Rabu, 15 April 2026, pukul : 07:45 WIB
Surabaya
--°C

Berani Jujur Pecat

KEMPALAN: Bayi sungsang adalah bayi yang lahir terbalik. Harusnya kepala keluar dulu dalam persalinan, tapi yang keluar malah kaki dulu. Bayi sungsang menyulitkan persalinan, dan bisa mengakibatkan risiko kematian sang ibu. Untuk menyelamatkan sang ibu dari kematian akibat kelahiran sungsang harus dilakukan operasi bedah.

Fenomena bayi sungsang cukup banyak terjadi. Tapi yang lebih banyak terjadi sekarang ini adalah fenomena politisi sungsang, politisi yang mencla-mencle, isuk dele sore tempe (pagi kedele sore jadi tempe). Belum lama mendukung satu calon dalam pilpres, tapi tidak lama kemudian balik kanan mendukung calon presiden lainnya. Dalam pilpres sebelumnya mendukung Prabowo, tapi dalam pilpres berikutnya mendukung Jokowi dan menjelek-jelekkan Prabowo. Itulah politisi sungsang.

Dalam pilpres menjadi pembela Prabowo tapi setelah pilpres royokan masuk kabinet Jokowi dengan alasan demi persatuan bangsa. Itulah manuver politik sungsang.

Ada juga istilah otak sungsang yang beberapa waktu belakangan ini sering dipakai oleh staf ahli KSP (Kepala Staf Kepresidenan) Ali Mochtar Ngabalin untuk menyebut orang-orang yang mengkritik kebijakan pemerintah. Paling tidak ada dua orang yang oleh Ngabalin disebut sebagai otak sungsang. Satunya K.H Anwar Abbas, wakil ketua MUI (Majelis Ulama Indonesia), dan satunya lagi Busyro Muqoddas, mantan ketua KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) yang sekarang menjadi Ketua PP Muhammadiyah bidang hukum dan HAM.

Anwar Abbas mengritik Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo yang dianggap lelet menangani kasus penistaan agama oleh Jozeph Paul Zhang yang mengaku sebagai nabi ke-26. Anwar Abbas tidak yakin Listyo akan menindak Zhang karena Listyo beragama Kristen.

Ngabalin ngamuk atas kritik Anwar Abbas ini dan menyebut Anwar sebagai pak tua berotak sungsang. Sampai sekarang sudah sebulan buron Paul Zhang belum tertangkap. Kita tunggu siapa yang berotak sungsang, Ngabalin atau Kiai Anwar Abbas.

Ngabalin juga menyerang Busyro Muqoddas dengan sebutan otak sungsang. Busyro mengritik keras pelemahan KPK dengan penonaktifan 75 penyidik senior KPK yang dikomandani oleh Novel Baswedan dan Harun Al Rasyid. Menurut Busyro pemecatan Novel dan kawan-kawan ini laksana paku pada peti mati KPK. Busyro menyimpukan, di tangan Jokowi KPK tamat. Ngabalin yang berang menyerang Busyro dengan menyebutnya berotak sungsang.

Montase logo KPK “Berani Jujur Pecat”

Perlawanan terhadap pelemahan KPK dilakukan dengan berbagai cara. Ada upaya perlawanan yang serius seperti yang dilakukan Busyro, tapi ada juga yang terkesan slengekan, tapi juga tetap serius. Salah satunya adalah memplesetkan tagline ‘’Berani Jujur Hebat’’ menjadi ‘’Berani Jujur Pecat’’.

Tagline Berani Jujur Pecat ini menjadi trending topik yang dicuitkan ribuan kali oleh warganet yang kecewa terhadap penonaktifan 75 penyidik dan karyawan KPK melalui tes wawasan kebangsaan yang dinilai dipenuhi jebakan dan ada rekayasa. Penonaktifan itu dianggap sebagai paku terakhir yang ditancapkan ke peti mati yang menandai matinya KPK sebagai ghost busters pemburu kasus-kasus hantu korupsi di Indonesia.

Motto ‘’Berani Jujur Hebat’’ sudah menjadi semboyan yang sangat identik dengan KPK. Tagline itu sudah dipakai sejak 2011 sejak KPK digawangi oleh Abraham Samad dan Bambang Widjojanto. Tagline itu menempel di gedung KPK di Kuningan dan menjadi trade mark khas lembaga anti rasuah itu. Beberapa hari belakangan tagline itu diedit dan diganti menjadi ‘’Berani Jujur Pecat’’ dan ditempelkan secara virtual di gedung KPK.

Novel Baswedan, penyidik senior yang menjadi salah satu korban penonaktifan mencuitkan tagline pecat itu di akun twitternya yang kemudian menjadi trending topik nasional. Bahkan di tengah jepitan dua hari besar nasional, Idul Fitri dan Kebangkitan Isa Almasih, tanda pagar pecat itu masih menjadi perhatian besar para warganet yang kecewa terhadap KPK.

Tagar Berani Jujur Hebat dibuat oleh KPK sebagai sebuah kampanye budaya yang digencarkan ke berbagai kota bersar di seluruh Indonesia. Salah satu tujuannya adalah mengampanyekan budaya jujur yang selama ini dianggap masih lemah di Indonesia. Budaya jujur dengan sendirinya akan membuat seseorang menahan diri dari melakukan korupsi. Karena itu, alih-alih membuat pesan langsung seperti misalnya ‘’Tidak Korupsi Hebat’’ KPK memakai logika sungsang dengan membalik message-nya menjadi ‘’Berani Jujur Hebat’’.

