimbangkan the right man on the right place.

Mereka yang ditunjuk itu seringkali justru kontra produktif dengan kebijakan sang presiden. La Nyalla, Anies, dan Ganjar tidak punya track record demikian, meskipun tak lupa membalas budi jasa orang terhadap mereka. Maka, menurut pendapat saya, tandem La Nyalla yang pas di antara tokoh-tokoh tersebut bisa Anies, bisa pula Ganjar. Jangan dengan yang lain. Wallahu’alam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *