Minggu, 12 April 2026, pukul : 04:38 WIB
Surabaya
--°C

Hari Kebangkitan Nasional, Budi Utomo, dan Sarjana Jepang

KEMPALAN: Banyak akademisi dan sarjana yang mengulik tentang Budi Utomo, organisasi yang hari lahirnya ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Nasional pada 20 Mei. Organisasi ini berdiri pada tanggal itu tahun 1908 yang berisikan priyayi-priyayi (bangsawan) Jawa. Mereka nantinya dianggap sebagai pelopor kemerdekaan Indonesia.

Namun dalam perjalanannya, nama Budi Utomo mulai diremehkan dalam kajian sejarah di Indonesia yang dianggap hanya sebagai organisasi pendidikan-kebudayaan, dan bukan organisasi politik, apalagi dengan keanggotaannya yang terbatas pada orang Jawa.

Akan tetapi, sejarawan Jepang lulusan Universitas Cornell, Akira Nazagumi berpendapat, wajar saja apabila seruan kebangkitan nasional berasal dari orang Jawa, karena suku bangsa itu yang menerima akibat paling besar dari penjajahan.

Berkenaan dengan keanggotaan yang terbatas pada bangsawan, Nazagumi berargumen bahwa hal itu wajar karena bangsawan lebih bisa beradaptasi terhadap perubahan sosial dibandingkan massa.

Adapun pada masa berdirinya, Budi Utomo memang berhati-hati dalam bertindak agar tidak dicap radikal dan tetap diperbolehkan oleh pemerintah kolonial. Pada masa itu, pergerakan yang dianggap mengganggu “rust en orde” (keamanan dan ketertiban) akan langsung dibubarkan dan dilarang oleh Pemerintah Kolonial Hindia-Belanda.

“Oleh karena itu, mempersalahkan Budi Utomo karena tidak tampil sebagai organisasi masa, kiranya sama sekali tidak relevan dengan situasi masa itu,” ujar Nazagumi dalam bukunya Bangkitnya Nasionalisme Indonesia: Budi Utomo 1908-1918.

Menurut Nazagumi, latar belakang terbentuknya Budi Utomo adalah perkembangan pendidikan Barat di Indonesia yang berjalan lambat namun pasti selama paruh kedua abad ke-19.

“Di bawah politik etis, pemerintah kolonial memasukkan semakin banyak priyayi atasan ke dalam jajaran hierarkinya, dan dengan demikian mengubah pembesar-pembesar tradisional menjadi alat birokrasi Belanda,” tambah Nazagumi.

Setelah itu ia menjelaskan, karena upaya memasukkan priyayi atas ke dalam birokrasi itu lah, perlahan rintangan tradisional dalam hierarki sosial masyarakat Jawa menghilang dan hal ini sangat berdampak kepada priyayi rendahan.

Penjelasan Nazagumi ini menunjukkan sebuah proses modernisasi di masyarakat Jawa yang menandakan perubahan era tradisional menuju modernitas, namun tanpa menghilangkan identitas kebangsaannya.

Budi Utomo yang tidak se-konfrontatif organisasi selanjutnya bukan dikarenakan tidak progresif, namun waktu itu memang dibutuhkan sikap yang demikian dalam memunculkan kesadaran nasional yang bermuara pada kemerdekaan nasional Indonesia.

Kesadaran kebangsaan Indonesia dimulai dari upaya para bangsawan ini, mereka bergumul, meskipun terbatas pada priyayi Jawa, namun kesadaran akan ke-Jawa-an merupakan awal dari kesadaran akan kebangsaan. Hal ini nantinya akan memunculkan kesadaran dari suku bangsa lain yang bermuara pada kesadaran nasional yang melahirkan Republik Indonesia. Maka dari itu nampaknya tepat menetapkan 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional. (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.