Dalam tradisi ilmu mantiq atau ilmu logika ada teknik pemahaman terhadap teks yang disebut sebagai ‘’mafhum mukholafah’’ atau pemahaman terbalik. Sesuatu pesan dipahami melalui pernyataan yang berseberangan. Berani jujur hebat berarti mafhum mukholafahnya ‘’berani korupsi brengsek’’. Untuk berlaku jujur dan bertindak korup sama-sama butuh keberanian nyali, karena itu KPK lebih mendorong orang untuk memakai keberanian untuk berlaku jujur daripada berlaku korup.

Pada Pemilu 2009, Partai Demokrat menampilkan diri sebagai partai anti-korupsi melalui iklan media yang sangat gencar dengan tagline ‘’Katakan Tidak pada Korupsi’’. Tagline itu menjadi sangat terkenal di kalangan publik karena selain message-nya jelas dan tegas para bintang iklannya juga dianggap sangat kredibel dan berpenampilan menarik. Angelina Sondakh, Putri Indonesia 2001 adalah salah satu daya utama karena cantik dan cerdas. Ada juga Eddy Baskoro Yudhoyono, putra Presiden SBY, ada Anas Urbaningrum, politisi muda yang disebut-sebut sebagai the next leader, ada Andi Mallarangeng yang muda, ganteng, pintar, dan kemudian menjadi menteri pemuda dan olahraga. Ada juga politisi muda Demokrat M. Nazarudin yang menjabat bendahara umum partai.

Siapa yang sungsang; Ngabalin bersama Jokowi

Semua berkata lantang, “Tidak!”. Pada iklan itu, Anas menggerakkan kedua tangannya seolah menangkis “rayuan” korupsi. Kata-kata dalam iklan itu pun cukup lugas, “Gelengkan kepala dan katakan ‘Tidak’. Abaikan rayuannya dan katakan ‘Tidak'”.

Yang terjadi kemudian benar-benar sungsang alias terbalik. Hampir semua bintang iklan itu terlibat korupsi dan diangkap KPK dan dipenjarakan. Anas Urbaningrum, Angelina Sondakh, Andi Mallarangeng, Nazaruddin, semuanya terbukti melakukan korupsi proyek pembangunan kompleks olahraga Hambalang. Bahkan Eddy Baskoro Yudhoyono pun disebut-sebut namanya dalam kasus itu. Beruntung Ibas selamat.

Pengamat politik J.B Kristiadi jengkel terhadap Partai Demokrat yang membuat blunder logika sungsang kampanye antikorupsi. Ia mengusulkan supaya Partai Demokrat melakukan tobat nasional lalu memasang iklan besar-besaran dengan mengganti tagline ‘’Katakan Tidak pada Korupsi’’ menjadi tagline baru ‘’Katakan Tobat pada Korupsi’’.

Plesetan lucu tapi mengena seperti ini sekarang coba diulangi lagi pada jargon KPK ‘’Berani Jujur Pecat’’. Banyak yang prihatin dan menganggap KPK sudah benar-benar terbalik  menjadi komisi pendukung korupsi. Busyro Muqoddas dengan tegas mengatakan KPK sudah mendekati ajal dengan pemecatan Novel Baswedan dan kawan-kawan. Yang terjadi di KPK sekarang benar-benar sungsang alias terbalik-balik, karena Novel dan kawan-kawan yang terkenal jujur dan berintegritas justru dicoret dari kepegawaian KPK setelah dinyatakan tidak lulus tes wawasan kebangsaan. Di era Jokowi sekarang KPK tamat, kata Busyro.

Ali Mochtar Ngabalin dengan berang menuduh Busyro Muqoddas berotak sungsang dengan pernyataannya itu. Ngabalin menganggap apa yang dilakukan Busyro mencederai Muhammadiyah sebagai organisasi dakwah yang fokus pada gerakan sosial dan pendidikan. Busyro Muqoddas, kata Ngabalin, tidak pantas menjadi ketua PP Muhammadiyah, dan lebih pantas menjadi ketua LSM atau ketua partai politik.

Rupanya, bagi Ngabalin, setiap orang yang kritis terhadap kebijakan pemerintah dianggap berotak sungsang. Istilah sungsang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti posisi yang terbalik, atas menjadi bawah dan bawah menjadi atas, dalam Bahasa Inggris disebut upside down. Atau bisa juga terbalik dalam memakai baju, dalam menjadi luar dan luar menjadi dalam. Dalam Bahasa Inggris disebut inside out. Sungsang juga dipakai untuk menggambarkan sesuatu yang terbalik, yang depan menjadi belakang, dan yang belakang menjadi depan. Seharusnya yang normal adalah kepala keluar duluan dalam persalinan bayi. Tapi yang keluar ternyata kaki duluan. Itulah bayi sungsang.

Urusan pelemahan KPK ini adalah masalah nasional yang sangat serius. Seharunya orang nomor satu di Republik ini  muncul dan hadir di depan untuk mengambil tanggung jawab. Tapi ternyata pemimpin itu hanya bersembunyi, dan yang muncul di depan adalah kaki tangannya.

Mungkin itulah salah satu indikasi pemimpin sungsang. (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.