
KEMPALAN: “Meskipun negara-negara di Amerika Latin telah merdeka sejak abad ke-19, kebanyakan negara di Amerika Latin masih memiliki struktur ekonomi peninggalan kolonialisme dengan polanya yaitu mengekspor barang mentah dan komoditas agrikultur untuk menghidupi negaranya. Terlebih lagi hingga tahun 1960-an, Amerika Latin masih mengandalkan dua komoditas utama yaitu kopi di Brazil, Kolombia, El-Savador dan Guatemala serta pisang di Panama dan Honduras yang menjadi pemasukan utama negaranya. Meskipun pada saat ini diversifikasi produk semakin meningkat, pisang tetap menjadi komoditas utama bagi perdagangan internasional negara-negara Amerika Latin* (Brenes & Madrigal, 2003).
Pertumbuhan Ekonomi yang Lamban
Semenjak empat dekade lamanya, negara-negara di Amerika Latin mengalami pertumbuhan ekonomi yang sedikit lebih lambat jika dibandingkan dengan negara-negara lainnya di dunia. Pertumbuhan ekonomi di Amerika Latin cenderung lebih rendah serta lebih mudah untuk naik-turun dan hanya Brazil serta Chile saja yang menunjukkan stabilitas pertumbuhan ekonomi rata-rata sebanyak 2% tiap tahunnya (Chumacero & Fuentes, 2006).
Permasalahan kelambanan ekonomi di Amerika Latin bukanlah sebuah hal yang alami karena nyatanya Amerika Latin merupakan region yang sangat kaya dan makmur. Namun terdapat beberapa hal yang membuat Amerika Latin tidak secara optimal dalam ekonominya yang kemudian dapat dijawab melalui beberapa pandangan dalam studi Hubungan Internasional. Seperti misalnya adalah pendekatan Teori Dependensi yang memang ditujukan untuk Negara Ketiga dan lebih tepatnya Amerika Latin. Secara ringkasnya, Teori Dependensi memberikan perhatiannya untuk dapat mengerti penyebab terjadinya ketidakrataan yang terjadi di dunia ini dengan berfokus kepada relasi antara negara inti dengan negara periferal (Agbebi & Virtanen, 2016).
Perang Pisang di Dunia Internasional
Dalam sistem internasional, dunia terbelah menjadi dua yaitu negara inti dengan karakteristiknya sebagai negara maju dengan industrialisasi yang maju dan negara periferal dengan karakteristiknya sebagai negara berkembang dengan banyaknya sumber daya alam mentah. Dalam pendekatan Teori Dependensi, relasi antara negara inti dan negara periferal bersifat tidak setara yang kemudian dapat menjawab mengapa terjadi ketidakrataan yang ada di dunia pada saat ini (Agbebi & Virtanen, 2016).
Pisang sebagai buah yang sangat populer kemudian dapat menjawab bagaimana relasi antara negara inti dengan negara periferal terjadi karena sebagaimana yang Brenes dan Madrigal (2003) katakan dalam karyanya, pisang merupakan salah satu industri besar di dunia dan negara-negara di Amerika Latin secara kolektif menjadi eksportir pisang terbesar di dunia yang memasok sebanyak 28% persediaan pisang di dunia.
Pisang sebagai salah satu komoditas dagang utama serta sumber penghidupan sebagian besar masyarakat Amerika Latin mengalami permasalahan karena pada tahun 1993, European Union (EU) mengeluarkan kebijakan dengan intinya yaitu pengadaan kuota, tarif impor dan preferensi perdagangan yang memunculkan “Banana Wars”.
Tidak lama semenjak diimplementasikannya kebijakan tersebut, Kolombia, Kosta Rika, Guatemala, Nikaragua dan Venezuela mengajukan keberatannya ke General Agreement on Tariffs and Trade (GATT) karena dianggap tidak adil bagi dunia Negara Ketiga namun ditolak dengan adanya justifikasi bahwa sudah terjadi kesepakatan Lome (Wiley, 2008). Kemudian, Amerika Serikat juga menyampaikan keberatannya pada tahun 1997 ke WTO dan Amerika Serikat menang yang kemudian membuat EU harus menganulir kebijakannya.
Terdapat alasan mengapa Amerika Serikat ingin ikut campur dalam hal ini yaitu karena hanya 7% pisang dari Karibia yang masuk ke Eropa dan sisanya adalah dari perusahaan multinasional Amerika Latin yang dikontrol oleh Amerika Serikat (Barkham, 1999).

Teori Dependensi Dilihat dari Perang Pisang
Banana Wars yang terjadi antara EU dan Amerika Serikat memunculkan pertanyaan penting dalam konteks perdagangan internasional. EU dengan proteksionisme dan Amerika Serikat sebagai protagonis memberikan dampak signifikan bagi negara Dunia Ketiga dan kaitannya dengan Teori Dependensi.
Bagi negara-negara di Amerika Latin dimana sebagian besar pemasukan negara dan sumber penghidupan sebagian besar masyarakat yang sangat bergantung terhadap ekspor pisang dalam perdagangan internasional, dengan adanya kebijakan dari WTO maka dapat menghancurkan ekonomi negaranya.
Memang terdapat beberapa kasus seperti misalnya Ekuador dimana semua industri pisang diatur oleh swasta tanpa adanya perusahaan asing sehingga tidak terlalu mengalami guncangan yang sangat besar, namun kebanyakan industri pisang di negara Amerika Latin kebanyakan dikontrol oleh perusahaan multinasional. (Wiley, 2008).
Industri pisang di Amerika Latin adalah sebuah neraka bagi masyarakat Amerika Latin yang sepenuhnya bergantung kepada produksi pisang. Dengan upah buruh yang sangat rendah, ditambah ketidakjelasan mengenai pisang kedepannya karena sangat tergantung kepada negara inti membuat negara Amerika Latin sebagai negara periferal semakin sengsara.
Dengan adanya banana wars, Amerika Latin semakin teropresi dan tereksploitasi karena harus tunduk kepada aturan demi ikut sertanya dalam global market. Amerika Latin sebagai negara periferal menjadi bukti bahwa sebagaimana dalam pendekatan Teori Dependensi yaitu terdapat relasi yang asimetris. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi